www.trimegah.com

Investasi Saham Untuk Biaya Kesehatan Anak

Presenter yang akrab disapa Farhan itu nabung saham secara jangka panjang dimulai pada 1996. Saham pertamanya PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM). Belakangan semakin terasa ternyata sangat bermanfaat untuk biaya kesehatan anak.



Cerita Investasiku

Mulai Antar Pizza Hingga Hasilkan Properti Rinto Konsisten Berinvestasi

22-Aug-2017 16:39:15 WIB | Online | Share
Mulai Antar Pizza Hingga Hasilkan Properti Rinto Konsisten Berinvestasi

Investasiku.co.id – Secara jangka pendek, Errinto Pardede sudah membuktikan bahwa dengan berinvestasi di pasar modal membantunya meraih kemandirian secara finansial dan secara jangka panjang sudah membuahkan properti. Siapa sangka, semua itu dimulai dari menyisihkan sebagian pendapatan sebagai tukang antar pizza.

”Mulai dari modal kecil dan jangan (bersumber) dari utang. Ikuti jatuh bangun market. Satu poin, serius atau menjauh dari market. Tentukan sikap!” saran Errinto yang disarikan dari pengalamannya untuk para investor pemula.

Setelah memutuskan untuk berinvestasi di pasar modal, pahami juga filosopinya ini. ”Harus dirawat hingga besar,” Rinto, sapaan akrab Errinto Pardede, menganalogikan berinvestasi saham seperti hobinya memelihara ikan Koi.

Pria yang kini menjabat sebagai Kepala Divisi Sekretaris di PT Permodalan Nasional Madani (Persero) itu memberikan gambaran dan filosopi investasi bukan tanpa landasan. Kisah panjang dia lakoni sejak masih menjalankan misi pendidikan di negeri orang.

Krisis 1997 merupakan momentum yang “memaksa” Rinto harus mulai mandiri dan berani berinvestasi di pasar modal, terutama pada instrument saham. Saat itu usianya 23 tahun dan sedang membidik gelar akademis di jenjang S2 (Magister) di Amerika Serikat (AS).

Nilai tukar Rupiah amblas di hadapan mata uang asing terutama dolar AS (USD) saat krisis itu melanda. Biaya hidup Rinto terasa membengkak. Mau tidak mau, berupaya hidup mandiri dari sisi finansial harus tercapai.

Langkah awal, pria peraih gelar sarjana Manajemen dan Pemasaran dari Northeastern University, Boston, AS, itu bekerja paruh waktu sebagai pengantar pizza di Boston House Pizza. Kebetulan ada modal USD 900 untuk membeli mobil Toyota Celica produksi tahun 1980-an sebagai modal wara-wiri antar pesanan.

Pada saat bersamaan, pekerjaan paruh waktu di tempat lain juga dia jalani. Dari dua pekerjaan itu, Rinto yang kemudian berhasil meraih gelar MBA bidang Manajemen dan Komunikasi Binsis dari D'Amore-McKim School of Business at Northeastern University di Boston, Massachusetts, AS, itu menerima bayaran sebesar USD 4 ribu per bulan.

Uang sebesar itu sebenarnya sudah cukup untuk membayar sewa apartemen USD 1.000 per bulan dan biaya hidup sekitar USD 2.200. Sisanya, yakni USD 800 atau sekitar 20 persen dari total penghasilan itu lah yang kemudian dialokasikan untuk berinvestasi di pasar modal.

Rinto memberanikan diri menjadi salah seorang investor ritel di New York Stock Exchange. Walaupun baru bermunculan, saham perusahaan Informasi dan Teknologi (IT) cukup menarik perhatian saat itu.

”Saat investasi di AS merupakan proses pembelajaran saya di market. Nyemplung saja karena berharap dapat untung banyak pada masa (perusahaan) teknologi bubble,” cerita pria kelahiran Jakarta, 16 Juli 1973, itu.

Cerita Mochtar Riady tentang Kenapa Sektor IT Kini Merajai

Dia menyebut beberapa saham di sektor tersebut ketika itu antara lain Amazon dan e-Bay. Saham-saham itu dipilih Rinto untuk trading. Belum sebagai tujuan investasi jangka panjang. Jurus tradingnya pun dia pelajari secara ototodidak ditambah rutin membaca Koran ekonomi untuk mengamati tren atau siklus makro serta industri yang berkaitan dengan sahamnya.

Bahkan rumor pun dia ikuti. Ternyata, menurutnya, sebagian besar rumor pasar itu terealisasi ketika itu. Alhasil, harga sahamnya naik.

Strategi lainnya adalah memerhatikan informasi seputar rencana akuisisi dan merger perusahaan. Cara itu pun ternyata berhasil. Sebagai trader saham tentu saja.

Pada 2002 Rinto pulang ke Indonesia. Gelar akademis, pengalaman kerja, dan ilmu investasi di pasar modal jadi oleh-olehnya. Di negeri sendiri, mantan Sekretaris Perusahaan PT Delta Dunia Makmur Tbk (DOID) itu lebih memilih fokus kepada pekerjaan terlebih dahulu.

Tapi bukan berarti dia melupakan investasi. Ayah dari dua anak itu tetap disiplin menyisihkan sebagian penghasilan untuk persiapan masa depan melalui investasi.

Baru pada 2007 aktivitasnya di pasar modal kembali dimulai. Strateginya masih belum jauh dari seperti ketika di AS yaitu jangka pendek. Kali ini, dia pilih saham-saham lapis kedua untuk ditransaksikan secara harian atau mingguan.

”Saya menyadari harga saham second liner itu fluktuasinya sangat tinggi tapi saham ini juga memberikan capital gain yang tinggi,” pertimbangannya.

Tapi saat itu Rinto juga mulai memberi porsi untuk saham unggulan meskipun masih relatif kecil. Sekitar 70 banding 30 antara saham lapis dua untuk trading dengan saham unggulan yang biasanya mengutaman aspek fundamental untuk investasi jangka panjang.

Saham pertambangan dan perkebunan sawit merupakan idola ketika itu. Maklum, sedang terjadi tren kenaikan harga komoditas. ”Sebut saja namanya saham A (di sektor pertambangan). Harganya Rp 100 di awal tahun 2009,” kisahnya.

Rinto rutin membeli saham A itu hingga harganya menyentuh level Rp 1.000 per saham hanya dalam rentang waktu sekitar 2 bulan. ”Saya lalu menjualnya di harga Rp 1.000,” dia meraih capital gain sekitar 900 persen!

Biasanya, untuk saham jangka pendek, Rinto akan menjualnya jika sudah terjadi kenaikan sekitar 10 persen sampai 15 persen.

Sedangkan untuk saham unggulan sebagai investasi jangka panjang, portofolionya akan ditambah saat saham incaran tersebut mengalami penurunan harga.

Semakin ke sini, Rinto semakin memilih investasi di pasar modal adalah untuk jangka panjang. ”Saya sejak tahun 2013 mulai beralih ke aspek fundamental dan GCG (Good Corporate Governance),” akunya.

Ini Antara Emiten Berkinerja Positif dan Perusahaan Belum Disiplin

Dengan begitu, porsi saham unggulan alias blue chip yang menjadi portofolio Rinto berubah menjadi dominan mencapai 70 persen dan saham lapis kedua untuk trading sebesar 30 persen.

Cara tersebut, ditambah dengan filosopi memelihara ikan Koi seperti kegemarannya, sudah cukup membuahkan hasil. Memang tidak selalu untung setiap saat tetapi setidaknya secara kumulatif sejak 2007 sampai saat ini aset investasinya sudah naik sekitar kali 10 lebih tinggi.

Sekarang, untuk memudahkan pengelolaan, Rinto bahkan membatasi jumlah saham dimiliki menjadi lima saham berbeda saja. Tentu saja bisa berganti komposisinya.

Sebagai upaya diversifikasi, sebagian keuntungan dari saham sudah dia realisasikan untuk membeli sebuah properti di kawasan Jakarta Selatan. Aset properti itu pun dia sewakan sehingga menjadi salah satu sumber pendapatan.

Baca Lagi : Bijak dan Cerdiknya Warren Buffet Perlu Dijadikan Inspirasi

Uang hasil sewa bisa saja Rinto kembalikan untuk tambah nilai investasi di pasar modal atau sekadar simpan di bank. Kini, komposisi asetnya berkisar sebesar 40 persen di pasar modal, sekitar 40 persen di tabungan, dan 20 persen sisanya berwujud property.

Rinto menyarankan, penting bagi investor untuk sejak awal menyadari kebutuhan investasi. ”Kemudian pelajari siklus atau kondisi pasar dan berinvestasi dengan hati gembira,” sebutnya.

Other Articles


Copyright @ 2016 Investasiku.co.id, All Rights Reserved