www.trimegah.com

Investasi Saham Untuk Biaya Kesehatan Anak

Presenter yang akrab disapa Farhan itu nabung saham secara jangka panjang dimulai pada 1996. Saham pertamanya PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM). Belakangan semakin terasa ternyata sangat bermanfaat untuk biaya kesehatan anak.



Merencanakan Masa Depan

Saatnya Perbanyak Investasi Sebab Situasi Pensiun Sulit Diprediksi

29-Jun-2017 23:05:50 WIB | Online | Share
Saatnya Perbanyak Investasi Sebab Situasi Pensiun Sulit Diprediksi

Investasiku.co.id – Positif thinking terhadap masa depan memang baik tapi keadaan hari esok tidak pernah bisa kita ketahui. Atas dasar itu lah jika dari sisi finansial, manusia hanya bisa berusaha salalah satu cara terbaik adalah dengan berinvestasi.

Kehidupan memang dinamis. Dunia selalu berubah. Itu pula hasil riset (Global Report) dari HSBC terbaru bertajuk The Future of Retirement; Shifting Sands. Riset dilakukan antara sekitar November 2016 sampai Januari 2017 di 16 negara dan kawasan, termasuk salah satunya Indonesia.

Dunia berubah dan persiapan masa pensiun pun ikut berubah. Begitu bunyi dari riset tersebut. Perubahan politik, sosial, ekonomi, dan teknologi memiliki dampak signifikan pada bagaimana orang melihat prospek pensiun mereka.

Populasi yang menua dan meningkatnya utang nasional mengurangi kepercayaan pada kemampuan ekonomi di seluruh dunia untuk terus mendukung orangtua. Secara keseluruhan, 65 persen dari hasil study itu menyatakan orang usia kerja prihatin dengan menurunnya uang pensiun atau penyediaan sosial negara dan 64 persen tentang meningkatnya jumlah orangtua yang membutuhkan dana pensiun atau dukungan.

Sekitar dua pertiga (66 persen) setuju bahwa tingkat utang nasional berarti tidak akan ada dukungan untuk orang tua. Hampir seperempat (24 persen) orang usia kerja percaya pensiun negara tidak akan ada lagi saat mereka pensiun dan pandangan ini lebih umum terjadi di antara generasi milenium (26 persen) dibandingkan Baby Boomers (17 persen).

Baca : Kalian Para Gen Z Saatnya Atur Uang Demi Masa Depan

Dari sisi ekonomi, riset HSBC itu juga menyebut 68 persen orang usia kerja prihatin dengan dampak ketidakpastian ekonomi terhadap kemampuan mereka untuk menabung untuk masa pensiun. Sebesar 61 persen mengatakan akan lebih sulit untuk menghemat masa pensiun yang nyaman setelah krisis keuangan 2007/20088.

Mayoritas (62 persen) juga prihatin tentang apakah skema pensiun perusahaan mereka akan dapat membayar secara penuh.

Suku bunga rendah secara jangka panjang (lower for longer) juga membuat situasi lebih sulit untuk menghemat waktu pensiun yang nyaman. Setengah (50 persen) orang usia kerja berpikir bahwa suku bunga rendah berarti mereka perlu bekerja lebih lama, sementara 48 persen mengatakan bahwa mereka memerlukan tingkat suku bunga untuk naik jika harus cukup menabung agar merasa nyaman dalam masa pensiun.

Baca Lagi : Begini Cara Pengelola Dana Pensiun Berinvestasi

Biaya Kesehatan

Pikirkan juga tentang pentingnya ongkos kesehatan di masa mendatang. Sebab dari riset tersebut menyatakan meningkatnya biaya perawatan kesehatan merupakan isu penting lainnya.

Sebesar 77 persen orang usia kerja percaya bahwa pensiunan harus membelanjakan lebih banyak untuk biaya kesehatan di masa depan. Sebesar 25 persen orang usia kerja khawatir tentang ketersediaan dan keterjangkauan layanan kesehatan.

Lebih banyak di Singapura (50 persen) dan Hong Kong (46 persen) prihatin tentang hal itu daripada di Argentina (8 persen), Perancis (11 persen) dan Meksiko (12 persen).

Perubahan dalam lanskap pensiun itu lah yang memaksa orang harus menyesuaikan harapan mereka untuk masa pensiun. Berdasarkan bagaimana tabungan pensiun mereka berkembang, hanya 34 persen orang usia kerja di seluruh dunia berpikir bahwa mereka akan merasa nyaman secara finansial saat pensiun.

Orang-orang di India (69 persen) dan Indonesia (61 persen) paling mungkin memikirkan hal ini sebaliknya di Perancis (10 persen) serta Australia (21 persen) kemungkinannya paling kecil.

Baca Lagi: Ibarat Sedia Payung Sebelum Tua

Dinamika Menyulitkan Prediksi

Perubahan yang terjadi membuat situasi lebih sulit untuk merencanakan masa depan. Sebanyak 44 persen orang usia kerja percaya bahwa banyak hal berubah sehingga rencana pensiun mereka tidak akan berlaku pada saat mereka pensiun.

Lebih dari seperempat (27 persen) belum mulai menabung untuk masa pensiun. Sehubungan dengan itu, sebesar 58 persen orang usia kerja mengatakan bahwa mereka akan terus bekerja sampai batas tertentu dalam masa pensiun.

Sebesar 70 persen orang usia kerja menyatakan bersedia menunda pensiun mereka selama dua tahun atau lebih untuk mendapatkan penghasilan pensiun yang lebih baik. Sebesar 42 persen akan bekerja lebih lama atau mendapatkan pekerjaan kedua untuk memertahankan tabungan mereka untuk masa pensiun.

Baca Ini: Saran dari Jack Ma Soal Persiapan Usia Senja

Negara-negara Asia dan Eropa berbeda dalam kesediaan mereka untuk menunda masa pensiun. Di antara orang-orang usia kerja yang memiliki usia pensiun, banyak di India (82 persen), Hong Kong (80 persen), Singapura, Taiwan dan Indonesia (semua 79 persen) bersedia menunda masa pensiun mereka selama dua tahun atau lebih.

Rata-rata, orang usia kerja di seluruh dunia berharap untuk pensiun pada usia 61 dan berharap untuk hidup sampai usia 81, yang mengakibatkan pensiun selama 20 tahun.

China, Argentina dan Kanada adalah negara-negara di mana orang-orang usia kerja berharap memiliki masa pensiun terpanjang (24, 23 dan 23 tahun), sementara di Mesir, India dan UEA mengharapkan waktu terpendek (4, 12 dan 15 tahun).

Dari Mana Uang Untuk Masa Pensiun?

Pada saat volatilitas ekonomi berlanjut, properti sejauh ini dipandang sebagai cara menabung yang baik untuk masa pensiun. Sebesar 47 persen orang usia kerja berpikir bahwa hal tersebut memberikan keuntungan terbaik.

Hampir sebanding dengan 38 persen untuk penghematan tunai, 29 persen untuk saham, 22 persen untuk program pensiun pribadi, 20 persen untuk skema pensiun perusahaan, dan sebesar 13 persen untuk obligasi pemerintah atau obligasi korporasi.

Tapi itu pun belum sepenuhnya tercermin dalam rencana pensiun sebab hanya 10 persen orang usia kerja yang mengharapkan properti untuk membantu mendanai pensiun mereka. Sebesar 48 persen mengharapkan skema pensiun pengusaha menjadi sumber pendanaan, penghematan uang tunai sebesar 39 persen, dana pensiun negara atau jaminan sosial sebesar 37 persen, dan saham sebesar 18 persen.

Hasil riset menunjukkan, dengan tingkat suku bunga di posisi terendah dalam sejarah, 47 persen orang usia kerja berpikir bahwa mereka perlu memindahkan uang mereka dari tabungan menjadi investasi.

Ambil Keputusan

Rata-rata, Millennials mulai menabung untuk masa pensiun pada usia 26 tahun. Namun sebesar 32 persen dari generasi milenium itu belum mulai menabung untuk masa pensiun, dibandingkan dengan 25 persen Generasi X dan 21 persen dari Baby Boomers.

Millenial lebih cenderung mengambil risiko investasi daripada generasi lainnya, dengan sebesar 39 persen sangat bersedia melakukan investasi berisiko untuk memastikan stabilitas keuangan mereka. Bandingkan dengan 33 persen di Generasi X dan 22 persen dari Baby Boomers.

Sebesar 65 persen generasi milenium siap mengurangi pengeluaran mereka saat ini untuk menghemat, dibandingkan dengan 59 persen Generasi X dan 54 persen Baby Boomers.

Proporsi generasi milenium yang lebih tinggi secara aktif mencari informasi untuk memandu keputusan keuangan mereka (61 persen, dibandingkan dengan Generasi X sebesar 56 persen, dan Baby Boomers 50 persen), dan secara aktif memindahkan uang mereka untuk memeroleh return (imbal hasil) terbaik dari investasi (sebesar 51 persen, dibandingkan dengan Generasi X sebesar 45 persen, dan Baby Boomers 39 persen).

Other Articles


Copyright @ 2016 Investasiku.co.id, All Rights Reserved