www.trimegah.com

Investasi Saham Untuk Biaya Kesehatan Anak

Presenter yang akrab disapa Farhan itu nabung saham secara jangka panjang dimulai pada 1996. Saham pertamanya PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM). Belakangan semakin terasa ternyata sangat bermanfaat untuk biaya kesehatan anak.



Memahami Risiko

Prinsip, Risiko, dan Leverage Produk Derivatif

1-Jan-2017 21:08:21 WIB | Online | Share
Prinsip, Risiko, dan Leverage Produk Derivatif

investasiku.co.id - Setelah mengenal dan memahami dasar tentang transaksi derivatif, selanjutnya perlu diketahui berbagai teknis lain di dalamnya.

Terutama tentang prinsip transaksi derivatif yang ada di Indonesia misalnya pada LQ45 Futures. Seperti apa prinsipnya?

Saat prediksi market bullish maka investor membeli kontrak LQ45. Maksudnya, jika investor memperkirakan bahwa indeks akan naik (bullish) maka investor tersebut dapat membeli kontrak berjangka LQ45 (long futures).

Sebaliknya saat prediksi bearish maka investor menjual kontrak LQ45 (short futures).

Lalu seperti apa potensi risiko LQ45 Futures itu?

Intinya ada dua; leverage dan ketidaksempurnaan hedging. Dari sisi leverage berupa price fluctuation dan mark to market effect (jika pergerakan underlying terlalu fluktuatif, margin yang disetorkan investor dapat terus berkurang dan investor harus menyetorkan margin tambahan. Jika tidak, bisa mengakibatkan force liquidation alias likuidasi paksa).

Sedangkan dari sisi hedging, terkadang pergerakan nilai portofolio investor tidak sepenuhnya sama dengan pergerakan kontrak berjangka itu atau dalam hal ini indeks LQ45 Futures. Padahal tujuan utama dari upaya lindung nilai (hedging) dengan cara membeli kontrak berjangka adalah untuk mengompensasi potensi kerugian portofolio di pasar saham reguler.

Atas dasar itu produk derivatif futures ini sebenarnya lebih cocok untuk investor institusi seperti dana pensiun atau asuransi.

Leverage:

Di atas sempat disinggung terkait leverage. Apa kah itu? Leverage = margin dibagi nilai kontrak. Leverage untuk indeks LQ45 Futures sudah ditetapkan sebesar 25 kali baik itu naik maupun turun. Sedangkan nilai kontrak dihitung berdasarkan harga indeks dikali volume kontrak dikali multiplier.

Lalu bagaimana menentukan margin awalnya? Tadi disepakati oleh regulator bahwa leveragenya 25 kali. Kita ambil contoh indeks LQ45 itu misalnya saat ini ada di level 900. Maka dihitung dulu berapa sih sebenarnya nilai kontraknya. Sesuai rumusnya maka 900 x 1 (jumlah kontrak) x Rp 500.000 (multiplier) = Rp 450 juta.

Sekarang kita hitung nilai margin awal dengan rumus: 4 % x nilai kontrak. Angka 4 % itu merepresentatifkan leverage 25 kali dari level indeks LQ45 di angka 900 itu. Maka 4% x Rp 450 juta = Rp 18 juta. Rp 450 juta dibagi Rp 18 juta sama dengan 25 kali.

Sehingga, sudah ditemukan nilai leveraging untuk kontrak sebesar Rp 450 juta itu pembeli kontrak hanya cukup membayar margin awal sebesar Rp 18 juta. Dengan mengeluarkan dana sebesar margin awal, investor memeroleh nilai kontrak sebesar 25 kali dari nilai margin awal yang dikeluarkannya.

Kontrak tersebut bisa diperjualbelikan per hari. Bagaimana gambarannya? Kita simulasikan secara sederhana ya.

Skenario pertama, indeks LQ45 di level 900 itu diprediksi naik. Investor A kemudian membeli 100 kontrak LQ45 Futures. Berapa nilainya? Tinggal dihitung saja, 4% x 900 x 100 x Rp 500.000 = Rp 1,8 miliar.

Ternyata, di penutupan perdagangan saham hari itu indeks LQ45 turun ke level 893. Maka dia rugi Rp 350 juta.

Pada saat yang sama, investor B ternyata memerkirakan indeks LQ45 akan turun. Akhirnya dia memutuskan menjual 100 kontrak LQ45 Futuresnya. Maka di akhir perdagangan dia untung Rp 350 juta

Other Articles


Copyright @ 2016 Investasiku.co.id, All Rights Reserved