www.trimegah.com

Investasi Saham Untuk Biaya Kesehatan Anak

Presenter yang akrab disapa Farhan itu nabung saham secara jangka panjang dimulai pada 1996. Saham pertamanya PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM). Belakangan semakin terasa ternyata sangat bermanfaat untuk biaya kesehatan anak.



Mengenal Produk Investasi

Seperti Ini Perbedaan Papan Utama dengan Papan Pengembangan Saham

12-May-2017 11:42:48 WIB | Online | Share
Seperti Ini Perbedaan Papan Utama dengan Papan Pengembangan Saham

Investasiku.co.id – Bursa Efek Indonesia (BEI) memiliki dua papan tempat pencatatan saham yaitu Papan Pengembangan (Development Board) dan Papan Utama (Main Board). Apa perbedaannya? Kenapa juga harus dipisahkan padahal sama-sama tercatat dan memiliki kode saham? Kita bahas di sini.

Baru-baru ini, tepatnya pada 10 Mei 2017, secara resmi BEI menerima pencatatan saham perdana dua emiten baru yaitu PT Pelayaran Tamarin Samudra Tbk (TAMU) dan PT Cahaysakti Investindo Sukses Tbk (CSIS). Keduanya dicatatkan di papan pengembangan BEI sebagai emiten baru ke 6 dan ke 7 di tahun 2017.

TAMU lepas harga perdana pada Rp 110 per saham, meraih dana Rp 82,5 miliar dari hasil Initial Public Offering (IPO) itu dan mencatatkan nilai kapitalisasi pasar sahamnya sebesar Rp 412,5 miliar. Sedangkan CSIS menawarkan harga perdana Rp 300 per saham, meraih dana segar Rp 62,1 miliar, dan mencatatkan nilai kapitalisasi pasar saham sebesar Rp 392,1 miliar.

Baca: IPO, Go Public, dan Tbk

Saham perusahaan masuk papan pengembangan sebenarnya bukan menunjukkan perusahaan itu berkinerja kurang baik. Itu hanya satu proses dan mekanisme yang ditetapkan oleh BEI untuk memisahkan dengan saham perusahaan berkriteria lainnya.

Nah! Kriteria apa yang dimaksud? Secara garis besar bisa dilihat perbedaan antara papan pengembangan dan papan utama pada grafis di bawah ini:


Dari grafis terlihat bahwa ada beberapa kriteria cukup prinsip terutama berkaitan dengan ukuran (size) perusahaan dan daya jangkau bagi investor. Memang, bagi BEI, pemisahan papan itu juga salah satu pertimbangan utamanya adalah untuk kepentingan investor dan pasar secara umum.

Misalnya, saham yang masuk papan utama jumlah pemegang sahamnya harus lebih dari 1000 (seribu) pihak. Sedangkan di papan pengembangan, minimal sebanyak 500 (lima ratus) pihak.

Baca juga : Batas Minimal Saham Beredar dan Saham Gorengan

Masa operasional perusahaan juga berbeda. Penghuni papan utama minimal berusia 36 bulan sedangkan di papan pengembangan minimal 12 bulan.

Kemudian laporan keuangan diaudit minimal 3 tahun dengan predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP). Sedangkan penghuni papan pengembangan boleh rugi (paling lambat profit pada tahun ke 2 setelah listing berdasarkan proyeksi).

Dari sisi permodalan, penghuni papan utama harus memiliki aktiva berwujud bersih minimal Rp 100 miliar sedangkan papan pengembangan boleh aktiva berwujud bersihnya minimal Rp 5 miliar. Seperti apa aktiva berwujud bersih dimaksud?

Yaitu total aset dikurangi nilai aset tak berwujud, aset pajak tangguhan, total liabilitas, dan kepentingan non pengendali.

Saat ini, di pasar saham Indonesia terdapat 546 saham emiten yang masuk dalam penghitungan Indeks harga saham gabungan (IHSG). Sebanyak 281 saham di antaranya ada di papan utama dan sebanyak 265 saham lainnya di papan pengembangan.

Sekali lagi, bukan berarti saham yang ada di papan pengembangan tidak bagus. Itu hanya sebagai tahapan saja dan bahkan bisa menjadi peluang. Sebab perusahaan sekelas PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) saja dulunya bermula dari papan pengembangan.

Regulator, terutama Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebenarnya ingin menambah satu papan lagi yaitu papan untuk saham perusahaan sekelas Usaha Kecil Menengah (UKM) dan terutama yang masuk kategori Startup (perusahaan rintisan).

Baca Lagi : Mengenal SRO di Pasar Modal

Sebab saat ini BEI sudah memiliki satu wadah pendadaran untuk perusahaan pemula itu bernama IDX Incubator.

Sejalan dengan IDX Incubator itu revisi aturan penawaran umum (IPO) untuk perusahaan kecil dan menengah sedang dalam tahap finalisasi.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Nurhaida, mengatakan berdirinya wadah khusus untuk perusahaan startup atau selevel Usaha Kecil dan Menengah (UKM) merupakan bagian dari cita-cita OJK. ”Bisa membantu UMKM, UKM, untuk menjadi perusahaan besar yaitu perusahaan Tbk,” ucapnya, saat peresmian IDX Incubator belum lama ini.

Sejauh ini, masalah utama dari perusahaan rintisan dan UKM adalah permodalan. Selain itu persoalan Sumber Daya Manusia (SDM). Permodalan sebenarnya bisa diraih jika SDM mumpuni.

Atas dasar itu IDX Incubator lebih menekankan bagaimana pelaku startup selevel UKM itu memiliki kemampuan lebih dalam mengelola bisnisnya. Beberapa program yang akan diberikan antara lain berupa pelatihan (training), bimbingan (mentoring), akses pendanaan (funding access), serta penyelenggaraan acara (event) yang berkaitan dengan startup.

Setelah itu IDX Incubator akan membuka akses terhadap permodalan, salah satunya dengan cara go public alias Initial Public Offering (IPO). ”Ada lagi langkah yang harus dilakukan. Apakah mereka bisa masuk papan reguler. Nah harus ada papan (saham) UKM,” terusnya.

Saat ini di bursa hanya ada dua papan saham yaitu papan reguler dan papan pengembangan. ”Tapi dua ini masih belum cocok untuk UKM. Nah di situ kita mencoba untuk melihat selanjutnya,” Nurhaida meyakinkan.

Membawa startup dan UKM ke pasar modal bisa melalui aturan Bapepam LK (OJK) nomor IX.C.7 Tentang Pedoman Mengenai Bentuk dan Isi Pernyataan Pendaftaran Dalam Rangka Penawaran Umum oleh

Perusahaan menengah atau kecil. Aturan itu sedang direvisi salah satunya terkait definisi perusahaan skala kecil dan menengah.

Nantinya skala kecil dan menengah itu perlu dibedakan dengan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). ”Skala kecil menengah itu adalah perusahaan dengan aset di bawah Rp 50 miliar. Kemudian antara Rp 50 miliar sampai Rp 100 miliar adalah skala menengah,” terusnya.

Dalam peraturan IX.C.7, perusahaan kecil dan menengah adalah badan hukum yang didirikan di Indonesia dengan jumlah kekayaan (total aset) tidak lebih dari Rp 100 miliar. Perusahaan skala ini berhak melakukan penawaran umum tidak lebih dari Rp 40 miliar.

”Dengan batasan lebih kecil, kita kasih penyederhanaan-penyederhanaan jadi memudahkan untuk masuk ke pasar modal,” ujarnya.

Direktur Utama BEI, Tito Sulistio, berharap startup saat ini kelak menjadi konglomerasi baru di Indonesia. Maka melalui IDX Incubator mereka diajak berkenalan dengan dunia bisnis sebenarnya. Produk mereka diperkenalkan di situ. ”Seperti di Swedia tempat lahirnya Skype. Kita harus melakukan dan memulainya, kalau tidak ya tidak jadi terus,” tegasnya.

Terlebih jumlah bisnis startup di Indonesia diperkirakan oleh salah satu lembaga riset akan tumbuh hingga 6,5 kali lipat menjadi sekitar 13.000 perusahaan pada 2020. Pada 2016, Indonesia tercatat sebagai negara yang memiliki jumlah startup tertinggi di Asia Tenggara, yakni sekitar 2.000 perusahaan.

Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Infomatika telah mencanangkan target Gerakan Nasional 1.000 Startup Digital atau mencetak sekitar 1.000 startup dengan kategori unicorn atau valuasi sebesar USD 1 miliar pada 2020.

Perkembangan industri digital saat ini akan sangat berpengaruh terhadap PDB Indonesia. Jika target nilai e-commerce di tahun 2020 tercapai hingga Rp 130 triliun maka akan berdampak pada PDB menjadi 9 persen.

Other Articles


Copyright @ 2016 Investasiku.co.id, All Rights Reserved