www.trimegah.com

Investasi Saham Untuk Biaya Kesehatan Anak

Presenter yang akrab disapa Farhan itu nabung saham secara jangka panjang dimulai pada 1996. Saham pertamanya PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM). Belakangan semakin terasa ternyata sangat bermanfaat untuk biaya kesehatan anak.



Merencanakan Masa Depan

Investasi di Obligasi Korporasi

26-May-2016 10:40:25 WIB | Online | Share
Investasi di Obligasi Korporasi

investasiku.co.id - Obligasi atau surat utang merupakan cara praktis yang dilakukan oleh negara atau perusahaan untuk mendapatkan pembiayaan. Obligasi yang diterbitkan oleh pemerintah biasa disebut sebagai surat utang negara (SUN), sementara obligasi perusahaan disebut obligasi korporasi. Dua jenis obligasi ini memiliki kadar risiko dan imbal hasil yang berbeda.

Obligasi korporasi memiliki risiko yang lebih tinggi dibandingkan SUN, karena dijamin oleh perusahaan. Jika perusahaan tersebut mengalami kendala, misalnya merugi atau bangkrut, maka investor berpotensi kehilangan dana investasinya. Karena profil risikonya itu, obligasi korporasi menawarkan kupon bunga yang lebih menarik ketimbang SUN ataupun deposito. Apalagi jika jangka waktunya panjang.

Contohnya obligasi PT Telkom yang diterbitkan tahun 2015. Untuk obligasi seri D dengan tenor 30 tahun, kupon bunganya sekitar 11,55% per tahun. Bandingkan dengan yang bertenor 7 tahun yang memberi kupon 10,16% per tahun. Investasi di obligasi korporasi dibatasi minimal Rp 100 juta – Rp 500 juta.

Walaupun berisiko, obligasi korporasi tetap menjanjikan peluang yang menarik. Beberapa hal yang perlu dipahami sebelum menentukan investasi di instrumen ini diantaranya adalah;

Pertama, Mengenal Korporasi Penerbit Obligasi. Mengenal dan memahami profil bisnis dari perusahaan, termasuk manajemennya menjadi hal paling mendasar untuk dilakukan. Dengan mengetahui profil bisnis, fundamental bisnis dan sektornya, termasuk siapa CEO dan direksinya, investor dapat mengurangi risiko investasinya.

Perusahaan milik negara atau BUMN seperti Telkom, Bank Mandiri, Bank BRI dan BTN merupakan korporasi yang sering menjadi target investasi ketika mereka menerbitkan obligasinya. Namun banyak juga korporasi non BUMN yang memiliki fundamental kokoh dan obligasinya menjadi buruan investor. Misalnya Grup Astra, Salim Group, Bank BCA dan masih banyak lagi.

Kedua, Mencermati Rating Obligasi. Setiap obligasi yang akan diterbitkan terlebih dahulu akan mendapatkan rating dari lembaga independen. Di Indonesia ada beberapa lembaga pemeringkat yang sering digunakan untuk memeringkat obligasi korporasi seperti Pefindo, Ficth Rating dan moodys. Peringkat ini juga mencerminkan profil risiko dari obligasi yang akan diterbitkan.

Rating obligasi terbagi menjadi dua, Grade Bond dan non Grade Bond. Obligasi yang masuk kategori grade bond atau layak investasi adalah peringkat AAA, AA, dan A menurut Standards & Poor’s atau peringkat Aaaa, Aa dan A menurut Moody’s.

Sementara Non-grade Bond, umum memiliki peringkat BBB, BB dan B menurut Standards & Poor’s atau Bbb, Bb dan B menurut Moody’s.

Ketiga, Mengetahui Likuiditas di Pasar. Faktor likuditas ini akan menentukan bila investor bermaksud menjual obligasinya sebelum jatuh tempo. Dengan likuiditas yang baik, maka risiko harga obligasi lebih rendah dibandingkan saat dibeli menjadi semakin kecil.

Keempat, momentum. Untuk berinvestasi di obligasi investor bisa menggunakan momentum yang muncul di pasar. Misalnya ketika BI Rate naik, maka harga obligasi korporasi akan cenderung turun, begitu juga sebaliknya. Karena itu, bagi investor yang berminat memiliki obligasi jangka panjang, kenaikan BI Rate bisa digunakan untuk membeli obligasi korporasi yang menjadi targetnya diharga yang rendah.

Other Articles


Copyright @ 2016 Investasiku.co.id, All Rights Reserved