www.trimegah.com

Investasi Saham Untuk Biaya Kesehatan Anak

Presenter yang akrab disapa Farhan itu nabung saham secara jangka panjang dimulai pada 1996. Saham pertamanya PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM). Belakangan semakin terasa ternyata sangat bermanfaat untuk biaya kesehatan anak.



Mengenal Produk Investasi

Perhatian Untuk Para Pemilik Investasi Berbasis Obligasi, Inflasi Berpotensi Naik

7-Mar-2017 09:45:05 WIB | Online | Share
Perhatian Untuk Para Pemilik Investasi Berbasis Obligasi, Inflasi Berpotensi Naik

investasiku.co.id - Memasuki Maret 2017, ramai berita tentang potensi kenaikan inflasi mulai terjadi. Produk investasi surat utang (obligasi) dan reksa dana berbasis obligasi termasuk yang paling perlu diperhatikan saat ada potensi perubahan angka inflasi.

Potensi kenaikan angka inflasi saat ini disebut-sebut bersumber dari komponen harga diatur pemerintah. Terutama dari kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dan tarif dasar listrik (TDL).

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto sampai berharap pemerintah dan Bank Indonesia (BI) mengantisipasi potensi kenaikan inflasi itu. ”Kenaikan tarif listrik plus beban pada Maret dan Mei, apakah akan berdampak? Kalau dari pengalaman Januari dan Februari pasti akan berdampak,” ujarnya (01/03).

Sejumlah riset juga menyebut bahwa inflasi pada 2017 berpotensi naik dibandingkan 2016. Memang tidak terlalu melonjak, diperkirakan masih sedikit di bawah angka 5 persen pada tahun ini yaitu kisaran 4 koma sekian persen dibandingkan 3,02 persen pada 2016.

Nah dikaitkan dengan investasi, kenaikan inflasi biasanya menyebabkan perubahan pada harga instrument obligasi.

Teori dalam investasi obligasi adalah ketika yield (imbal hasil) naik maka harganya akan turun. Sebaliknya, ketika yield merendah maka harga akan naik.

Inflasi akan berpengaruh pada yield itu. Urutannya begini: pada saat inflasi naik maka umumnya direspon dengan kenaikan suku bunga. Peningkatan suku bunga otomatis menaikkan yield obligasi dan akhirnya harganya turun.

Memang, pada praktiknya, pasar selalu potong kompas. Pada saat inflasi baru diekspektasikan akan naik saja, dampaknya terhadap harga obligasi sudah langsung terjadi. Padahal suku bunga sebenarnya belum merespon sedikit pun.

Sebagai gambaran, kita lihat harga salah satu obligasi acuan (benchmark) yaitu Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun (FR59):

Data Bloomberg mencatat, pada 3 Maret 2017, yieldnya sebesar 7,47 persen pada harga 96,68. Pada 6 Maret 2017, yieldnya berubah turun 0,02 persen menjadi 7,45 persen sebaliknya harganya naik 0,11 persen menjadi 96,79.

Pada kenyataannya memang begitu lah iklim di investasi terutama di pasar modal. Sebab para pengelola investasi baik investor secara langsung maupun perusahaan Manajer Investasi (MI) harus merespon dan melakukan langkah antisipasi dengan cepat.

Terlebih perusahaan MI yang mengelola dana investor dalam jumlah besar juga harus menjaga portofolio investasi di jalur positif. Tidak hanya di instrument obligasi secara langsung tetapi juga yang melalui produk reksa dana.

Produk reksa dana apa saja yang sensitif terhadap angka inflasi? Tentu saja reksa dana berbasis atau yang memiliki underlying asset obligasi yaitu reksa dana pendapatan tetap dan reksa dana campuran.

Saat ini, bukan hanya potensi inflasi yang berpotensi memicu perubahan di pasar obligasi. Efek global juga sudah di depan mata yaitu dari potensi kenaikan suku bunga acuan oleh bank sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve (The Fed).

Pimpinan The Fed, Janet Yellen, beserta dengan anggota Federal Open Meeting Committee (FOMC) lainnya melihat pertumbuhan eknomi AS cukup solid baru-baru ini. Akhirnya diyakini untuk segera menaikkan suku bunga secepatnya diperkirakan melalui FOMC pada 15 Maret 2017.

Meningkatnya kepastian kenaikan suku bunga The Fed di AS yang mau tidak mau masih menjadi acuan global, akan berdampak ke negara lain termasuk Indonesia.

Other Articles


Copyright @ 2016 Investasiku.co.id, All Rights Reserved