www.trimegah.com

Investasi Saham Untuk Biaya Kesehatan Anak

Presenter yang akrab disapa Farhan itu nabung saham secara jangka panjang dimulai pada 1996. Saham pertamanya PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM). Belakangan semakin terasa ternyata sangat bermanfaat untuk biaya kesehatan anak.



Mengenal Produk Investasi

Kenali Ini Ragam Istilah Untuk Bobot Rekomendasi Saham

20-Apr-2017 10:26:32 WIB | Online | Share
Kenali Ini Ragam Istilah Untuk Bobot Rekomendasi Saham

Memahami berbagai istilah yang ada pada rekomendasi merupakan hal penting untuk kita pahami saat berinvestasi di pasar modal. Terdapat sejumlah sebutan dari setiap saran yang diberikan para ahli untuk kita pelajari lagi atau langsung disikapi terhadap portofolio investasi yang kita sudah atau akan dimiliki.

Biasanya, setelah kita terdaftar sebagai investor dengan memiliki rekening investasi, perusahaan sekuritas atau Manajer Investasi tempat kita mendaftar memberikan layanan informasi. Salah satunya tentang informasi perkembangan harga saham disertai analisa atas saham unggulan dan bahkan saham yang perlu dihindari.

Terdapat beberapa indikator mulai dari perhtungan Earning per Share dalam satuan persen, Price to Earning dalam perhitungan satuan kali, sampai Price per Book Value dalam perhitungan satuan kali. Umumnya dengan membandingkan antara satuan waktu sebelumnya dengan proyeksi di tahun yang sedang dijalani.

Sebagai gambaran, bisa dilihat dari grafis di bawah ini. Terdapat sejumlah kode saham emiten yang diulas oleh analis dari PT Trimegah Sekuritas untuk disikapi pada 2017 dan diterbitkan pada Desember 2016:


Dari ulasan analis itu kita bisa lihat rekomendasinya dengan singkatan “Rec” pada tabel. Ada yang direkomendasikan Buy, Sell, atau Neutral.

Rekomendasi Buy, sesuai artinya yaitu “beli” adalah saran dari analis terhadap saham tersebut. Dengan perhitungan dan berbagai indikator, saham rekomendasi Buy adalah saham yang layak untuk dibeli sampai dengan target harga (Target Price / TP) tertentu. Gampangnya, saham Buy dianggap berpotensi memberikan keuntungan.

Sebaliknya, rekomendasi Sell adalah istilah untuk saham layak jual. Tentu saja rekomendasi Sell ditujukan kepada investor yang sudah memiliki saham tersebut. Biasanya karena setelah diperhitungkan baik dari sisi fundamental maupun teknikal, pada harga tertentu dianggap sudah terlalu tinggi sehingga berpotensi turun.

Sedangkan rekomendasi Neutral sebenarnya pihak analis tidak memiliki kecenderungan tertentu terhadap saham dimaksud, baik itu Buy maupun Sell. Rekomendasi ini merupakan bahasa lain dari “no comment”.

Selain itu ada juga rekomendasi Hold. Artinya adalah saran untuk tidak melakukan aksi apapun terhadap saham tersebut. Disimpan dulu saja bagi yang sudah memiliki. Bagi yang belum memiliki saham dimaksud juga sama, tunggu dulu sampai ada perubahan situasi.

Padanan untuk rekomendasi Hold adalah Wait and See. Sesuai artinya, tunggu dan pantau. Ini merupakan saran untuk tidak melakukan aksi terlebih dahulu dengan berbagai pertimbangan baik dari sisi fundamental atau teknikal maupun situasi lain yang bisa berimbas terhadap perusahaan dimaksud dan akhirnya bisa berpengaruh terhadap sahamnya.

Jika menemukan rekomendasi Strong Buy maka artinya saham dimaksud sangat disarankan untuk beli. Pemberian rekomendasi itu biasanya atas keyakinan analis setelah memerhitungkan berbagai indikator bahwa saham dimaksud dalam posisi murah atau berpotensi naik tinggi.

Dalam rekomendasi Strong Buy biasanya disertakan jangka waktu tertentu. Misalnya, dalam kurun 3 bulan sampai 5 bulan, antara 6 bulan sampai 12 bulan, atau jangka waktu lainnya tergantung dari pertimbangan masing-masing pihak pemberi rekomendasi.

Tapi jika menemukan rekomendasi Strong Sell maka maksudnya adalah kebalikan dari Strong Buy. Rekomendasi ini merupakan saran dalam titik terendah atau terparah terhadap suatu saham atau efek tertentu.

Ketika merilis rekomendasi Strong Sell, analis umumnya meyakini saham tersebut sudah sangat layak dilepas oleh investor. Bisa jadi karena sudah kemahalan setelah memerhitungkan berbagai indikator yang ada, bisa juga karena potensi buruk dari fundamental perusahaannya.

Di luar itu, kadang kita akan menemukan rekomendasi seperti Accumulate yang merupakan saran akumulasi atau beli terhadap saham tertentu secara perodik atau bertahap. Hampir sama maksudnya dengan rekomendasi Add.

Bisa juga ada rekomendasi Reduce yang diartikan sebagai saran untuk mereduksi atau mengurangi kepemilikan atas saham dimaksud. Rekomendasi ini tentu saja bagi mereka yang sudah memiliki saham dimaksud.

Atau rekomendasi Trading Buy sebagai saran terhadap saham dimaksud, sebaiknya sebatas untuk trading (diperdagangkan jangka pendek) saja. Biasanya analis melihat bahwa saham tersebut belum layak disimpan dalam jangka menengah atau jangka panjang karena potensi naiknya bersifat jangka pendek.

Bagaimana dengan istilah Overweight? Kita akan mendapatkan rekomendasi itu jika suatu saham dinilai naik melebihi kenaikan kelompok saham acuannya. Misalnya, saham WXYZ di sektor pertambangan naik 15 persen atau lebih tinggi dibandingkan konsensus analis, atau fakta sektoral saham pertambangan yang rata-rata hanya naik 7 persen di kurun waktu tertentu.

Tapi bobot rekomendasi Overweight tetap lebih rendah dibandingkan Strong Buy. Sebab Overweight selain berpatokan pada sektornya, biasanya merupakan hasil persepsi atas berbagai informasi baik dari industri maupun emitennya itu sendiri.

Maka terkadang saham Overweight cenderung mengalami Overvalued yaitu harga sahamnya lebih tinggi dari nilai atau harga wajarnya (fair value).

Kebalikannya adalah Underweight. Kondisi ini cenderung membawa harga saham tertentu menjadi Undervalued atau di bawah harga wajar. Akibat situasi tertentu, saham Underweight pada intinya adalah dianggap terlalu rendah.

Berbagai istilah itu memang kerap ditemukan dan digunakan analis serta ekonom untuk di pasar saham. investor di reksa dana juga bisa menggunakannya sebagai acuan sehingga harus memahami ragam istilah tersebut.

Meski begitu sebenarnya istilah yang hampir sama juga kerap digunakan untuk ekonomi makro. Misalnya, lembaga riset atau lembaga pemeringkat menganggap ekonomi sebuah negara dalam kondisi Overweight atau Underweight atau sejenisnya.

Other Articles


Copyright @ 2016 Investasiku.co.id, All Rights Reserved