www.trimegah.com

Investasi Saham Untuk Biaya Kesehatan Anak

Presenter yang akrab disapa Farhan itu nabung saham secara jangka panjang dimulai pada 1996. Saham pertamanya PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM). Belakangan semakin terasa ternyata sangat bermanfaat untuk biaya kesehatan anak.



Mengenal Produk Investasi

Pemula, Pilih Investasi Saham atau Reksa Dana?

10-Oct-2017 10:19:32 WIB | Online | Share
Pemula, Pilih Investasi Saham atau Reksa Dana?

Investasiku.co.id – Baru mau mulai investasi di pasar modal terus bimbang di antara dua pilihan: investasi saham atau reksa dana? Toh ada juga produk reksa dana saham. Nah semakin bingung kan?

Sebelum menentukan pilihan, pahami dulu beberapa aspek dan prinsip dari dua produk investasi itu. Sebab meskipun instrumennya memang boleh saja sama, yaitu sama-sama saham, praktik investasinya jelas berbeda. Keuntungannya juga sejauh ini berbeda meski sejalan.

Saham

Investasi langsung di pasar saham menuntut kemandirian. Pilih saham sendiri, tentukan timing atau momen beli dan jual sendiri, hitung potensi keuntungan dan bahkan kerugian juga sendiri.

Maka investasi di pasar saham sering disebut-sebut “lebih kelas berat” karena investornya harus terus update informasi. Informasi di pasar saham itu beragam dan melimpah sekarang.

Otomatis juga harus bisa disiplin waktu. Pasar saham tidak 24 jam. Ada jam pembukaan, jam jeda sesi pertama, dan jam penutupan.

Baca Lagi : Untuk Diketahui Berbagai Praktik ini Dilarang di Pasar Saham

Lebih jauh lagi, supaya bisa memaksimalkan investasi di pasar saham, investor sebaiknya paham analisis teknikal dan analisis fundamental.

Baca juga: Cara Membedakan Analisis Teknikal dengan Analisis Fundamental

Reksa Dana

Investasi di reksa dana boleh dibilang “lebih mudah” dibandingkan saham. Sebab ada peran Manager Investasi atau perusahaan asset manajemen yang membantu mulai dari perencanaan, pemilihan ragam jenis reksa dana, sampai pada pengelolaannya.

Investor reksa dana akan dihadapkan pada pilihan; reksa dana saham, reksa dana pendapatan tetap, reksa dana campuran, atau reksa dana pasar uang. Ada juga versi syariahnya.

Lebih lengkapnya di sini: Kenali Lagi Reksa Dana

Maka dari sisi waktu dan konsentrasi saat investasi reksa dana tidak seperti investasi saham. Terlebih Manajer Investasi juga akan update portofolio investasi reksa dana kepada investornya setiap bulan.

Biaya dan Kemudahan

Dari aspek biaya, zaman sekarang investasi di pasar modal baik saham maupun reksa dana relatif terjangkau. Sama-sama bisa dimulai dengan uang ratusan ribu rupiah.

Investasi reksa dana bisa mulai Rp100 ribu. Punya uang Rp500 ribu juga bisa beli saham perusahaan.

Buktinya ini: Modal Rp1 Juta Sudah Bisa Beli Perusahaan

Dari sisi kemudahan, keduanya juga sudah mudah dan menyenangkan sekarang. Sebab sudah ditunjang teknologi sehingga bisa online dan bahkan mobile. Bisa pantau investasi dari ponsel pribadi.

Keuntungan dan Risiko

Prinsipnya, investasi di pasar modal memang mengandung risiko karena pasar fluktuatif. Kadang naik, kadang turun. Belum lagi potensi lainnya misalnya dari sentiment global, ekonomi dalam negeri, dan sejenisnya.

Menghitung potensi keuntungan dan kerugian di antara keduanya, seperti dijelaskan praktisi pasar modal pemilik akun twitter @pakarsaham, Ellen May, dalam web pribadinya membandingkan investasi saham dengan reksa dana saham, sebagai berikut:

Katakanlah modal awal investor sebesar Rp100 juta:

Skenario 1: Saham

Jika memahami metode Technical Analysis (TA) ataupun Fundamental Analysis (FA) dan bisa analisa prospek harga saham suatu perusahaan, rata-rata pertumbuhan saham di Indonesia hingga mencapai 90 persen dalam setahun. Bahkan bisa jauh lebih besar jika paham metode TA dengan baik atau momen masuk yang tepat seperti pada tahun 2009 ketika harga saham berbalik naik setelah jatuh pada 2008.

Fee beli dalam saham, biasanya 0,2 persen dan fee jual 0,3 persen. Skenarionya, saham disimpan sampai 3 tahun dengan imbal hasil katakanlah hanya 60 persen pertahun. Maka uang Rp100 juta akan menjadi:

Tahun 1: Beli Rp100juta + Fee beli (0,2 persen) menjadi Rp99,8 juta

Tahun 2: Hold dan Bertumbuh 60 persen. Tumbuh menjadi Rp159,7 juta

Tahun 3: Bertumbuh 60 persen kemudian dijual (kena fee jual 0,3 persen) maka hasilnya Rp254,7 juta.

Terjadi kenaikan 225 persen.

Skenario 2: Reksa Dana Saham

Modalnya sama yaitu Rp100 juta. Rata-rata return reksa dana saham itu hanya mencapai 40 persen setahun, itupun sudah sangat bagus sekali. Biaya beli reksa dana mencapai 2 persen dan biaya jual 0,5 persen.

Periode hold disamakan yaitu 3 tahun dengan asumsi pertumbuhan nilai 40 persen setahun.

Tahun 1: Beli Reksadana Saham Rp100 juta (kena fee beli 2 persen) maka Rp98 juta

Tahun 2: Hold dengan pertumbuhan 40 persen maka menjadi Rp137,2 juta

Tahun 3: Jual dengan pertumbuhan 40 persen (potong fee jual 0,5 persen) maka hasilnya Rp191,7 juta

Terjadi pertumbuhan 91,7 persen.

Silakan pertimbangkan dan pelajari, selamat berinvestasi! Ingat, sesuaikan dengan kemampuan diri baik dari sisi pengetahuan, waktu, maupun mental untuk menghadapi situasi pasar.

Other Articles


Copyright @ 2016 Investasiku.co.id, All Rights Reserved