www.trimegah.com

Investasi Saham Untuk Biaya Kesehatan Anak

Presenter yang akrab disapa Farhan itu nabung saham secara jangka panjang dimulai pada 1996. Saham pertamanya PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM). Belakangan semakin terasa ternyata sangat bermanfaat untuk biaya kesehatan anak.



Memahami Risiko

Jangan Khawatir, Prospek Ekonomi Indonesia Kian Positif

27-Jul-2017 09:55:35 WIB | Online | Share
Jangan Khawatir, Prospek Ekonomi Indonesia Kian Positif

Investasiku.co.id – Meski secara umum pasar modal terutama pasar saham Indonesia positif, Investor asing semakin sering keluar dari pasar saham Indonesia belakangan ini. Apa sebenarnya yang terjadi? Indikator terutama riset beberapa pihak baru-baru ini sesungguhnya menyatakan situasi ekonomi Indonesia dan global terus membaik.

Indeks harga saham gabungan (IHSG) secara year to date atau sejak awal tahun ini sampai penutupan 26 Juli 2017, misalnya, masih tumbuh sebesar 9,51 persen. Bukan yang tertinggi, tetapi masuk di antara jajaran pertumbuhan pasar saham terbaik di dunia.

Investor asing juga masih dalam posisi beli bersih (foreign net buy) sebesar Rp 6,449 triliun secara year to date sampai 26 Juli 2017. Hanya saja, angka capital inflow ke pasar saham itu memang jauh berkurang jika dibandingkan lebih dari Rp 20 triliun sampai dengan jelang akhir semester pertama 2017.

Memasuki semester kedua tahun ini, investor asing dominan melakukan penjualan bersih (foreign net sell) alias capital outflow di pasar saham Indonesia. Seperti pada perdagangan pada 26 Juli 2017, misalnya, aksi jual investor asing itu masih terjadi dengan mencatatkan penjualan bersih sebesar Rp 115,3 miliar.

Baca juga : Setengah Tahun Harga Saham Naik 1.314 Persen

Apa sebenarnya yang terjadi? Sebab jika melihat berbagai riset yang ada, tidak ada indikasi negative dari perkembangan di dalam negeri maupun global. Sebaliknya, di Indonesia dari sisi ekonomi malah semakin positif.

Managing Director Capital Markets & Investment Services Asia dari Colliers International, Terence Tang, membuktikan dalam riset terbarunya menyebut pertumbuhan ekonomi global menguat menciptakan perbaikan pada iklim perdagangan, investasi, dan manufaktur internasional.

Di Asia, China, Hong Kong, Singapura, dan mungkin menurutnya Jepang juga India, seharusnya mencapai pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat di tahun 2017 daripada yang diperkirakan oleh kebanyakan pengamat pada enam sampai sembilan bulan lalu.

”Pada triwulan II 2017, sektor perkantoran telah muncul sebagai pendorong pertumbuhan terkuat di sebagian besar negara Asia, dengan beberapa pasar mencatat harga transaksi yang cukup tinggi, terutama di Hong Kong dan Singapura. Namun, aktivitas investasi di sektor ritel, industri, hotel, dan perumahan juga menguat,” ungkapnya.

Di Negara seperti Indonesia, Taiwan, India, Thailand, dan Filipina, menurutnya sektor industry dan logistic bahkan terlihat tumbuh lebih pesat. Itu terjadi seiring peningkatan pada bisnis manufaktur.

Director Capital Markets & Investment Services Asia dari Colliers International, Steve Atherton, secara khusus menyoroti situasi di Indonesia. Menurutnya, sektor industry nasional memerlihatkan aktivitas yang lebih baik memasuki semester kedua 2017.

Cek Lagi: Begini Perjalanan Pasar Saham pada Semester I 2017

Para perusahaan pengembang kawasan industry dan logistic bahkan bersiap untuk memulai proyek baru untuk memenuhi permintaan pelanggan internasional yang bersiap melakukan investasi di Indonesia. ”Setidaknya ada tiga cerita yang akan membangun fasilitas logistic baru,” ujarnya.

Terlebih pada kuartal ketiga 2017, sejalan dengan proyek pembangunan infrastruktur oleh pemerintah Indonesia, Atherton meyakini bisnis yang berkaitan dan tergantung sistem transportasi alias Transportation Oriented Development (TOD) di Indonesia akan mulai lebih mendapat perhatian dan valuasi yang lebih tinggi.

Sependapat dengan itu, Senior Economist Standard Chartered Bank Indonesia, Aldian Taloputra, mengatakan Indonesia semestinya mulai menjadi tujuan (destinasi) investasi langsung dari investor asing (Foreign Direct Investment/FDI) terutama pada semester kedua tahun ini.

Level inflasi Indonesia terjaga di kisaran 4 persen sampai 5 persen. Konsumsi pemerintah dan konsumsi swasta juga diprediksi lebih kuat pada separo kedua 2017.

”Kuncinya ada di investasi swasta. Tapi semester kedua ini sumber pertumbuhan akan lebih merata. Private consumtion yang pada musim Lebaran di luar dugaan sedikit melambat seperti penjualan kendaraan, ritel, dan lainnya, semester kedua bisa lebih tinggi,” yakinnya saat paparan di Pacific Place, Jakarta, Senin (24/07).

Sip! Sentimen untuk Investasi Semakin Kondusif

Aldian optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,2 persen pada 2017 dan berlanjut menjadi 5,5 persen pada 2018, dan 5,8 persen pada 2019.

Meski begitu memang kebanyakan riset tidak menyinggung faktor lain di luar aspek ekonomi. Tidak ada yang secara eksplisit memaparkan dampak dari perkembangan sisi sosial dan politik.

Di Indonesia juga sedang berkembang wacana terkait penurunan harga nilai tukar Rupiah atau biasa disebut redenominasi. Apakah itu berpengaruh terhadap investor asing karena mereka investasi dengan membawa mata uang non Rupiah? Bisa jadi.

Other Articles


Copyright @ 2016 Investasiku.co.id, All Rights Reserved