www.trimegah.com

Investasi Saham Untuk Biaya Kesehatan Anak

Presenter yang akrab disapa Farhan itu nabung saham secara jangka panjang dimulai pada 1996. Saham pertamanya PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM). Belakangan semakin terasa ternyata sangat bermanfaat untuk biaya kesehatan anak.



Mengenal Produk Investasi

Mengenal Market Cap dan IHSG Sebagai Indikator Pasar Saham

17-Mar-2017 13:13:13 WIB | Online | Share
Mengenal Market Cap dan IHSG Sebagai Indikator Pasar Saham

Investasiku.co.id - Pada perdagangan saham kemarin (16/03) nilai kapitalisasi pasar saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) menembus rekor tertinggi. Mencapai sebesar Rp 6.012 triliun setelah selama ini sulit menembus level psikoligis Rp 6.000 triliun.

Rekor kapitalisasi pasar saham atau biasa juga disebut market cap tertinggi sepanjang masa itu melampaui pencapaian tertinggi sebelumnya. Yaitu sebesar Rp 5.918,56 triliun yang terjadi pada 8 November 2016.

Kenaikan nilai market cap biasanya sejalan dengan pertumbuhan indeks acuan yaitu Indeks harga saham gabungan (IHSG). Pada penutupan perdagangan kemarin IHSG tercatat naik 85,860 poin (1,581 persen) ke level 5.518,241.

Apa sebenarnya yang dimaksud Nilai Kapitalisasi Pasar Saham itu? Apa bedanya dengan IHSG?

Dari fungsinya, sama seperti IHSG, nilai kapitalisasi pasar atau market cap merupakan salah satu indikator untuk melihat perkembangan bursa saham. Nilainya juga mewakili efek terutama saham yang tercatat di bursa.

Di BEI, market cap dihitung dari jumlah saham yang tercatat kemudian dikalikan dengan harga saham seluruhnya. Itu lah maka saat IHSG naik berpengaruh positif terhadap market cap dan begitu juga sebaliknya.

Di zaman sekarang, tidak sulit sebenarnya menghitung nilai market cap. Informasinya sudah terbuka dan bahkan real time serta dirinci satu per satu dari market cap per perusahaan tercatat alias emiten.

Yuk kita lihat lima emiten menurut data BEI merupakan pemilik market cap terbesar pada 16 Maret 2017:

- PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) : Rp 471 triliun

- PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM): Rp 417 triliun

- PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) : Rp 387 triliun

- PT Astra International Tbk (ASII) : Rp 347 triliun

- PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) : Rp 333 triliun


Dari grafis di atas terlihat kan, sebanyak 10 emiten peraih top market cap saja nilai kapitalisasi pasar sahamnya sebesar Rp 2.879 triliun atau mewakili 48 persen dari total market cap di BEI. Bayangkan, di BEI saat ini terdapat sebanyak 540 saham emiten.

Market cap juga kadang dijadikan indikator menilai kekayaan sebuah perusahaan. Dalam hal market cap di pasar saham Indonesia secara total maka mewakili nilai kekayaan seluruh emiten atau pasar saham nasional.

Contoh: si A punya sebesar 50 persen saham di PT Bla Bla Bla Tbk (BLAA). Market cap BLAA pada periode tertentu sebesar Rp 200 triliun. Maka kekayaan si A pada periode tersebut sebesar Rp 100 triliun yang tercermin di perusahaan BLAA.

Perusahaan bisa mengalami dua situasi terkait market cap. Yaitu, over capitalization dan under capitalization.

Over capitalization terjadi apabila jumlah pendapatan tidak cukup besar untuk mendapatkan pengembalian alias hasil yang seimbang dari jumlah modal yang diinvestasikan.

Artinya, average rate of return lebih kecil dari pada fair rate of return. Atau bisa terjadi jika jumlah nilai saham yang beredar lebih besar dari nilai riil dibandingkan dengan nilai asetnya.

Under capitalization terjadi apabila average rate of return dari perusahaan tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan dengan rate of return dari modal yang diinvestasikan dalam perusahaan sejenis lainnya. Bahasa lainnya, jumlah nilai saham yang tercantum dalam nereca jauh lebih kecil daripada nilai riil asetnya.

Lalu, apa bedanya market cap dengan IHSG? Soal market cap sudah cukup dibahas di atas ya. Nah kalau IHSG?

Penghitungan IHSG relatif lebih rumit dibandingkan market cap yang sekadar menjumlahkan seluruh kekayaan perusahaan tercatat berdasarkan harga saham.

Pada IHSG ada penilaian bobot dan nilai dasar. Sekilas saja, nilai IHSG ketika kali pertama lahir dan menjadi dasar dimulainya perhitungan adalah 100 pada 10 Agustus 1982.

Setiap kali jumlah dan nilai saham berubah baik bertambah maupun berkurang, mengacu pada nilai dasar itu.

Nilai kapitalisasi pasar saham bisa menjadi salah satu komponen penghitungan IHSG. Misalnya pada metode penghitungan indeks saham berdasarkan capitalization weight.

Pada metode ini, rumusnya secara umum adalah harga saham di pasar reguler dikali bobot atau jumlah masing-masing saham dan dibagi nilai dasar (nilai yang dibentuk berdasarkan jumlah saham tercatat dalam waktu penghitungan). Hasilnya dikalikan 100.

Metode penghitungan lainnya adalah harga saham dibagi nilai dasar. Cara ini lebih sederhana dibandingkan yang satu tadi. Maka biasanya digunakan untuk menghitung indeks saham yang jumlah anggotanya relatif sedikit.

Other Articles


Copyright @ 2016 Investasiku.co.id, All Rights Reserved