www.trimegah.com

Investasi Saham Untuk Biaya Kesehatan Anak

Presenter yang akrab disapa Farhan itu nabung saham secara jangka panjang dimulai pada 1996. Saham pertamanya PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM). Belakangan semakin terasa ternyata sangat bermanfaat untuk biaya kesehatan anak.



Cerita Investasiku

Pasar Modal Siap Penuhi Kekurangan Biaya Infrastruktur

13-Mar-2017 22:15:50 WIB | Online | Share
Pasar Modal Siap Penuhi Kekurangan Biaya Infrastruktur

Investasiku.co.id - Sudah saatnya masyarakat berperan besar dalam pembangunan infrastruktur Indonesia melalui pasar modal. Menteri PPN/Kepala Bappenas, Bambang P.S Brodjonegoro, punya cerita bagaimana dampak signifikannya terhadap negara.

Contoh sederhana, menurutnya, ekonomi di Amerika Serikat (AS) langsung melesat ketika system national highway atau jalan bebas hambatannya dibangun. Kontribusi setiap negara bagian didukung interstate highway itu langsung meningkat.

”Itu lah backbone ekonomi AS. Sampai hari ini, itu lah simbol dari ekoomi AS. Tidak susah naik mobil dari New York sampai ke LA (Los Angeles). Memang tetap lama perjalanannya, tapi jelas,” kisahnya saat menjadi pembicara pada Underwriting Network 2017 di hotel The Anvaya, Kuta, Bali, Jumat (10/03).

Begitu juga di Tiongkok. Di setiap kota besar di negara itu, tidak hanya Beijing dan Shanghai, bahkan di kategori kelas menengah saja kualitas infrastrukturnya mumpuni. ”Mungkin jauh lebih baik dari Jakarta sebagai kota utama di Indonesia,” ucap Bambang.

Ditambah lagi mereka punya kereta cepat Beijing – Shanghai, dari Utara ke Selatan dan sebaliknya. ”Bukan dalam rangka gagah-gagahan. Pembangunan infrastruktur itu untuk pertumbuhan ekonomi sekaligus menarik investor,” tegasnya.

Pemerintah Indonesia di bawah presiden Jokowi punya cita-cita sama. Pembangunan infrastruktur gencar dilakukan.


Masalahnya, dari total kebutuhan biaya infrastruktur sekitar Rp 4.700 triliun dalam lima tahun, menurut dia, anggaran pemerintah paling mentok mampu mencukupi sebesar 40 persennya saja. ”Itu dengan scenario optimis ya,” terangnya.

Lalu dari mana 60 persen kekurangannya akan ditutup? Badan Usaha Milik Negara (BUMN) memang bisa membantu, tapi maksimal hanya sekitar 23 persennya saja. Maka dari total keduanya yang sama-sama bersumber dari pemerintah, baru tercapai 63 persen.

Lalu sebesar 37 persen sisanya? Di situ lah peran swasta melalui pasar modal dibutuhkan. ”Swasta is a must (peran swasta menjadi sebuah keharusan),” Bambang menegaskan.

Memang, tanpa peran swasta, infrastruktur tetap bisa dibangun. Tapi hanya mencapai sebesar 63 persen itu. Konsekuensinya, pembangunan tidak sesuai ekspektasi. ”Lalu competitiveness (daya saing) berkurang dan akhirnya tidak menarik minat investasi,” pikirnya.

Swasta terutama melalui pasar modal bisa berperan besar untuk memenuhi kebutuhan investasi infrastruktur itu.

Terlebih sifat pendanaan pasar modal yang jangka panjang sangat cocok dengan infrastruktur yang juga jangka panjang. ”Mengandalkan bank itu tidak bisa. Pertama, bank di Indonesia itu consumer base. Jangka pendek karena uangnya dari basis nasabah. Uangnya harus diputar terus. Kedua, mereka tidak bisa masuk equity financing karena melanggar peraturan,” paparnya.

Keuntungan lainnya, pasar modal akan lebih hidup jika bisa berperan besar dalam pembangunan infrastruktur. Di pasar modal ada berbagai sumber dana antara lain dari lembaga pengelola dana pensiun (dapen).

”Dapen semestinya bisa bantu infrastruktur. Sekarang itu investasinya masih sangat konvensional. Jangan lupa, tingkat bunga itu trennya akan turun terus. Tidak mungkin ada di level tinggi terus,” Bambang mengingatkan.

Maka proyek infrastruktur harus menjadi instrument untuk investasi sehingga mendapatkan return (imbal hasil) lebih baik dan jangka panjang. ”Ini bukan tentang size (besar kecilnya) investasi tapi tentang kemampuan. Saya pernah bertemu dengan dapen guru di Ontario, Kanada. Bayangkan, dapen yang hanya untuk guru, di Ontario pula. Dana kelolannya setara Rp 2.500 triliun, 10 kali lebih besar dari BPJS (Tenaga Kerja) di Indonesia,” dia bercerita.

Dalam pertemuan terakhir, menurut Bambang, dapen guru dari Ontario itu berminat menanamkan investasi pada proyek infrastruktur di Indonesia. ”Itu karena kemampuan investasi mereka sudah jauh lebih baik. Kita bisa memulainya,” harapnya.




Pemerintah menyiapkan dua skema besar untuk melibatkan swasta terutama melalui pasar modal dalam rangka pemenuhan biaya infrastruktur. Yaitu Pembiayaan Investasi Non Anggaran Pemerintah (PINA) untuk nilai skala menengah dan kecil dan Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) untuk proyek besar.


Maka Bambang berharap pasar modal bisa mulai berperan dalam membangun infrastruktur sehingga pasar modal bisa biaya infrastruktur dan infrastruktur hidupkan pasar modal.

Other Articles


Copyright @ 2016 Investasiku.co.id, All Rights Reserved