www.trimegah.com

Investasi Saham Untuk Biaya Kesehatan Anak

Presenter yang akrab disapa Farhan itu nabung saham secara jangka panjang dimulai pada 1996. Saham pertamanya PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM). Belakangan semakin terasa ternyata sangat bermanfaat untuk biaya kesehatan anak.



Memahami Risiko

Perlu Dipahami Dampak Saat Negara Surplus Atau Defisit

23-Feb-2017 10:50:05 WIB | Online | Share
Perlu Dipahami Dampak Saat Negara Surplus Atau Defisit

investasiku.co.id - Tetap update perkembangan ekonomi ketika sudah mulai berinvestasi terlebih di pasar modal maupun deposito di bank adalah penting. Data neraca perdagangan atau neraca pembayaran negara kita bisa menjadi salah satu perhatian sebagai bagian dari indikator perkembangan situasi.

Selain dalam rangka mengawal investasi yang kita miliki, terus memantau pergerakan ekonomi toh tidak ada ruginya agar kita terus belajar. Nah fokus dalam hal ini, apa sih kaitannya antara neraca perdagangan dengan perkembangan investasi?

Dari definisinya, mengutip Wikipedia, neraca perdagangan adalah perbedaan antara nilai ekspor dan impor suatu negara pada periode tertentu, diukur menggunakan mata uang yang berlaku.

Neraca positif artinya terjadi surplus perdagangan. Terjadi apabila nilai ekspor lebih tinggi dari impor. Neraca negatif artinya terjadi defisit perdagangan. Terjadi apabila nilai ekspor lebih rendah dari impor.

Tapi neraca pedagangan juga seringkali dibagi berdasarkan sektor barang dan sektor jasa.

Sejarah neraca perdagangan tidak terlepas dari kebijakan ekonomi di berbagai negara di Eropa pada abad pertengahan yang dikelompokkan dalam merkantilisme.

Yaitu pemahaman awal mengenai ketidakseimbangan perdagangan yang muncul akibat praktik penyelewengan pada ketika sumber daya alam dari koloni di benua Amerika diekspor untuk ditukar dengan barang jadi dari Inggris. Dari situ kemudian memicu Revolusi Amerika.

Betapa pentingnya menjaga neraca perdagangan itu bisa dilihat dari upaya pemerintah dan bank sentral.

Pemerintah bisa melakukan berbagai mekanisme, biasanya dilakukan oleh kementerian teknis. Misalnya, kementerian Perindustrian dan kementerian Perdagangan sepakat melakukan praktik anti dumping untuk produk baja. Katakan lah baja impor dari negara A dijual dengan harga jauh lebih murah dibandingkan dengan harga pasaran di Indonesia.

Padahal harga pasaran baja di negara A itu sendiri sebenarnya lebih mahal. Tapi demi tujuan meningkatkan ekspornya, negara A memberikan insentif berupa bebas pajak atau insentif lainnya supaya volume ekspor besar dan bisa menguasai pasar baja di Indonesia. Berarti negara A sudah melakukan praktik dumping.

Dampaknya apa? Baja produksi dalam negeri bisa terpuruk. Pasar akan pilih baja dari negara A karena harganya murah. Supaya itu tidak terjadi, negara melakukan anti dumping misalnya dengan cara membatasi jumlah impor baja dari negara A atau memberlakukan pajak khusus sehingga harga jualnya bisa sama dengan baja dari dalam negeri. Dengan begitu, nilai impor bisa dibatasi.

Bank sentral juga bisa membantu menjaga neraca perdagangan. Seperti dilakukan Tiongkok. Bank sentralnya, People’s Bank of China (PBoC) pada awal 2015 melakukan penurunan nilai mata uang (devaluasi) Yuan/Renminbi.

Yuan memang sempat menguat terhadap mata uang global. Ketika mata uangnya menguat, negara itu khawatir ekspornya akan turun karena negara lain enggan bertransaksi dengan Tiongkok gara-gara selisih nilai tukar negara tujuan ekspornya terlalu jauh dengan Yuan.

Ketika nilai tukar Yuan diturunkan, diharapkan negara lain kembali tertarik melakukan transaksi perdagangan dengan Tiongkok dan ekspornya lancar lagi.

Toh jika ekspornya sudah positif, mata uangnya juga bisa menguat lagi. Sebab neraca perdagangan yang surplus bisa menguatkan nilai tukar di negara itu. Sebab neraca perdagangan surplus diartikan bahwa kekayaan negara meningkat.

Itu lah maka ketika terjadi defisit neraca perdagangan di Indonesia, pasar saham ikut gusar. Sebab ada kekhawatiran Rupiah akan melemah. Bagi investor asing di pasar saham Indonesia, situasi itu sangat penting.

Sebelum benar-benar terjadi penurunan nilai Rupiah, dari data awal bahwa akan terjadi defisit neraca perdagangan saja biasanya disikapi dengan aksi jual oleh pemodal asing itu (foreign net sell) alias terjadi capital outflow.

Sebab bagi investor asing, jika nilai tukar Rupiah melemah maka terjadi dua kerugian yaitu kerugian penurunan portofolio dan penurunan akibat selisih kurs (mata uang).

Zaman harga komoditas sedang tinggi-tingginya terutama harga batu bara dan komoditi pangan, perekonomian Indonesia bergeliat dengan pertumbuhan rata-rata di atas 6 persen.

Beberapa ekonom sampai mengeluarkan ungkapan canda: pemerintah tinggal diam tidak ngapa-ngapain saja ekonomi bakal jalan sendiri dan tumbuh positif.

Baca: Saham Pertambangan Juara 2016

Bagaimana tidak? Indonesia laris manis jualan batu bara, sawit dan minyak sawit mentah (crude palm oil), serta produk pertanian lain seperti coklat dan kopra ke negara lain.

Tiba lah pada satu situasi harga komoditas turun, kecuali harga minyak, terutama karena perlambatan perekonomian di Tiongkok, meninggalkan level rata-rata pertumbuhan 10 persen sampai sekarang ada di level 6 persen sampai 7 persen.

Tiongkok merupakan konsumen terbesar komoditi batubara juga salah satu pasar utama komoditi pangan lainnya yang dihasilkan Indonesia dan beberapa negara lain. Dampaknya? Ekspor Indonesia turun

Pada saat yang sama, Indonesia masih belum bisa mengurangi porsi impor dari negara lain terutama yang terbesar adalah impor minyak dan gas (migas). Harga minnyak masih tinggi dan baru mengalami penurunan sejak akhir 2015.

Maka pasar saham sejak kondisi itu terjadi, terutama pada 2014, mulai khawatir perekonomian Indonesia akan terganggu. Dampaknya apa? Bisa terjadi defisit pada neraca perdagangan.

Dalam konteks penurunan ekspor seperti terjadi pada era penurunan harga komoditas, kita bisa lihat fenomenanya di pasar saham. Saham-saham berbasis sumber daya alam baik itu sektor batu bara seperti PT Adaro Energy Tbk (ADRO), PT Bayan Resources Tbk (BYAN), PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), atau saham sejuta umat yang dulu pernah populer, PT Bumi Resources Tbk (BUMI).

Saham ADRO pada tahun 2010 sempat ada di kisaran Rp 2.500 an per saham bahkan lebih dan sempat terseok ke kisaran Rp 550 – Rp 600 per saham pada awal 2016. Saham ITMG sempat di Rp 40 ribu per saham menukik ke kisaran Rp 4.700an per saham.

Saham BUMI bahkan lebih tragis, sempat di Rp 8.000an per saham kemudian ambruk sempat bersandar di batas bawah Rp 50 dan saat ini mulai naik lagi ke kisaran Rp 300 – Rp 400.

Saham komoditi lain dari perkebunan juga bernasib sama. PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) misalnya, saat harga sawit dan CPO tinggi, sahamnya selalu bergerak di atas level Rp 20.000 dan saat ini seiring masih rendahnya harga salah satu komoditi unggulan Indonesia itu, harga sahamnya masih belum bisa berbalik ke level tersebut.

Memang tidak semua impor itu berarti negatif. Kenaikan angka impor juga bukan berarti negara kita sedang konsumtif. Harus dilihat penyebabnya apa sehingga terjadi kenaikan impor itu.

Jika kenaikan impor terjadi karena banyak dilakukan pembelian mesin, peralatan mekanik, peralatan listrik, atau alat berat, bisa jadi karena ada beberapa sektor sedang menggeliat. Misalnya infrastruktur, manufaktur sedang giat ekspansi pabrik, atau perluasan jaringan listrik. Itu semua positif tentunya.

Tentu saja, jika dianalisa lagi, ada saham perusahaan-perusahaan yang diburu investor dan bergerak naik karena sedang melakukan ekspansi itu.

Other Articles


Copyright @ 2016 Investasiku.co.id, All Rights Reserved