www.trimegah.com

Investasi Saham Untuk Biaya Kesehatan Anak

Presenter yang akrab disapa Farhan itu nabung saham secara jangka panjang dimulai pada 1996. Saham pertamanya PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM). Belakangan semakin terasa ternyata sangat bermanfaat untuk biaya kesehatan anak.



Mengenal Produk Investasi

Mengenal SUKRI, Instrumen Investasi Membangun Negeri

9-Jun-2016 15:27:25 WIB | Online | Share
Mengenal SUKRI, Instrumen Investasi Membangun Negeri

Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau sukuk ritel (SUKRI) pertama kali terbit pada tahun 2009. Sejak kehadirannya, instrumen investasi ini makin populer dan memiliki banyak penggemar fanatik. Selain menawarkan hasil investasi yang menarik, risiko investasi di SUKRI juga lebih terjamin ketimbang instrumen investasi lainnya.

Bagaimana berinvestasi di SUKRI? Seperti produk investasi lain, SUKRI memiliki batasan investasi minimal, yaitu sebesar Rp 5 juta dan maksimal sebesar Rp 5 miliar. Harga per unit dari SUKRI adalah Rp 1 juta. Dengan harga yang terjangkau, SUKRI diperuntukkan bagi warga negara Indonesia dengan pendapatan menengah bawah seperti PNS, pengusaha kecil, pegawai swasta dan lainnya.

Salah satu tujuan diterbitkannya SUKRI adalah mendorong masyarakat untuk berinvestasi di pasar modal. Selain itu, bagi pemerintah, melalui SUKRI masyarakat juga dapat berpartisipasi langsung dalam membiayai pembangunan Indonesia, karena dana hasil penjualan SUKRI dipakai untuk membiayai APBN.

Sebagai surat utang berbasis syariah, SUKRI menggunakan akad perjanjian ijaroh (sale and lease back). Kepada investor, pemerintah sebagai penerbit akan mengenakan pajak penghasilan sebesar 15%. Besaran pajak ini lebih rendah dibandingkan pajak deposito di bank yang mencapai 20%.

Untuk mendapatkan keuntungan investasinya optimal, pemilik SUKRI lebih baik memegang intrumen ini hingga jatuh tempo. Masa jatuh tempo SUKRI yang diterbitkan pemerintah umumnya selama 3 tahun.

Dimana investor membeli SUKRI? Pemerintah sebagai penerbit SUKRI memilih sendiri agen penjual instrumen investasi ini melalui proses seleksi yang ketat. Mayoritas agen penjual merupakan lembaga keuangan terpilih seperti perbankan dan perusahaan sekuritas yang memiliki nasabah atau basis investor yang besar.

Prosedur pembelian SUKRI melalui dua cara, pasar perdana atau pasar sekunder. Pada saat membeli SUKRI melalui pasar perdana maka investor dikenakan harga pokok plus biaya-biaya yang meliputi biaya materai untuk Pernyataan dan Kuasa dan Pembukaan Rekening Surat Berharga di Kustodian.

Kemudian biaya penyimpanan Efek di Kustodian sebesar 0.025% per tahun atau minimum Rp5.000/bulan ditambah Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Biaya penyimpanan Efek dibayarkan setiap bulan dengan pemotongan secara langsung dari Imbalan/Kupon yang diterima nasabah. Pajak SUKRI ditetapkan sebesar 15%. Namun, sebagai daya tarik, beberapa agen penjual memberikan service gratis untuk beberapa biaya.

Sementara di pasar sekunder nilai SUKRI bisa lebih tinggi dibandingkan nilai pokoknya atau lebih rendah jika kondisi ekonomi tidak baik. Biaya yang dikenakan kepada investor meliputi biaya administasi sebesar Rp 25.000 per transaksi. Apabila nasabah ingin membeli SUKRI di Pasar Sekunder maka biaya ditambah dengan biaya-biaya yang dikenakan di Pasar Perdana. Investor yang menjual SUKRI di pasar sekunder akan dikenakan pajak hasil capital gain dan kupon berjalan (accrued return) sebesar 15% (PPh Non Final). Pajak tersebut akan diperhitungkan pada SPT Tahunan.

Other Articles


Copyright @ 2016 Investasiku.co.id, All Rights Reserved