www.trimegah.com

Investasi Saham Untuk Biaya Kesehatan Anak

Presenter yang akrab disapa Farhan itu nabung saham secara jangka panjang dimulai pada 1996. Saham pertamanya PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM). Belakangan semakin terasa ternyata sangat bermanfaat untuk biaya kesehatan anak.



Cerita Investasiku

Investasi Saham Untuk Biaya Kesehatan Anak

15-Jan-2017 00:12:07 WIB | Online | Share
Investasi Saham Untuk Biaya Kesehatan Anak

investasiku.co.id - Tujuan Muhammad Farhan dalam berinvestasi di pasar modal cukup sederhana. Untuk memenuhi biaya kesehatan anak walaupun ternyata bisa jadi sekoci saat keadaan genting.

Presenter yang akrab disapa Farhan itu nabung saham secara jangka panjang dimulai pada 1996. Belum lama setelah lulus kuliah di Universitas Padjajaran, Bandung, pada 1995.

Saham pertamanya saat itu adalah PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM). ”Kita baru pada lulus. Teman saya jadi agen (penjual efek) jadi disuruh beli. Telkom, BNI, itu baru pada IPO,” kenangnya saat ditemui di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 30 Desember 2016.

Ajakan sang teman ternyata positif. Meski tidak terencana, ternyata dampak positifnya baru terasa ketika Farhan sudah menjalaninya selama bertahun-tahun.

”Bisa menutup biaya kesehatan anak-anak saja sudah cukup banget. Nggak lebih dari itu tujuan saya,” kata pria kelahiran Bogor, 25 Februari 1970, itu.

Maka target keuntungan yang dia tetapkan tidak muluk. Farhan menyebut portofolionya bisa tumbuh 12 persen per tahun saja sudah bagus.

”Itu sudah paling logis. Maka kalau ada yang nawarin ke saya lebih dari 12 persen, nggak lah!” tegas suami dari Aryatri itu.

Jika pada akhirnya keuntungan yang dia dapatkan dari investasi di pasar modal itu melebihi target ya bonus.

Sebab faktanya, kata Farhan, rata-rata pertumbuhan saham di bursa Indonesia memang lebih dari 12 persen yang menjadi patokan targetnya itu.

Teknis investasi saham ala Farhan terbagi dua. Pertama sebagai bentuk tabungan jangka panjang dan kedua, melakukan trading mingguan. ”Saya nggak (trading) harian,” dia mengaku.

Untuk saham sebagai bentuk tabungan, akan dipilih setidaknya tiga saham yang dinilai terbaik. Di tengah jalan bisa saja berubah sahamnya, tergantung situasi.

”Selebihnya untuk trading ya (jumlah sahamnya) tergantung. Bisa 10 saham, bisa kurang,” tuturnya.

Sekali dalam sebulan, semua portofolio investasinya dievaluasi. Pada akhir tahun, biasanya semua digabung menjadi satu terlebih dahulu dan diperlakukan sebagai tujuan investasi menabung jangka panjang.

”Switching ke nabung, dibikin averaging (dirata-rata keuntungannya),” Farhan menjelaskan.

Menjelang akhir kuartal pertama di tahun berikutnya akan dilihat situasi terbaru. Tujuannya untuk menentukan strategi investasi paling pas dan merealisasikan keuntungan.

”Nanti kita lihat. Kalau ternyata gain (keuntungan)nya bagus, sebagian profit taking. Tapi tetap ada yang kita keep untuk bicara 5 sampai 10 tahun,” terangnya.

Memang, rencana bisa saja berubah. Termasuk ketika menghadapi situasi sulit pada 2009, saat bisnis Farhan mengalami goncangan.

Ketika itu dia harus menarik semua dana investasinya untuk mendapatkan uang cash. ”Saya punya bisnis jeblok ya apa boleh buat,” kisahnya.

Butuh waktu sekitar 5 tahun bagi Farhan untuk merintis lagi investasi sahamnya. Tahun 2014 sudah mulai lagi dan mengincar saham-saham di sektor konsumer serta infrastruktur.

”Konsumsi sama infrastruktur lah itu yang paling benar. Ya, sejak setahun terakhir lah saya pilih sektor itu,” akunya.

Other Articles


Copyright @ 2016 Investasiku.co.id, All Rights Reserved