www.trimegah.com

Investasi Saham Untuk Biaya Kesehatan Anak

Presenter yang akrab disapa Farhan itu nabung saham secara jangka panjang dimulai pada 1996. Saham pertamanya PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM). Belakangan semakin terasa ternyata sangat bermanfaat untuk biaya kesehatan anak.



Cerita Investasiku

Simak Kata Faisal Basri Tentang Situasi Positif Untuk Investasi

24-Mar-2017 10:09:57 WIB | Online | Share
Simak Kata Faisal Basri Tentang Situasi Positif Untuk Investasi

investasiku.co.id - Perkembangan makro ekonomi, situasi politik, dan sosial, sangat berkaitan dengan iklim dan potensi investasi. Yuk simak pandangan ekonom, Faisal Basri, yang menilai secara umum berbagai indikator penting itu akan positif sehingga tidak perlu ragu memulai investasi khususnya di pasar modal Indonesia.

Dari makro ekonomi, tantangan Indonesia tahun 2017 masih pada potensi tidak tercapainya target pajak (short fall) yang diperkirakan sebesar Rp 141 triliun. Tapi pemerintah sebenarnya punya langkah lain untuk menutupi kekurangan itu.

Setidaknya ada empat cara yang disebut pria bernama asli Faisal Batubara itu. Pertama, defisit anggaran dinaikkan ke level 2,8 sampai 2,9 agar dapat tambahan dana sebesar Rp 54 triliun. Caranya? Bisa melalui penerbitan surat utang negara baru.

Toh, kata dia, rasio utang pemerintah terhadap Gross Domestic Product (GDP) masih rendah. Per Desember 2015 saja ada di kisaran 27 persen dan termasuk kelompok terendah di atas Rusia sebesar 17,9 persen. Bandingkan dengan Jepang yang mencapai sekitar 270 persen!


Baca juga: Perlu Dipahami Dampak Saat Negara Surplus Atau Defisit

Kedua, lelang frekuensi jaringan telekomunikasi. Hal tersebut sudah memungkinkan untuk dilakukan dan menurut perhitungannya bisa menambah pendapatan negara sekitar USD 8 miliar atau sekitar Rp 106,64 triliun (kurs 13.330). ”Lalu yang nunggak-nunggak frekuensi itu ditagih segera karena jumlahnya juga besar,” ucapnya di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (23/03).

Ketiga, menunda proyek infrastruktur yang belum urgent ke tahun 2018 atau 2019. Salah satunya proyek Light Rail Transit (LRT) yang dikerjakan PT Adhi Karya Tbk (ADHI) karena skema pembiayaannya belum jelas.

Termasuk juga proyek infrastruktur lain yang belum pasti sumber pendanaannya dari mana. ”Daripada membebani, mencekik perusahaan BUMN (Badan Usaha Milik Negara) nanti malah jadi tidak karuan. Toh tahun depan juga bisa,” tegas pria kelahiran Bandung, 6 November 1959, itu.

Keempat, memberikan kebebasan berkreativitas bagi perusahaan BUMN yang membutuhkan dana untuk secara mandiri mencari sumber dana lain di luar dari suntikan modal dari negara. ”Suruh berbenah lalu terbitkan obligasi atau IPO (penawaran saham perdana),” kata dia.

Jika itu dilakukan, Faisal optimistis makro ekonomi akan berjalan positif dengan proyeksi pertumbuhan sebesar 5,1 persen pada 2017.

Baca Juga: Perhatian Untuk Para Pemilik Obligasi, Inflasi Berpotensi Naik

Toh dari faktor politik dan sosial dia menilai Indonesia relatif kondusif. ”Kita sudah teruji selesaikan perbedaan-perbedaan dengan cara demokratis. Tidak ada itu bahaya bawah tanah seperti di Eropa tiba-tiba ada orang di bandara menembak,” kata dia.

Memang rating Indonesia seperti sempat dijanjikan lembaga pemeringkat Standar & Poor’s (S&P) akan menjadi Investment Grade belum juga diraih. Padahal lembaga itu sempat menyebut rating tertinggi itu akan diraih jika Indonesia berhasil memangkas subsidi terhadap Bahan Bakar Minyak (BBM).

Ketika pemerintahan di bawah presiden Jokowi merealisasikannya, ternyata rating itu belum juga diterima. ”Mungkin dia pelit kasih rating. Padahal kita sudah jungkir balik mengatasi persoalan itu,” sesalnya.


Tapi Faisal meyakini rating bukan satu-satunya pertimbangan investasi. sebelum rating Indonesia sebaik sekarang saja, menurutnya, investor asing sudah berbondong-bondong masuk ke pasar modal Indonesia.

Pertimbangannya, pertumbuhan ekonomi Indonesia stabil, situasi politik dan sosial kondusif, keuntungan investasi baik di saham, obligasi negara, obligasi korporasi, dan lainnya juga termasuk tertinggi secara global.

Sambil melihat investor asing berdatangan, Faisal berharap pemerintah mulai gunakan pasar modal untuk pemerataan kekayaan kepada masyarakat. ”Sekarang kan katanya ketimpangan terjadi karena 80 persen kekayaan dimiliki segelintir konglomerat. Tapi saya lihat itu bukan dari sektor finansial,” ungkapnya.

Ketimpangan terjadi lebih karena konglomerat memiliki kekayaan dalam bentuk aset lainnya seperti penguasaan tanah, emas, dan lainnya. ”Sudah begitu tanahnya itu juga banyak yang mengendap, tidak diapa-apakan,” ucap Faisal.

Maka sebaiknya pemerintah mulai melakukan distribusi kekayaan negara dengan cara, misalnya, PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) melakukan IPO lalu sahamnya ditawarkan kepada para pelanggan. Begitu juga perusahaan negara lainnya.

Dengan begitu, masyarakat menjadi bagian dari pemilik aset negara. Keuntungan lainnya, perusahaan – perusahaan negara itu tata kelolanya menjadi lebih baik karena kena kewajiban melapor perkembangan kinerja perusahaan kepada publik melalui bursa per tiga bulan.

”Negara China yang katanya komunis saja itu pakai instrumen pasar modal! Di sana sejenis Pertamina-nya ada empat dan listing di bursa semua. Bahkan di New York Stock Exchange (bursa Amerika Serikat) dia datangi. Ok kita mau contoh cari negara islam? Saudi Aramco? Dia saja mau diprivatisasi kok,” tegasnya.

Other Articles


Copyright @ 2016 Investasiku.co.id, All Rights Reserved