www.trimegah.com

Investasi Saham Untuk Biaya Kesehatan Anak

Presenter yang akrab disapa Farhan itu nabung saham secara jangka panjang dimulai pada 1996. Saham pertamanya PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM). Belakangan semakin terasa ternyata sangat bermanfaat untuk biaya kesehatan anak.



Memahami Risiko

Ini Fenomena di Balik Makna Sell on May and Go Away

2-May-2017 08:45:09 WIB | Online | Share
Ini Fenomena di Balik Makna Sell on May and Go Away

Investasiku.co.id – “Sell on May and Go Away.” Pernah dengar istilah itu? Memasuki bulan Mei, pelaku investasi di pasar modal terutama pasar saham, biasanya akan mulai berhadapan dengan satu fenomena yang menjadi cikal bakal lahirnya perkataan tersebut.

Istilah Sell On May and Go Away lahir dari pasar saham negara barat terutama di Amerika Serikat (AS). Dilihat secara statistik memang terbukti bahwa pada bulan Mei secara umum pasar saham AS mengalami pelemahan.

Kenapa itu bisa terjadi? Dikaji dari berbagai literasi baik dari sisi teknis investasi maupun secara sosial dan budaya, bisa disimpulkan bahwa Sell on May and Go Away sebenarnya bukan lah menjual saham pada bulan Mei lalu kemudian masuk pada bulan-bulan selanjutnya.

Lebih merujuk pada sebuah strategi investasi untuk menempatkan dana secara bergantian pada saham dan obligasi.

Di negara barat seperti AS dan Eropa, liburan musim panas merupakan bagian dari budaya. Momen tepat untuk menikmati hasil kerja atau hasil investasi pada periode setahun sebelumnya. Mereka bisa bepergian ke kota tujuan berlibur, negara lain, bahkan sampai tour ke beberapa negara.

Dalam rangka menikmati dan fokus pada liburan itu para investor tidak ingin terganggu dengan berita perkembangan pasar yang bisa memengaruhi portofolionya.

Maka salah satu cara terbaik adalah dengan keluar dari pasar saham terlebih dahulu baik itu untuk mengambil dana secara tunai sebagian maupun mengalihkan seluruhnya ke instrument investasi yang lebih stabil seperti obligasi Negara.

Baca Juga : Harga Komoditas Ini Biasanya Malah Naik Saat Terjadi Ketegangan Politik

Investor di Amerika cenderung keluar dari pasar saham saat liburan dan memilih investasi yang risikonya dianggap lebih rendah.

Di negara barat, liburan musim panas biasanya dimulai pada Mei sampai Juni, Juli, dan Agustus.

Kebalikan dari Sell On May, pada bulan Oktober seringkali disebut dengan Indikator Halloween. Itu merupakan sinyal bahwa pasar saham cenderung akan menguat di bulan tersebut.

Investor seringkali mengalihkan asetnya di bulan Mei dari ekuitas ke pasar uang, dan kembali lagi ke pasar saham sekitar bulan Oktober atau November.

Memang, Sell on May dan indikator Halloween tidak bisa dijadikan patokan penuh. Namun setidaknya bisa sekadar menjadi sinyal bagi kita akan adanya reversal / pembalikan arah di pasar.

Baca Lagi : Lari Duluan, Salah Satu Karakteristik Pasar Saham

Dari penelitian statistik terhadap Dow Jones dan S&P di AS, disebutkan seorang investor akan mendapatkan tingkat imbal hasil yang jauh lebih baik jika berinvestasi pada saham selama 6 bulan terbaik saham (dari November hingga April) dan mengalihkan ke Obligasi selama 6 bulan terburuk saham (dari Mei hingga Oktober).

Sebagai contoh, dari hasil penelitian, jika dilakukan investasi uang sebesar USD 10.000 pada tahun 1950 hingga 2007, dengan strategi di atas uang investasi akan berkembang menjadi USD 578.413 (naik 5.684 persen). Namun jika melakukan sebaliknya, maka dana tersebut akan tersisa USD 341 (turun 96,5 persen).

Bagaimana dengan di Indonesia? Masyarakat kita juga mengenal liburan sekolah pada periode pasca Mei. Maka bagi yang berencana liburan dan menikmati hasil investasinya, Sell on May and Go Away bisa jadi pilihan.

Tetapi yang lebih penting lagi adalah butuh dana untuk memasuki musim tahun ajaran baru di sekolah di berbagai level mulai dari Taman Kanak Kanak (TK) sampai perguruan tinggi. Maka kalau merujuk kepada alasan itu ya boleh saja investor melakukan aksi jual pada periode akhir April sampai Mei jika memang sudah dalam posisi untung.

Selain itu, rata-rata pada Mei mayoritas emiten (perusahaan tercatat) sudah melaporkan secara penuh kinerja pada kuartal pertama. Dari situ kita bisa menilai apakah investasi kita di saham tersebut sudah tepat atau belum.

Sebenarnya, secara statistic, pasar saham Indonesia yang tercermin dalam kinerja Indeks harga saham gabungan (IHSG) pada Mei tidak konsisten, malahan lebih banyak return positifnya.

Data Bursa Efek Indonesia (BEI) memerlihatkan secara rata-rata sejak 1984 sampai 2012 kinerja IHSG pada bulan Mei naik 2,44 persen. Pada 1988 sampai 2012 juga naik 2,84 persen, dan pada 1989 sampai 2012 naik 2,32 persen.

Pada Mei 2016, IHSG ternyata memang turun sebesar 0,86 persen. Sepanjang bulan itu terjadi capital outflow alias penjualan bersih oleh investor asing (foreign net sell) sebesar Rp 185 miliar.

Sebaliknya di bulan Mei 2015 IHSG naik 2,55 persen dan investor asing mencatatkan penjualan bersih sebesar Rp 3,460 triliun. Pada Mei 2014, IHSG juga naik 1,11 persen dan investor asing melakukan pembelian bersih sebesar Rp 8,089 triliun.

Lalu, Mei 2013 juga masih mampu menguat meski tipis sebesar 0,69 persen. Investor asing pada periode ini melakukan penjualan bersih sebesar Rp 356 miliar. Investor asing memang dominan melakukan aksi jual tetapi IHSG mampu menguat.

Bisa diartikan bahwa investor lokal yang merupakan masyarakat Indonesia tidak terlalu meyakini fenomena Sell on May and Go Away itu.

Simak Ini : Kenali Ini Ragam Istilah Untuk Bobot Rekomendasi Saham

Tahun 2017 ini, sepanjang Januari sampai April IHSG sudah mampu menguat sebesar 7,34 persen. Investor asing membukukan pembelian bersih atau terjadi capital inflow sebesar Rp 21,898 triliun. Secara rata-rata, pada periode itu investor asing konsisten melakukan aksi beli.

Lalu apa yang kemungkinan terjadi pada bulan Mei 2017? Apakah investor asing akan mulai melakukan aksi jual? Bagaimana juga performa IHSG? Coba kita lihat saja….pantau terus portofolio investasi anda…

Jangan Lupa : Reksa Dana Online Bisa Bantu Mulai Menata Masa Depan Lho

Other Articles


Copyright @ 2016 Investasiku.co.id, All Rights Reserved