www.trimegah.com

Investasi Saham Untuk Biaya Kesehatan Anak

Presenter yang akrab disapa Farhan itu nabung saham secara jangka panjang dimulai pada 1996. Saham pertamanya PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM). Belakangan semakin terasa ternyata sangat bermanfaat untuk biaya kesehatan anak.



Mengenal Produk Investasi

Memang Non Profit Oriented Tapi BEI Tetap Raih Kenaikan Laba

9-Mar-2017 10:16:41 WIB | Online | Share
Memang Non Profit Oriented Tapi BEI Tetap Raih Kenaikan Laba

Investasiku.co.id - Sebelumnya kita sudah ulas tentang apa dan siapa itu Bursa Efek Indonesia (BEI) sebagai bagian utama dari Self Regulatory Organizations (SRO) di pasar modal. Pada intinya, meskipun bentuknya badan hukum Perseroan Terbatas (PT) tapi sifatnya non profit oriented.


Meski bukan badan yang kena keharusan meraup untung seperti perusahaan pada umumnya, tetap saja ada pendapatan dan laba yang diperoleh.

Baca yuk: Mengenal SRO di Pasar Modal


Nah, sama seperti perusahaan publik yang rutin melaporkan hasil kinerjanya, BEI juga melakukannya. Sebagai bagian keterbukaan informasi ke publik dan prinsip tata kelola perusahaan yang baik alias Good Corporate Governance (GCG) tentunya.


Sekarang kita coba lihat bagaimana kinerja keuangan BEI sebagai ikon sekaligus tempat berlangsungnya transaksi dan pencatatan efek baik itu saham, obligasi korporasi, surat utang negara, dan efek lainnya.


Sepanjang 2016, BEI mencatatkan laba bersih sebesar Rp 344,8 miliar atau naik sebesar 192,37 persen jika dibandingkan Rp 118,78 miliar pada tahun 2015.


Kenaikan laba itu seiring kenaikan pendapatan yang cukup signifikan pada tahun 2016 yaitu sebesar Rp 1,420 triliun atau naik sebesar 34,50 persen dibandingkan Rp 1,056 triliun pada 2015.


Persentase kenaikan laba melaju lebih tinggi dibandingkan pendapatan. Salah satunya karena terjadi kenaikan pendapatan usaha BEI menjadi sebesar 21,55 persen pada 2016 dibandingkan 2015. Bandingkan dengan 2015 yang hanya tumbuh 5,35 persen dibandingkan 2014.


Bagaimana bisa itu terjadi? Kita bisa lihat dari beberapa indikator yang bisa menjadi tolok ukur dalam menilai kinerja BEI. Antara lain; rata-rata nilai transaksi harian, aktivitas penerbitan efek, atau aksi korporasi perusahaan publik lainnya dalam konteks pasar modal.


Dari sisi rata-rata nilai transaksi harian, terutama transaksi saham, BEI mencatat terealisasi sebesar Rp 7,49 triliun pada 2016. Sebaliknya pada 2015 rata-rata nilai transaksi harian yang terjadi hanya sebesar Rp 5,76 triliun.


Jumlah dana yang berhasil dihimpun di sepanjang 2016 juga mencapai nilai tertinggi sepanjang sejarah Pasar Modal Indonesia.


Jumlah tersebut mencapai Rp 674,39 triliun dan USD 247,50 juta yang terdiri dari aktivitas Pencatatan Saham Perdana (Initial Public Offering/IPO) sebesar Rp12,11 triliun, Pencatatan Saham dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (rights issue) sebesar Rp 61,85 triliun, penerbitan waran sebesar Rp 1,14 triliun.


Kemudian sebanyak 84 emisi baru obligasi dan sukuk korporasi yang diterbitkan oleh 56 Perusahaan Tercatat dengan nilai Rp 113,29 triliun dan USD 47,50 juta, 1 Exchange Traded Fund (ETF) senilai Rp 6,3 miliar, sebanyak 2 emisi Efek Beragun Aset (EBA) senilai Rp 1,37 triliun, serta 220 seri Surat Berharga Negara (SBN) yang dicatatkan di tahun ini dengan nilai Rp 484,63 triliun dan USD200 juta.


Itu sudah sangat membantu perbaikan kinerja BEI meskipun juga pada 2016 terjadi kenaikan beban usaha menjadi sebesar Rp 1,034 triliun. Angka itu naik 11,10 persen dibandingkan 2015.


Meskipun kenaikan beban usaha itu juga diimbangi dengan efisiensi antara lain memaksimalkan penggunaan ruang perkantoran yang saat ini diperuntukkan juga untuk ruang perkantoran anak perusahaan dan asosiasi serta penggunaan Main Hall BEI untuk penyelenggaraan event-event Perusahaan dan Entitas Asosiasi.


Direktur Utama BEI, Tito Sulistio, mengatakan melakukan efisiensi dan berbagai langkah efektivitas tidak mengurangi aktivitas dalam rangka pengembangan pasar modal. BEI tetap melakukan aktivitas pengembangan anggotanya dengan berbagai kegiatan.


Di antaranya dukungan data center, pemberian dukungan jasa informasi, dan dukungan aktivitas sosialisasi Pasar Modal.


Nilai kontribusi kepada Anggota Bursa (AB) tersebut mencapai 30 persen dari keseluruhan beban pengembangan pasar modal. AB adalah perusahaan sekuritas sebagai pemegang saham BEI.


”Kami berharap kinerja positif ini akan terus berlanjut sehingga dapat mewujudkan mimpi besar BEI untuk menjadi yang terbesar di Asia Tenggara di 2020 mendatang,” ucap Tito pada Rabu (08/03).


Dengan inisiatif dan inovasi yang dilakukan oleh BEI diharapkan dapat memacu stakeholders dan Pemerintah untuk bersama-sama mengembangkan pasar modal Indonesia sehingga mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat Indonesia.


Dengan begitu diharapkan peran Pasar Modal akan menjadi strategis dalam hal pemerataan kepemilikan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat secara luas.

Indikator BEI 2016:

Rata-rata nilai transaksi saham harian: Rp 7,49 triliun

Rekor transaksi saham harian : Rp 189 triliun (11 November 2016, tertinggi sepanjang sejarah)

Rata-rata frekuensi transaksi saham harian: 264.142 kali

Rekor frekuensi transaksi saham harian : 433 ribu kali (11 November 2016)

Rata-rata volume transaksi saham harian : 7,83 miliar unit saham

Rekor volume transaksi saham tertinggi: 36 miliar unit aham (27 Oktober 2016)

Kapitalisasi pasar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) : Rp 5.753,613 triliun (Naik 18,07 persen)

Rekor kapitalisasi pasar tertinggi : Rp 5.919 triliun (8 November 2016)

Level IHSG akhir 2016: 5.296,711 (naik 15,32 persen)

Investor Asing : Capital Inflow (net buy) Rp 16,1 triliun

Other Articles


Copyright @ 2016 Investasiku.co.id, All Rights Reserved