www.trimegah.com

Investasi Saham Untuk Biaya Kesehatan Anak

Presenter yang akrab disapa Farhan itu nabung saham secara jangka panjang dimulai pada 1996. Saham pertamanya PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM). Belakangan semakin terasa ternyata sangat bermanfaat untuk biaya kesehatan anak.



Mengenal Produk Investasi

Produk Ini Mengubah Aset Beku Menjadi Likuid

1-Feb-2017 16:09:44 WIB | Online | Share
Produk Ini Mengubah Aset Beku Menjadi Likuid

Investasiku.co.id - Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset (KIK EBA) boleh dibilang memang belum terlalu populer.

Masih banyak yang belum mengenal salah satu produk investasi itu.

Padahal KIK EBA termasuk produk yang cukup menarik dan menjadi salah satu harapan tujuan investasi belakangan ini.

Terutama terkait dengan program pengampunan pajak (tax amnesty) dari pemerintah.

Maka tidak heran jika baru-baru ini Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai regulator memuat KIK EBA yang merupakan produk sekuritisasi itu dalam sebuah peraturan khusus yang disiapkan dalam rangka menyambut tax amnesty.

Tertuang dalam Peraturan OJK nomor 26/POJK.04/2016 tentang Produk Investasi di Bidang Pasar Modal Dalam Rangka Mendukung Undang Undang Tentang Pengampunan Pajak.

Pada intinya, dalam peraturan yang dirilis 20 Juli 2016 itu dibuat penyederhanaan dokumen dalam Pernyataan Pendaftaran KIK EBA, Kontrak Investasi Kolektif Efek Dana Investasi Real Estate (DIRE), Efek Beragun Aset Berbentuk Surat Partisipasi (EBA SP), sehingga Manajer Investasi dan Bank Kustodian dapat menyiapkan produk investasi dalam waktu yang selaras dengan batasan waktu pada Undang-Undang tentang Pengampunan Pajak.

Di pasar global, dalam bahasa Inggris KIK EBA dikenal dengan sebutan Asset-backed security.

Secara umum adalah sekumpulan efek (surat berharga) baik aset keuangan berupa tagihan yang timbul dari surat berharga komersial (kartu kredit, pemberian kredit baik Kredit Pemilikan Rumah (KPR), kredit kendaraan) maupun bersifat utang yang dijamin pemerintah dan arus kas.

Kemudian kreditur awal (originator) itu mengumpulkan asetnya dalam satu kesatuan (kolektif) untuk kemudian dialihkan kepada para pemegang EBA.

Pada pokoknya KIK EBA itu merupakan langkah transformasi dari aset tidak likuid menjadi likuid. Aset likuidnya apa? Uang yang bisa digunakan untuk melanjutkan bisnis terutama untuk menyalurkan kredit kepada masyarakat lagi.

Contoh terdekat adalah berita seperti ini:

Pada 9 November 2016, PT Sarana Multigriya Finansial (SMF) resmi mencatatkan efek beragun aset berbentuk surat partisipasi (EBA-SP) senilai Rp 1 triliun di Bursa Efek Indonesia (BEI).

EBA-SP dicatatkan itu merupakan hasil kerjasama SMF dengan PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) sehingga diberi nama SMF-BTN02.

Surat partisipasi tersebut terdiri atas dua kelas. Kelas A terdiri atas seri A1 (SPSMFBTN02A1) sebesar Rp 400 miliar dan seri A2 (SPSMFBTN02A2) sebesar Rp 513 miliar. Sedangkan kelas B teridiri dari satu seri senilai Rp 87 miliar. Maka total Rp 1 triliun.

Direktur Utama SMF, Ananta Wiyogo, mengatakan dalam penerbitan EBA-SP itu perseroan berperan sebagai penerbit, arranger, pendukung kredit, dan investor. Sedangkan BTN berperan sebagai kreditur dan penyedia jasa.

Lalu PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) berperan sebagai wali amanat dan bank kustodian.

Oleh SMF, EBA-SP itu dicatatkan di BEI agar bisa menjadi pilihan alternative investasi bagi para investor.

Lalu apa keuntungan yang diraih BTN? BTN dapat uang segar Rp 1 triliun itu yang bisa digunakan untuk menyalurkan kreditnya kembali ke masyarakat.

Sebaliknya apa jaminan yang didapat oleh SMF dari BTN? Ya tentu saja surat berharga berupa piutang atas penyaluran Kredit Pemilikan Rumah (KPR) yang dilakukan oleh BTN itu. Tentu saja itu merupakan aset tapi tidak likuid karena baru akan menjadi uang jika seluruh KPR sudah lunas.

Nah! BTN akan sulit ekspansi dan kehabisan dana persediaan jika harus menunggu KPR yang ada lunas semua baru kemudian menyalurkan KPR baru.

Maka proses sekuritisasi dibantu SMF itu lah yang dirasa tepat. Toh utang jangka panjang dari KPR sangat cocok dengan pembiayaan diraih secara jangka panjang pula melalui produk EBA.

Dalam peraturan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) terkait KIK EBA, definisinya disebutkan sebagai kontrak antara perusahaan manajer investasi (MI) dan bank kustodian yang mengikat pemegang efek beragun aset (EBA) dimana MI diberi wewenang untuk mengelola portofolio investasi kolektif dan bank kustodian diberi wewenang untuk melaksanakan penitipan kolektif.

Sepanjang 2016 hanya ada dua penerbitan emisi Efek Beragun Aset (EBA) senilai Rp 1,37 triliun. Meski begitu aset EBA secara total sudah mencapai lebih dari Rp 100 triliun.

Other Articles


Copyright @ 2016 Investasiku.co.id, All Rights Reserved