www.trimegah.com

Investasi Saham Untuk Biaya Kesehatan Anak

Presenter yang akrab disapa Farhan itu nabung saham secara jangka panjang dimulai pada 1996. Saham pertamanya PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM). Belakangan semakin terasa ternyata sangat bermanfaat untuk biaya kesehatan anak.



Memahami Risiko

Sip! Sentimen Untuk Investasi Semakin Kondusif

14-Jun-2017 01:16:40 WIB | Online | Share
Sip! Sentimen Untuk Investasi Semakin Kondusif

Investasiku.co.id – Sentimen positif untuk sektor keuangan Indonesia bertambah lagi. Setelah dapat rating investment grade alias layak investasi, International Monetary Fund (IMF) juga memberikan apresiasi dan bisa menjadi pendorong peningkatan iklim investasi.

Hasil asesmen IMF terhadap sektor keuangan Indonesia di tahun 2017 atau yang dikenal dengan Financial Sector Assessment Program (FSAP) secara umum menyatakan apresiasi terhadap keberhasilan negara kita dalam melaksanakan reformasi di sektor jasa keuangan sehingga kinerja makroekonomi dan stabilitas sistem keuangan dapat terjaga dengan baik.

Pengumuman FSAP itu bahkan langsung disambut pernyataan bersama Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia (BI), Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) pada Selasa (13 Juni 2017), di Jakarta.

Hasil asesmen itu dimuat dalam Financial System Stability Assessment (FSSA) 2017 dan dibahas dalam pertemuan Dewan Direktur (Executive Board) IMF di Washington DC pada 24 Mei 2017, serta telah dipublikasikan pada website IMF pada 12 Juni 2017.


FSAP Indonesia pada tahun 2016 – 2017 merupakan pelaksanaan kedua setelah periode 2010, sejalan dengan komitmen Indonesia sebagai anggota G-20 dan Financial Stability Board (FSB), untuk melaksanakan asesmen FSAP secara rutin.

Tim FSAP yang terdiri dari IMF dan World Bank (Bank Dunia) telah melakukan asesmen stabilitas dan perkembangan sektor keuangan Indonesia secara komprehensif melalui berbagai diskusi dengan Pemerintah dan otoritas terkait serta lembaga-lembaga lain. Di antaranya seperti industri jasa keuangan, konglomerasi keuangan, asosiasi industri jasa keuangan, lembaga remitansi, lembaga financial technology, firma hukum, PPATK, lembaga penegak hukum dan akademisi.

Sesuai hasil pertemuan Executive Board Meeting, para Direktur Eksekutif IMF menghargai keberhasilan Indonesia dalam menjaga kondisi makroekonomi dan stabilitas sistem keuangan Indonesia, di tengah kondisi perekonomian global yang kurang menggembirakan.

Sistem keuangan dinyatakan memiliki risiko sistemik yang rendah dan telah berhasil melalui krisis keuangan global. Sistem perbankan terjaga kesehatannya serta memiliki kecukupan modal dan likuiditas yang sangat memadai.

Bahkan hasil stress test yang dilakukan otoritas dan perbankan secara periodik menunjukkan sektor perbankan tetap dapat bertahan meskipun dalam tekanan yang besar.

Kondisi tersebut terutama didukung oleh banyaknya kemajuan yang telah dicapai oleh Indonesia sejak dilaksanakannya FSAP pertama tahun 2010, di antaranya penguatan pengawasan sektor keuangan, jaring pengaman keuangan dan protokol manajemen krisis, serta pendalaman pasar keuangan dan inklusi keuangan.

Sejak FSAP terakhir, otoritas telah menerapkan kerangka permodalan Basel III dan Undang-Undang Asuransi yang baru, serta meningkatkan kualitas pelaksanaan pengawasan lintas sektoral. Selain itu, pengembangan dan penguatan kerangka makroprudensial juga telah dilakukan melalui pengembangan alat analisis untuk menilai risiko sistemik serta implementasi sejumlah instrumen kebijakan makroprudensial.

Indonesia juga telah mengeluarkan Undang-Undang yang secara khusus bertujuan untuk pelaksanaan, pencegahan dan penggulangan krisis sistem keuangan (UU Pencegahan dan Penanganan Krisis Sistem Keuangan/ UU PPKSK).

Dengan hasil asesmen yang positif, para Direktur Eksekutif IMF mendorong otoritas untuk mengimplementasikan rekomendasi atas beberapa isu yang perlu mendapat perhatian otoritas dalam rangka melanjutkan penguatan sektor keuangan serta meningkatkan pendalaman pasar keuangan dan inklusi.

Ke depan, Kementerian Keuangan, BI, OJK, dan LPS secara bersama-sama menyampaikan komitmen untuk tetap menjaga stabilitas sistem keuangan dan pertumbuhan ekonomi, dan mengharapkan hasil asesmen atas sektor keuangan Indonesia tersebut tidak saja semakin menumbuhkan kepercayaan masyarakat domesik dan internasional terhadap kondisi perekonomian Indonesia namun juga dapat menjadi angin segar bagi negara-negara lain di tengah kondisi perekonomian global yang masih belum pulih pasca krisis 2008.

Baca Juga : Pasar Saham Tancap Gas Usai Indonesia Naik Level Investment Grade

Perbankan Positif

Pada hari yang sama, 13 Juni 2017, Moody's Investors Service juga mengirimkan pesan menggembirakan setelah mengubah pandangannya terhadap sistem perbankan Indonesia menjadi “positif” dari sebelumnya “stabil”. Itu mencerminkan pandangan mereka bahwa industri perbankan menghadapi perbaikan dalam aspek operasional, kualitas aset, dan kapasitas pemerintah untuk memberikan dukungan bila diperlukan.

”Bank-bank di Indonesia akan mendapat keuntungan dari membaiknya kondisi operasi dalam 12 sampai 18 bulan mendatang, seiring dengan pertumbuhan ekonomi yang meningkat. Mendukung kebijakan makroekonomi dan pasar yang lebih kuat untuk komoditas utama negara ini,” kata Srikanth Vadlamani, Wakil Presiden dan Senior Credit Officer Moody's.

”Skenario dasar kami mengasumsikan pertumbuhan PDB (Produk Domestik Bruto) riil di Indonesia sebesar 5,2 persen pada 2017 dan 5,3 persen di tahun 2018, dibandingkan dengan 5,0 persen di tahun 2016,” Vadlamani menambahkan.

Penilaian Moody’s terhadap sistem perbankan Indonesia didasarkan pada lima faktor: lingkungan operasi (perbaikan); Kualitas aset dan modal (Membaik / stabil); Pendanaan dan likuiditas (stabil); Profitabilitas dan efisiensi (improvement); Dan dukungan sistemik (perbaikan).

Lalu bagaimana pasar merespon kabar baik tersebut? Pasar saham bergerak positif. Pada penutupan perdagangan 13 Juni 2017 Indeks harga saham gabungan (IHSG) kembali ke level psikologis 5.700 setelah ditutup menguat 16,209 poin (0,285 persen) ke level 5.707,645.

Baca Lagi: Lari Duluan, Salah Satu Karakteristik Pasar Saham

Nilai kapitalisasi pasar saham naik menjadi Rp 6.222 triliun. Sebaliknya, pada hari itu, investor asing justru melakukan penjualan bersih sebesar Rp 168,7 miliar di pasar saham Indonesia.

Mungkin investor asing memilih melakukan aksi jual sementara karena melihat nilai tukar Rupiah justru sedikit melemah ke level 13.294 per dolar Amerika Serikat (USD) pada Selasa (13/06) dibandingkan 13.292 per USD pada hari sebelumnya (kurs Tengah BI).

Bagaimanapun, sentiment positif yang datang baru-baru ini menjadi angin segar bagi investasi di Indonesia. Terutama di pasar modal. Yuk, jadikan ini momen tepat untuk memulai atau bahkan meningkatkan investasi demi masa depan baik di saham secara langsung maupun melalui produk reksa dana.

Foto: entrepreneur.com/creditcards.com

Other Articles


Copyright @ 2016 Investasiku.co.id, All Rights Reserved