www.trimegah.com

Investasi Saham Untuk Biaya Kesehatan Anak

Presenter yang akrab disapa Farhan itu nabung saham secara jangka panjang dimulai pada 1996. Saham pertamanya PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM). Belakangan semakin terasa ternyata sangat bermanfaat untuk biaya kesehatan anak.



Cerita Investasiku

Pelajaran Investasi dari Curtis “Wall Street” Carroll di Balik Jeruji

24-May-2017 16:13:08 WIB | Online | Share
Pelajaran Investasi dari Curtis “Wall Street” Carroll di Balik Jeruji

Investasiku.co.id – Curtis “Wall Street” Carroll membuktikan bahwa menjadi lebih baik dan berinvestasi adalah milik semua orang. Bisa dilakukan siapa saja tanpa peduli latar belakang keluarga, lingkungan, pendidikan, atau lainnya. Karena narapidana sepertinya saja bisa mengatur keuangan dan berinvestasi saham.

Hingga kini, Carroll sebenarnya masih mendekam di tahanan. Usianya sudah sekitar 35 tahun. Dia dihukum penjara selama 54 tahun karena perampokan dan pembunuhan sehingga pengadilan memutuskannya untuk menjadi penghuni rumah tahanan negara bagian San Quentin di California, Amerika Serikat (AS).

Sekilas perjalanan hidupnya sudah kerap dia publikasi. Salah satunya didistribusi melalui Youtube. Dalam rekaman video berdurasi lebih dari 11 menit itu dia bercerita sejak masih berusia 14 tahun.

Saat itu dia sudah bertindak melawan hukum. Di dalam arena Bowling, Carroll remaja membobol permainan arcade dan berusaha melarikan diri. Tapi saat berjuang keras keluar dari gedung, seorang petugas keamanan mencengkeram lengannya dan terus berupaya lari.

”Aku berlari menyusuri jalan, dan aku melompat ke atas sebuah pagar. Dan ketika sampai di puncak, bobot tiga perempat ribu kg tas buku saya menarikku kembali ke tanah. Jadi ketika saya sampai, penjaga keamanan berdiri di atas saya, dan dia berkata, ‘Lain kali, kamu punk kecil, kalau mencuri sesuatu yang bisa kamu bawa saja,” kisahnya.

Dari penangkapan perdana itu dia dibawa ke aula remaja walaupun kemudian dilepaskan. Selepas itu ibunya bertanya tentang kenapa bisa tertangkap. Dia ceritakan tentang beban berat buku di punggungnya. ”Dan 10 menit kemudian, dia membawa saya untuk membobol game arcade lainnya. Kami membutuhkan uang gas untuk pulang. Itulah hidupku,” terusnya.

Carroll yang dibesarkan di Oakland, California, bersama ibu dan anggota keluarga dekatnya memang terpengaruh lingkungan. Rata-rata kecanduan kokain. Lingkungannya terdiri atas keluarga, teman, dan tempat penampungan tunawisma.

Seringkali, makan malam disajikan di garis atap dan dapur umum. Rumah besarnya itu berkata kepadanya bahwa uang mengatur dunia dan segala isinya. ”Dan di jalanan ini, uang adalah raja. Dan jika Anda mengikuti uang, itu akan membawa Anda ke orang jahat atau orang baik,” kata dia.

Doktrin mulai tertanam. ”Soon after, I committed my first crime, and it was the first time that I was told that I had potential and felt like somebody believed in me,” begitu pikirnya saat itu.

Aksi kejahatan yang lebih serius pun mulai dia lakukan. Sebab, dia mengaku, tidak ada yang pernah memberitahu bahwa dirinya bisa menjadi pengacara, dokter, atau insinyur. ”Maksudku, bagaimana aku bisa melakukan itu? Aku tidak bisa membaca, menulis atau mengeja. Saya buta huruf. Jadi saya selalu berpikir bahwa kejahatan adalah jalan saya untuk pergi,” akunya.

Sampai lah pada suatu hari, dia berbicara dengan seseorang dan dia bercerita tentang perampokan. Itu yang mungkin bisa mereka lakukan. Dan benar-benar dilakukan.

”Kenyataannya adalah bahwa saya tumbuh di negara keuangan terkuat di dunia, Amerika Serikat, sementara saya melihat ibu saya mengantre di bank darah untuk menjual darahnya seharga USD 40 hanya untuk mencoba memberi makan anak-anaknya. Dia masih memiliki bekas jarum suntik di tangannya untuk menunjukkannya,” sesal Carroll.

Maka dia tidak pernah peduli dengan lingkungan di sekitarnya. Sebab dia merasa lingkungan juga tidak peduli dengan kehidupannya. Semua orang melakukan apa yang mereka lakukan untuk mengambil apa yang mereka inginkan.

Pada usia 17 tahun, Carroll ditangkap karena perampokan dan pembunuhan. Dari balik jeruji itu lah dia mulai banyak punya waktu membaca meskipun pada tahap awal dia dibantu rekannya yang bersedia membacakan.

Pak tua di dekatnya waktu itu kemudian heran, kenapa Carroll justru menunjuk sebuah Koran yang membahas tentang berita ekonomi. Tentang berita pasar saham. ”Hei anak muda, Anda memilih saham?" Dan saya berkata, "Apa itu?" Dia berkata, "Itulah tempat orang-orang kulit putih menyimpan semua uang mereka” ceritanya.

Sejak saat itu dia melihat sebuah harapan. ”Dia memberi saya penjelasan singkat tentang apa itu saham, tapi itu hanya sekilas. Maksudku, bagaimana aku bisa melakukannya? Aku tidak bisa membaca, menulis atau mengeja,” pikirnya.

Keterampilan yang telah dikembangkan untuk menyembunyikan buta hurufnya tidak lagi bekerja di lingkungan baru itu. ”Saya terjebak dalam kandang, memangsa pemangsa, berjuang untuk kebebasan yang tidak pernah saya miliki. Saya tersesat, lelah, dan saya kehabisan pilihan,” ungkap Carroll.

Akhirnya, usia 20 tahun, dia melakukan hal tersulit yang pernah dia lakukan dalam hidup. Mengambil sebuah buku untuk menulis dan membaca. ”Ini adalah saat yang paling menyiksa dalam hidupku, mencoba belajar membaca, mengucilkan dari keluargaku, rumah-rumah. Itu kasar, bung! Itu adalah sebuah perjuangan,” dia menyadari.

Tapi setidaknya, sedikit yang dia tahu dan sadari kemudian adalah perjuangannya membuahkan kado terbaik yang pernah dia impikan. ”Harga diri, pengetahuan, disiplin. Saya sangat senang bisa membaca bahwa saya membaca semua hal yang bisa saya dapatkan: bungkus permen, logo pakaian, rambu-rambu jalan, semuanya. Aku baru saja membaca barang!” pengakuannya disambut tawa hadirin yang menyaksikan testimoni hidupnya.

Begitu bersemangat dia bisa mencapai tahapan itu. Meskipun pada mulanya baru sebatas mengeja. Sehingga ketika seseorang datang bertanya dia menjawab. ”C-A-N-D-Y, permen!” hehehe.

Usia 22 tahun, rasa percaya diri semakin meningkat. Dia jadi teringat ucapan pak tua tentang surat kabar bisnis yang kali pertama dia baca di penjara. Tentang tempat orang-orang kaya kulit putih menyimpan dan menginvestasikan uangnya.

Maka dia mulai menggali lebih dalam lagi informasi tentang itu. Sambil itu, dia sudah mulai memiliki bekal ilmu bagaimana mengelola uang dan berinvestasi dari hasil membaca buku-buku ekonomi dan media massa.

”Saya segera mengetahui bahwa saya harus bertanggung jawab atas tindakan saya sendiri. Benar, saya tumbuh dalam lingkungan yang sangat kompleks, tapi saya memilih untuk melakukan kejahatan, dan saya harus melakukannya sendiri. Saya harus bertanggung jawab untuk itu, dan saya melakukannya,” tuturnya.

Ilmu yang dia miliki kini banyak dibagikan kepada para penghuni penjara lainnya. Bahkan dia sedang menyusun sebuah kurikulum khusus agar bisa digunakan di rumah tahanan. Tentang manajemen yang benar.

Julukan Wall Street

Di penjara, di tempat ketangguhan fisik adalah cara utama untuk mendapatkan rasa hormat, Carroll justru mendapatkannya dengan cara berbeda. Dia disegani karena telah membangun pengikut di antara rekan-rekan tahanannya dengan memberi tahu mereka bagaimana menghindari hutang, menyusun anggaran, dan memilih saham.

Maka julukan itu pun lahir. Teman-teman senasib dan sependeritaan di tahanan memanggilnya “Wall Street”. Itu sebuah pujian. Mungkin karena Carroll kerap berbicara dan mengajak teman-temannya untuk berinvestasi di pasar modal.

Di AS, pusat dari pasar modal dan ikon dari pasar sahamnya adalah Wall Street. ”Dari apa yang saya dengar, saya adalah orang yang baik,” ucapnya seperti dikutip dari MarketWatch.

Carroll mengatakan bahwa pelajarannya dirancang untuk membantu rekan-rekan narapidananya menghindari keputusasaan dan kejahatan. Mereka juga menentang tren nasional: Studi Rand Corp. yang diterbitkan tahun lalu menemukan bahwa pemotongan anggaran menekan jumlah kursus dan siswa di banyak program penjara.

Penny Stock

Jika kebanyakan investor menghindari saham bernilai kecil alias saham murah atau di AS dikenal dengan sebutan Penny Stock, Carroll justru menyukainya. Memang lebih sulit untuk dianalisa tapi dia minat karena harganya murah.

Salah satu dinding di ruang perpustakaan di penjara, digunakan Carroll untuk memampang daftar saham miliknya dengan cara diplester.

Carroll yang belajar membaca dan berinvestasi secara bersamaan, menyebut, saham adalah tentang cerita dan emosi. Ketika dia berpikir untuk berinvestasi di saham, dia mengatakan, dia menjelaskan dasar-dasar perusahaan kepada narapidana lain, dan mengukur reaksi mereka.

”Psikologi berjalan 70 persen dari pasar,” kata dia. ”Investor follow the leader - jika tidak, kita tidak akan memiliki 1 persen,” imbuhnya.

Saham-saham yang pernah dia pilih antara lain, Zynga ZNGA, Bank of America BAC, dan Facebook FB. Meski diterpa berita negatif atas kinerja saham ketiganya, seluruhnya malah menguat dan Carroll memetik untung.

Saham ZNGA yang ketika itu dia beli menghasilkan untung 20 persen, BAC memberikan keuntungan 47 persen, dan FB melesat 134 persen.

Other Articles


Copyright @ 2016 Investasiku.co.id, All Rights Reserved