www.trimegah.com

Investasi Saham Untuk Biaya Kesehatan Anak

Presenter yang akrab disapa Farhan itu nabung saham secara jangka panjang dimulai pada 1996. Saham pertamanya PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM). Belakangan semakin terasa ternyata sangat bermanfaat untuk biaya kesehatan anak.



Cerita Investasiku

Momen Krisis Jadi Pintu Masuk Piyu Berinvestasi di Pasar Saham

3-Mar-2017 15:49:03 WIB | Online | Share
Momen Krisis Jadi Pintu Masuk Piyu Berinvestasi di Pasar Saham

investasiku.co.id - Musisi Satriyo Yudi Wahono biasa disapa Piyu merupakan salah satu pelaku industri hiburan yang aktif berinsvestasi. Pria yang populer sebagai gitaris grup band Padi itu sudah menikmati positifnya tanam investasi di saham.

Krisis subprime mortgage yang bermula dari kejatuhan Lehman Brothers di Amerika Serikat (AS) pada 2008 menjadi momentum awal bergabungnya Piyu sebagai investor aktif di pasar saham.

Keputusannya cukup berani. Sebagai pemula, ayah dari tiga putri itu langsung sedikit demi sedikit belajar dan praktik trading saham. Bukan sekadar membeli saham lalu ditabungnya dalam jangka panjang.

Beruntung, langsung berbuah positif. Bisa jadi karena saat dia masuk ke pasar saham, banyak saham bagus harganya sedang tergerus sebagai dampak kepanikan investor akibat krisis keuangan dari AS itu.

Piyu merasakan manisnya menjadi investor saham dari keaktifannya sebagai trader. Rata-rata kebutuhan sebulan bisa dia raih dari jual beli saham.

”Waktu pasar lagi bagus, misalkan kebutuhan saya Rp 50 juta per bulan. Contoh saja itu. Nah itu bisa dapat sebelum sampai sebulan habis,” kisah pria kelahiran Surabaya, 15 Juli 1973, itu.

Sebagai contoh, atas rekomendasi seorang teman, saat itu dia membeli saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI). Ketika itu saham perusahaan tambang milik grup Bakrie tersebut sedang jatuh ke harga Rp 775 per saham.

Tapi Piyu memberanikan diri. Ternyata, keputusannya tepat! Keuntungan mencapai sebesar 300 persen dia raih dari saham tersebut karena kemudian harganya melonjak menjadi Rp 2.525 per saham.

Meski begitu tentu saja Piyu bukan sekadar modal nyali. Dia sudah punya cukup pengetahuan tentang investasi sejak berinvestasi di pasar uang alias forex yang berujung pada kerugian. Mulai 2005, investasinya bergeser ke produk reksa dana.

Sempat positif di reksa dana, dia lebih ambisius dengan membeli produk reksa dana asing diawali modal sebesar USD 80 ribu.

Namun krisis ekonomi global di tahun 2008 itu lah yang membuat Piyu babak belur. Dia menelan kerugian hingga 70 persen dari portofolio reksa dana tersebut.

Nah sisa 30 persen dari dana portofolio yang ada itu lah kemudian dialihkan ke investasi saham secara langsung.

Belajar dari krisis itu membuat Piyu lebih waspada dan perhatian terhadap situasi. Pada akhir 2015, misalnya, saat pasar saham cenderung melambat, sebagian portofolionya dicairkan kemudian investasi di sektor riil.

”Saya ikut penyertaan modal bikin pelabuhan di Karawang (Jawa Barat). Join saja sih, bantu teman,” ucapnya.

Sedangkan di pasar saham dia sedang memilih posisi aman, menyisakan saham-saham yang termasuk unggulan agar bisa disimpan. ”Strateginya sekarang berubah semua. Banyak saya lepas, disisakan saham bluechip (saham perusahaan besar) saja sekitar 30 persen dari total bluechip sebelumnya,” dia mengungkapkan.

Disiplin jadi kunci keberhasilannya dalam berinvestasi. Ke depan, Piyu ingin menjadi investor di bursa saham mengikuti jejak investor kelas dunia seperti Warren Buffett dan Jesse Livermore.

Foto: Instagram Piyu

Other Articles


Copyright @ 2016 Investasiku.co.id, All Rights Reserved