www.trimegah.com

Investasi Saham Untuk Biaya Kesehatan Anak

Presenter yang akrab disapa Farhan itu nabung saham secara jangka panjang dimulai pada 1996. Saham pertamanya PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM). Belakangan semakin terasa ternyata sangat bermanfaat untuk biaya kesehatan anak.



Mengenal Produk Investasi

Pahami ORI Sebagai Produk Surat Utang Perdana Pemberlakuan ETP

31-Mar-2017 09:08:26 WIB | Online | Share
Pahami ORI Sebagai Produk Surat Utang Perdana Pemberlakuan ETP

Investasiku.co.id – Obligasi Ritel Indonesia (ORI) menjadi produk pertama yang bisa diperdagangkan secara elektronik melalui Electronic Trading Platform (ETP) pada awal April 2017. Yuk kita kenali produk investasi sebagai bagian dari Surat Berharga Negara (SBN) ini dan seperti apa potensi likuiditasnya.

Baca: Catat Mulai Awal April 2017 Transaksi Surat Utang Sudah Online

Dari namanya sudah kelihatan bahwa ORI adalah surat utang negara untuk ritel. Untuk individu. Mengutip Wikipedia, definisi ORI adalah obligasi negara yang dijual kepada individu atau perseorangan Warga Negara Indonesia (WNI) melalui agen penjual dengan volume minimum yang telah ditentukan.

ORI diterbitkan untuk membiayai anggaran negara, diversifikasi sumber pembiayaan, mengelola portofolio utang negara dan memerluas basis investor. Risikonya relatif rendah karena merupakan investasi yang bebas terhadap risiko gagal bayar, yaitu kegagalan pemerintah untuk membayar kupn dan pokok kepada investor.

Produk ORI perdana diterbitkan pemerintah adalah seri ORI001 dengan tingkat bunga 12,05 persen pada 2006. Tenornya selama 3 tahun atau jatuh tempo pada 9 Agustus 2009. Sebanyak 16.561 investor baru ORI yang saat itu langsung menyerap dengan total penerbitan sebesar Rp 3,283 triliun.

Nah, saat ini, berkaitan dengan pemberlakuan ETP terdapat tiga seri ORI yang tradeable (bisa diperdagangkan). Pertama ORI011 dengan interest rate alias tingkat bunga 8,5 persen, maturity date (jatuh tempo) pada 15 Oktober 2017 dengan nilai outstanding Rp 21,215 triliun.

Kedua ORI012 yang memiliki interest rate 9 persen dengan maturity date pada 15 Oktober 2018 dan nilai outstanding sebesar Rp 21,438 triliun. ketiga seri ORI013 dengan interest rate 6,6 persen dan maturity date pada 15 Oktober 2019 memiliki nilai outstanding sebesar Rp 19,691 triliun.

Dari ketiga seri ORI eksisting itu total nilai outstanding sebesar Rp 62,379 triliun. Sebesar itu lah potensi yang bisa diperdagangkan pada tahap awal pemberlakuan platform jual dan beli surat utang secara online itu.

Baca: Seperti Ini Teknis dan Biaya Perdagangan Surat Utang Online

Lalu bagaimana melihat peluang jual maupun beli surat utang termasuk ORI? Dalam perdagangan saham sudah jelas bahwa setiap hari ramai orang bertransaksi dan bisa menilai potensi pergerakan harga saham baik secara teknikal maupun fundamental.

Untuk produk surat utang termasuk ORI, selain pertimbangan pribadi seperti orang mau menjual produknya karena butuh uang, misalnya, bisa dinilai dari beberapa faktor risiko investasi surat utang.

Apa saja faktor dimaksud? Secara garis besar ada empat risiko utama yang harus dipahami oleh investor sebelum menetapkan pilihan investasinya pada obligasi baik dalam rangka keputusan membeli maupun menjual:

Risiko Likuiditas

Risiko ini terjadi karena obligasi ini sulit untuk diperjualbelikan di pasar sekunder. Tapi, dengan adanya ETP sebenarnya risiko ini segera tereduksi. Hanya saja tetap akan ada orang yang kemudian butuh segera menjual maupun membeli dengan berbagai alasan pribadi.

Risiko Maturitas

Risiko ini terkait dengan masa jatuh tempo obligasi. Semakin lama masa jatuh tempo, maka tingkat risikonya juga semakin tinggi. Sebagai kompensasi, penerbit yang menjual obligasi dengan masa jatuh tempo panjang akan memberikan kupon bunga lebih tinggi.

Risiko Suku Bunga

Harga obligasi berbanding terbalik dengan suku bunga. Jika suku bunga acuan, dalam hal ini BI Rate (sekarang 7 day rate repo), turun maka harga obligasi akan cenderung naik. Sebaliknya, ketika suku bunga naik maka harga obligasi akan cenderung menurun.

Oleh karena itu investor yang berinvestasi di obligasi harus jeli dalam memeroyeksikan tren pergerakan suku bunga, sehingga obligasi yang dibeli dapat menjadi investasi yang optimal.

Risiko Gagal Bayar atau default

Risiko ini melekat pada obligasi korporasi. Sementara obligasi negara kecil kemungkinan terjadi gagal bayar selama pemerintah Indonesia tetap berdiri. Oleh karena itu, investor harus selektif dan memahami betul karakteristik serta kemampuan finansial setiap penerbit obligasi.

Semakin tinggi kupon bunga yang ditawarkan, maka semakin besar pula risiko yang harus ditanggung oleh investornya.

Di luar itu, investor ORI yang sudah menyimpan produknya dalam waktu cukup lama tidak sedikit yang merasa sudah mendapatkan untung dari pembayaran kupon bunga secara rutin per bulan. Maka menjelang jatuh tempo baik setahun jelang maturity date atau setengah tahun atau timing lainnya diputuskan untuk dijual.

Orang yang memilih menjual sebelum maturity date biasanya mengincar capital gain alias keuntungan dari harga jual. Dia pasti sudah berhitung antara jumlah kupon bunga yang sudah diraih ditambah capital gain dari penjualan di pasar sekunder melalui ETP, nilai investasinya sudah menguntungkan.

Sebaliknya, pihak pembeli juga pasti berhitung. Dengan pembelian pada harga sekian jelang jatuh tempo, dia masih ada potensi meraih kupon dari jangka waktu tersisa dan pembayaran pelunasan atau pengembalian investasi dari penerbit surat utang pada saat jatuh tempo terjadi.

Other Articles


Copyright @ 2016 Investasiku.co.id, All Rights Reserved