www.trimegah.com

Investasi Saham Untuk Biaya Kesehatan Anak

Presenter yang akrab disapa Farhan itu nabung saham secara jangka panjang dimulai pada 1996. Saham pertamanya PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM). Belakangan semakin terasa ternyata sangat bermanfaat untuk biaya kesehatan anak.



Merencanakan Masa Depan

Yang Mesti Diketahui Bila Rencanakan Biaya Pendidikan lewat Reksa Dana

23-Jan-2017 10:04:44 WIB | Online | Share
Yang Mesti Diketahui Bila Rencanakan Biaya Pendidikan lewat Reksa Dana

investasiku.co.id - BAGI keluarga muda, biaya pendidikan anak adalah keniscayaan. Terlepas buah hati sudah hadir atau belum di tengah-tengah keluarga.

Merencanakan biaya pendidikan sejak dini merupakan langkah bijak. Selain wujud tanggung jawab dan rasa kepedulian terhadap anak di masa depan, merencanakan biaya pendidikan juga bagian dari perencanaan keuangan.

Hanya bagi sebagian keluarga muda, memikirkan masalah ini sering kali bermuara pada kegalauan. Galau karena bingung menentukan instrumen yang tepat.

Wajar galau mengingat urusan biaya pendidikan enggak boleh sembarangan. Di samping itu, orangtua juga enggak mau ambil risiko biaya pendidikan bakal bermasalah di kemudian hari.

Awalnya yang terpikir adalah memilih tabungan pendidikan atau asuransi pendidikan. Dua instrumen ini jamak dipilih orangtua untuk mengamankan dana yang hendak dipakai buah hati kelak.

Lalu apakah ada opsi lain? Pasti dong. Misalnya saja reksa dana. Bagi yang paham reksa dana, bisa jadi instrumen satu ini yang dipilih.

Mengapa? Alasannya karena imbal balik dari dana yang ditanamkan di reksa dana dipercaya lebih baik ketimbang tabungan pendidikan maupun asuransi pendidikan.

Oke awali dulu apa itu reksa dana. Sederhananya, para investor bersama-sama mengumpulkan uang untuk dikelola profesional sesuai kebijakan investasi yang telah disepakati.

(Baca: Keuntungan Berinvestasi Reksa Dana di Tahun 2016)

Profesional ini disebut Manager Investasi. Lantas penyimpanan dan pencatatan dananya dilakukan kustodian yang umumnya dari pihak bank.

Manager Investasi yang akan memutar uang investor tergantung dari kesepakatan di awal. Misalnya saja lewat saham, obligasi, pasar uang, dan lain sebagainya.

Pilihan kebijakan investasi yang sangat menentukan kinerja atau imbal hasilnya sekaligus risikonya. Katakanlah bila reksa dana saham bisa mencapai 50 persen.

Tapi produk itu berisiko tinggi karena sangat tergantung dari fluktuasi harga saham. Hanya kalau dirata-rata, dalam satu dekade kinerja saham di kisaran 15-30 persen. Bila mau main aman bisa pilih reksa dana obligasi maupun campuran.

Nilai lebih lain dari reksa dana adalah proses menyetorkan dananya yang terjangkau dan fleksibel.

Ketika lagi tongpes alias kantong kempes, investor tak wajib untuk berinvestasi. Beda dengan asuransi pendidikan atau tabungan pendidikan yang sifatnya rutin dalam jangka waktu tertentu.

Berikutnya adalah pencairan yang mudah. Ketika target dana yang dikehendaki sudah tercapai, maka bisa langsung bisa ditunaikan dengan proses administrasi maksimal tiga hari.

Lalu ketika Manager Investasi gagal mengelola dana investor, bagaimana risikonya?

Tenang saja. Risiko itu ditanggung Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Lembaga ini nantinya yang akan memerintahkan Manager Investasi untuk mengembalikan dana investor bila reksa dana bubar.

(Baca: Mengkalkulasi Reksa Dana yang Cocok untuk Beli Mobil)

Indikatornya bisa dilihat jika aset reksa dana sudah di bawah Rp 25 miliar selama 90 hari berturut-turut, maka di situlah OJK turun tangan. OJK bakal mewajibkan Manager Investasi menjual aset dan membagikannya kepada investor.

So, tetap aman kan. Meski peluang itu ada tapi hati tetap lega karena investor enggak merugi.

Other Articles


Copyright @ 2016 Investasiku.co.id, All Rights Reserved