www.trimegah.com

Investasi Saham Untuk Biaya Kesehatan Anak

Presenter yang akrab disapa Farhan itu nabung saham secara jangka panjang dimulai pada 1996. Saham pertamanya PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM). Belakangan semakin terasa ternyata sangat bermanfaat untuk biaya kesehatan anak.



Mengenal Produk Investasi

Mengenal Produk Derivatif

1-Jan-2017 11:07:46 WIB | Online | Share
Mengenal Produk Derivatif

investasiku.co.id - Awal 2016, Bursa Efek Indonesia (BEI) mengumumkan pengaktifan kembali perdagangan produk derivatif Kontrak Berjangka berbasis Indeks Efek (KBIE) yaitu Kontrak Berjangka Indeks Efek LQ-45 (LQ-45 Futures).

Disebut aktif kembali karena sebenarnya jenis produk ini sudah pernah ada sejak 2001 sampai 2009. Saat itu “disuntik mati” karena perdagangannya kurang dinamis. Saat itu size bursa saham Indonesia terutama untuk indeks LQ45 memang masih relatif kecil dan marketnya sendiri belum terlalu siap. Secara sistem juga belum sebaik sekarang.

Apa itu produk Derivatif?

Istilah derivatif terdiri atas dua kata dasar; Derive (memeroleh) dan From (dari).

Dari apa? Dalam hal ini, dari kontrak berjangka (futures contract). Yaitu suatu perjanjian yang mewajibkan para pihak untuk membeli atau menjual sejumlah underlying (aset yang terdapat di dalamnya) pada harga dan dalam waktu tertentu di masa yang akan datang.

Ada dua produk derivatif yang sebenarnya akan hadir di pasar saham negara kita. Kontrak berjangka dan opsi saham.

Secara sederhana, kontrak berjangka jika dicontohkan kejadian dalam kehidupan sehari-hari seperti seseorang yang ingin membeli mobil di diler. Saat datang, stok mobilnya kosong dan baru ada barang tiga bulan kemudian. Pembeli dan penjual kemudian sepakat pada satu harga meskipun tiga bulan kemudian harga mobilnya nanti naik atau justru turun. Namun kontraknya itu bisa diperdagangkan.

Sedangkan untuk kegiatan Opsi Saham, sederhananya dicontohkan bahwa si pembeli mobil itu membayarkan terlebih dahulu uang muka (Down Payment/DP) misalnya 5 persen dari harga jual. Tapi pembeli memiliki opsi untuk tidak mengeksekusi nantinya, saat mobil tersedia, dengan risiko uang DP-nya hilang.

Untuk saat ini, produk derivatif satu-satunya yang ada di pasar saham Indonesia adalah kontrak berjangka indeks efek LQ45. Definisinya adalah sebuah janji untuk menjual atau membeli kontrak indeks efek LQ45 dengan penyelesaian di waktu mendatang yang mewajibkan setiap pihak untuk memenuhi perjanjian tersebut pada saat jatuh tempo.

Kenapa berbasis indeks LQ45? Salah satu tujuannya untuk meminimalisir risiko. Indeks LQ45 adalah kumpulan 45 saham paling likuid yang dipilih berdasarkan beberapa kriteria oleh BEI. terutama performa likuiditas saham dan kinerja perusahaannya itu sendiri. Saham-saham di indeks LQ45 dievaluasi per semester.

BEI menyediakan tiga durasi jatuh tempo kontrak yaitu satu bulan, dua bulan, dan tiga bulan. Underlyingnya adalah indeks LQ45.

Secara rinci, spesifikasi produk LQ45 Futures itu memiliki multiplier Rp 500 ribu per poin indeks. Artinya, setiap indeks LQ45 naik atau turun sebesar 1 poin, bobotnya bernilai Rp 500 ribu. Fraksi (lompatan/pergerakan) harga kontraknya adalah 0,05 poin indeks.

Lalu ada istilah initial margin dengan penghitungan 4 persen dikali poin indeks dikali jumlah kontrak dikali multiplier. Auto rejection ditetapkan sebesar 10 persen. Terkait initial margin ini kita bahas terpisah.

Spesifikasi itu lah yang membedakan produk LQ45 Futures dengan perdagangan saham reguler di pasar spot. Di pasar saham reguler tidak ada underlying khusus. Settlement atau mekanisme penyelesaian transaksinya juga berupa fisik sedangkan di LQ45 Futures berupa cash yang akan dibayarkan setiap hari.

Lalu untuk apa dan apa saja sih keunggulan LQ45 Futures?

Paling utama, produk ini diciptakan sebagai instrument lindung nilai (kompensasi risiko atas kerugian yang disebabkan oleh penurunan nilai dari portofolio saham).

Selain itu, investor dapat bertransaksi sell (jual) kontrak berjangka LQ45 Futures itu sehingga memungkinkan investor mendapatkan keuntungan pada derivative market.

Tanpa ada produk derivatif, investor saat ini tidak ada pilihan lain selain menjual dan membeli. Menjual saat aset sahamnya turun dan membeli saat berpotensi naik, atau sebaliknya. Dengan kata lain, ada uang maka ada barang dan ada barang jika ada uang.

Dengan produk derivatif, investor bisa transaksi tanpa harus melepas aset atau tanpa harus membelinya kelak. Intinya, produk derivatif bisa mendiversifikasi risiko atas aset yang dimiliki investor kepada pihak lain yang mau mengambil risiko. Siapa itu? Terutama perusahaan sekuritas alias broker Anggota Bursa (AB). Transaksi di derivatif boleh dibilang transaksi manajemen risiko.

Other Articles


Copyright @ 2016 Investasiku.co.id, All Rights Reserved