www.trimegah.com

Investasi Saham Untuk Biaya Kesehatan Anak

Presenter yang akrab disapa Farhan itu nabung saham secara jangka panjang dimulai pada 1996. Saham pertamanya PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM). Belakangan semakin terasa ternyata sangat bermanfaat untuk biaya kesehatan anak.



Memahami Risiko

Situasi Ini Bikin Investasi Asing Betah di Saham dan Obligasi Dalam Negeri

15-May-2017 07:01:38 WIB | Online | Share
Situasi Ini Bikin Investasi Asing Betah di Saham dan Obligasi Dalam Negeri

Investasiku.co.id – Investor asing memerlihatkan agresivitas dalam berinvestasi di Indonesia. Di pasar saham maupun surat utang. Regulator meyakini itu salah satu tanda positifnya iklim investasi di dalam negeri.

Data Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat secara year to date sejak awal tahun sampai akhir pekan kemarin (12 Mei 2017) capital inflow alias aliran masuk dana investor asing hasil pembelian bersih di pasar saham sebesar Rp 28,127 triliun.

Investor asing dominan dalam posisi beli bersih bahkan pada saat Indeks harga saham gabungan (IHSG) bergerak negatif sekali pun. IHSG sendiri secara year to date sudah mencatatkan kenaikan sebesar 7,15 persen sampai 12 Mei 2017.

Baca : Lari Duluan, Salah Satu Karakteristik Pasar Saham

Di produk Surat Berharga Negara (SBN) juga sama. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengumumkan terjadi pembelian bersih oleh investor asing (foreign net buy) sebesar Rp 22,6 triliun secara year to date dan Ro 79,9 triliun secara year to month.

Pasar obligasi negara itu juga tercatat menguat ditandai oleh penurunan yield SBN di semua tenor dan tentu saja karena investor asing ramai berburu.

Rapat Dewan Komisioner (RDK) OJK pekan kemarin menilai bahwa stabilitas sektor jasa keuangan Indonesia hingga April dalam kondisi terjaga.

Baca Juga : Perlu Dipahami Dampak Saat Negara Surplus atau Defisit

Beberapa aspek seperti pertumbuhan ekonomi global diperkirakan membaik namun dengan arah perbaikan yang tidak merata. Perekonomian Advanced Economies (AE) khususnya AS dan Eropa dilihat semakin solid, sehingga meningkatkan ekspektasi berlanjutnya normalisasi kebijakan moneter.

Sementara itu, perekonomian Emerging Markets (EM) khususnya negara pengekspor komoditas diperkirakan masih terkendala terkait dengan proses rebalancing ekonomi Tiongkok.

Di tengah perkembangan tersebut, pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan I 2017 tercatat sedikit meningkat menjadi 5,01 persen dibandingkan periode sama tahun 2016. Dari sisi pengeluaran, perbaikan pertumbuhan ekonomi didorong oleh perbaikan kinerja eksternal seiring peningkatan ekspor yang didorong oleh kenaikan harga komoditas.

Dari sisi sektoral, sektor pertanian tumbuh signifikan, salah satunya disebabkan pergeseran panen raya. Sementara itu, laju inflasi April 2017 terlihat meningkat, tercatat sebesar 4,17 persen year on year.

Di sisi intermediasi lembaga jasa keuangan, perbaikan terus berlanjut. Kredit perbankan Maret 2017 tumbuh sebesar 9,24 persen secara year on year dan piutang pembiayaan tumbuh sebesar 8,45 persen.

Terlebih didukung peningkatan penghimpunan dana. Dana Pihak Ketiga (DPK) Perbankan per Maret 2017 tumbuh sebesar 10,02 persen year on year dan pendapatan premi asuransi Januari – Maret 2017 tercatat sebesar Rp 50,1 triliun atau meningkat sebesar 17,60 persen dari periode yang sama tahun 2016.

Penghimpunan dana melalui pasar modal juga meningkat. Pada periode Januari – April 2017 terdapat 36 emiten (dibandingkan Januari – April 2016 sebanyak 21 emiten) melakukan penghimpunan dana melalui pasar modal dengan nilai emisi sebesar Rp 46,2 triliun.

Dari 36 emiten yang melakukan penghimpunan dana, terdapat 8 emiten baru. OJK optimistis target 21 emiten baru di 2017 dapat tercapai.

Di tengah meningkatnya intermediasi keuangan, risiko Lembaga Jasa Keuangan (LJK) baik kredit, likuiditas, maupun pasar terpantau berada pada level yang manageable.

Risiko kredit terpantau stabil pada Maret 2017. Rasio kredit bermasalah alias Non-Performing Loan (NPL) gross dan net tercatat masing-masing sebesar 3,04 persen (Februari: 3,16 persen) dan 1,34 persen (Februari: 1,38 persen).

Sedangkan rasio Non-Performing Financing (NPF) perusahaan pembiayaan tercatat sedikit meningkat menjadi 3,16 persen (Februari: 3,03 persen).

OJK secara resmi mengumumkan bahwa pihaknya melihat proses pemulihan ekonomi global semakin solid dan akan berdampak positif pada sektor jasa keuangan.

OJK juga melihat masih ada ruang di sektor jasa keuangan untuk memacu pertumbuhan ekonomi domestik lebih jauh dengan memanfaatkan momentum perbaikan yang sedang berlangsung.

Meski begitu bukan berarti sudah tidak ada risiko. OJK tetap akan memantau isu di Eropa meskipun diperkirakan mulai reda. Perkembangan dari dalam negeri juga tetap paling utama untuk terus dipantau.

Foto : TradeArabia

Other Articles


Copyright @ 2016 Investasiku.co.id, All Rights Reserved