www.trimegah.com

Investasi Saham Untuk Biaya Kesehatan Anak

Presenter yang akrab disapa Farhan itu nabung saham secara jangka panjang dimulai pada 1996. Saham pertamanya PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM). Belakangan semakin terasa ternyata sangat bermanfaat untuk biaya kesehatan anak.



Memahami Risiko

Untuk Diketahui, Berbagai Praktik Ini Dilarang di Pasar Saham

13-Feb-2017 10:38:43 WIB | Online | Share
Untuk Diketahui, Berbagai Praktik Ini Dilarang di Pasar Saham

investasiku.co.id - Baru-baru ini, Bursa Efek Indonesia (BEI) menganalisa pola transaksi saham pada menit akhir jelang penutupan Indeks harga saham gabungan (IHSG). Marking the Close dan Transaksi Semu merupakan dua praktik “permainan” saham yang rawan terjadi pada jam jelang penutupan pasar saham itu.

Pada momen itu memang terindikasi rawan terjadi praktik permainan harga saham yang seringkali mengorbankan pasar.

Momen dimaksud adalah fase pre closing. Apa itu? Jadi, pada jam perdagangan efek di pasar reguler yang berlaku di BEI saat ini terbagi dua bagian besar yaitu Pra Pembukaan (pre opening) dan Pra penutupan (pre closing) diikuti langsung dengan Pasca Penutupan (post trading) IHSG.


Pada fase pre closing itu IHSG mulai memasuki fase akhir penghitungan jelang ditutup. Pada momen ini, perusahaan sekuritas Anggota Bursa (AB) alias broker memasukkan penawaran jual dan atau permintaan beli.

Sistem perdagangan bursa yang disebut JATS Next-G kemudian melakukan proses pembentukan harga penutupan dan memperjumpakan penawaran jual dengan permintaan beli. Proritasnya adalah memertemukan pada harga penutupan berdasarkan price (harga) dan time priority.

Tapi, pada saat pre closing dalam sistem berlaku saat ini, masing-masing pihak tidak bisa melihat berapa harga dan jumlah suatu saham diminta atau ditawarkan.

Baru ketahuan ketika pre closing usai yaitu pada jam 16:00 dan langsung merupakan jam penutupan pasar saham.

Hasilnya seringkali mengagetkan. Tiba-tiba harga saham banyak berjatuhan pada momen itu dan akibatnya IHSG juga tergerus.

BEI bahkan melihat tren kejatuhan IHSG pada menit-menit akhir itu sebagai sesuatu yang tidak wajar. Sebab sering terjadi dalam tiga bulan terakhir.

Maka diindikasi ada pihak-pihak tertentu yang melakukan “permainan” pada momen pre closing sehingga BEI berkeinginan mengubah sistem perdagangan pada jam tersebut.

Padahal pre closing sebelumnya diciptakan memang untuk menangkal ulah para pelaku pasar “nakal”. Sebab sebelum ada aturan itu banyak kejadian IHSG sengaja dijatuhkan pada menit-menit akhir dengan tujuan tertentu.

Ternyata, dengan adanya pre closing pun praktik mengakali pasar tetap bisa dilakukan seiring kemajuan teknologi dan semakin terbacanya mekanisme penghitungan di bursa.

Marking the Close dan Transaksi Semu merupakan dua praktik “permainan” saham yang rawan terjadi pada jam jelang penutupan pasar saham itu.

Secara umum ayo kita kenali permainan seperti apakah itu? Permainan apalagi yang mungkin terjadi di pasar saham?

Transaksi Semu

Transaksi semu biasa juga disebut wash sale. Intinya transaksi yang terjadi antara penjual dan pembeli tidak mengakibatkan perubahan kepemilikan. Sebab biasanya antara penjual dan pembeli merupakan pihak yang sama menggunakan dua akun berbeda.

Tujuannya hanya untuk membentuk harga suatu saham, memancing perhatian pelaku pasar saham lainnya agar mengikuti keinginannya. Bisa dalam rangka menaikkan harga saham atau pun sebaliknya. Bisa juga sekadar memunculkan kesan bahwa saham tersebut aktif diperdagangkan.

Menciptakan Demand dan Supply Semu

Sedikit berbeda dengan transaksi semu, pada teknik ini biasa disebut pre-arrange trade. Secara teknis adalah sebuah transaksi yang terjadi melalui pemasangan order beli dan jual pada waktu hampir bersamaan.

Bisa begitu karena adanya perjanjian pembeli dan penjual yang sudah dilakukan sebelumnya. Tujuannya mirip dengan transaksi semu yaitu untuk membentuk harga sebuah saham baik naik, turun, atau bahkan supaya stagnan tapi ada kepentingan lainnya baik di dalam maupun di luar bursa.

Front Running

Pada kegiatan ini biasanya pelakunya adalah perusahaan sekuritas AB. Dia melakukan transaksi di awal atas suatu saham atau efek mendahului pihak lainnya.

Kenapa bisa begitu? Karena ada dasar informasi bahwa nasabahnya akan melakukan transaksi dalam volume besar atas saham atau efek tersebut dan diperkirakan bisa memengaruhi harga pasar.

Tujuannya tentu saja untuk meraih keuntungan.

Unusual Volume atau Value Transaction

Teknik ini biasa juga sebut alternate trade. Secara teknis biasanya merupakan transaksi sekelompok perusahaan sekuritas AB yang sudah berbagi peran. Ada yang menjadi pihak pembeli dan ada yang di pihak penjual.

Kemudian secara bergantian bertransaksi dengan volume yang sebisa mungkin oleh pelaku pasar lain atau dilihat bursa dalam tahap wajar.

Dampaknya, objek yang ditransaksikan misalnya saham WXYZ terlihat aktif meskipun harganya bisa saja menjadi stagnan, naik, atau turun.

Marking the Close

Definisinya, pembentukan harga penutupan. Caranya? Menempatkan order beli atau penawaran jual yang dilakukan di akhir jam perdagangan.

Tujuannya? Menciptakan harga penutupan atas suatu saham atau efek agar sesuai dengan kehendaknya. Dengan begitu, besoknya dia bisa menjalankan strategi lanjutannya.

Memang bisa juga hanya untuk mengesankan terjadinya perubahan harga atas suatu saham atau efek pada hari tersebut. Bisa agar tujuannya naik, bisa supaya terkesan turun, atau sekadar stagnan.

Sebenarnya masih ada beberapa praktik “curang” lainnya. Kita bahas lain waktu. Namun apapun itu, semua praktik di atas mendapat perhatian BEI sebagai regulator. Semuanya diawasi dan sebisa mungkin tidak terjadi. Jika ketahuan, sanksinya cukup berat.

Sebab praktik-praktik seperti itu menodai cita-cita terwujudnya pasar yang teratur, wajar, dan efisien. Cita-cita itu merupakan amanah Undang Undang Pasar Modal nomor 8 tahun 1995. Alat pengawasan BEI ada dalam Peraturan Perdagangan BEI nomor II-A Tentang Perdagangan Bersifat Ekuitas.

Other Articles


Copyright @ 2016 Investasiku.co.id, All Rights Reserved