www.trimegah.com

Investasi Saham Untuk Biaya Kesehatan Anak

Presenter yang akrab disapa Farhan itu nabung saham secara jangka panjang dimulai pada 1996. Saham pertamanya PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM). Belakangan semakin terasa ternyata sangat bermanfaat untuk biaya kesehatan anak.



Memahami Risiko

Ini Antara Emiten Berkinerja Positif dan Perusahaan Belum Disiplin

19-May-2017 09:04:11 WIB | Online | Share
Ini Antara Emiten Berkinerja Positif dan Perusahaan Belum Disiplin

Investasiku.co.id – Salah satu hal penting yang dinanti investor setiap memasuki bulan Mei adalah kinerja Perusahaan Tercatat (emiten) pada kuartal pertama. Mayoritas sudah melaporkan ke publik dan regulator terutama Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sehingga ada gambaran awal tentang prospek investasi untuk sepanjang tahun.

Dari data diumumkan BEI, secara rata-rata kinerja emiten di Indonesia memang positif. Meskipun, ada saja perusahaan yang masih belum bisa disiplin dengan berbagai alasan atau situasi bisnisnya sehingga belum bisa melaporkan hasil kerja pada sepanjang tiga bulan di awal tahun 2017.

Padahal salah satu prinsip yang harus dijalankan perusahaan publik terutama yang sahamnya tercatat di BEI adalah disiplin dalam keterbukaan informasi. Sebab menyangkut kepentingan banyak pihak terutama investor dan lebih khusus lagi investor yang memegang sahamnya baik secara langsung maupun dalam bentuk reksa dana.

Baca: Cermati Cara Pilih Saham Untuk Ditabung Secara Jangka Panjang

Catatan BEI sampai 15 Mei 2017 sebanyak 74 emiten yang belum lapor kinerja di tiga bulan awal tahun ini. Konsekuensinya mereka menerima Surat Peringatan Pertama dari BEI.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Samsul Hidayat, mengatakan dari sebanyak 74 emiten yang terlambat itu, sebanyak 12 emiten di antaranya mengaku berencana menyampaikan laporan keuangan kuartal pertama 2017 ditelaah secara terbatas.

Kemudian sebanyak 8 perusahaan lainnya berencana segera menyampaikan laporan keuangan triwulan pertama 2017 audit. Sisanya belum memberikan informasi.

Meski begitu, dari yang sudah menyampaikan kinerjanya, BEI menyimpulkan bahwa secara rata-rata kinerja emiten pada awal tahun ini positif. ”Dari data yang telah kami peroleh, khususnya perusahaan tercatat saham, berdasarkan rekapitulasi dari 415 perusahaan tercatat, dapat disimpulkan bahwa kinerja perusahaan tercatat triwulan pertama 2017 mengalami peningkatan,” ungkapnya di gedung BEI, Kamis (18/05).

Secara rinci, sebanyak 326 perusahaan tercatat berhasil membukukan laba bersih. Kemudian sebanyak 247 perusahaan tercatat tersebut mengalami peningkatan laba bersih, sebaliknya sebanyak 168 perusahaan tercatat mengalami penurunan laba bersih.

Selain itu terdapat sebanyak 89 emiten yang mengalami rugi bersih. Tercatat juga sebanyak 7 emiten membukukan ekuitas negatif.

Secara kumulatif, dari rekapitulasi atas 415 perusahaan tercatat, data-data perusahaan tercatat di triwulan pertama 2017 mengalami kenaikan total aset sebesar 11,4 persen menjadi Rp 8.850,45 triliun dibandingkan Rp 7.946,36 triliun pada triwulan pertama 2016.

Total ekuitas perusahaan tercatat meningkat 14,5 persen menjadi Rp 2.467,036 triliun dibandingkan Rp 2.154,67 triliun. Pendapatan perusahaan emiten juga naik 6,5 persen dari Rp 618,80 triliun pada triwulan pertama 2016 menjadi Rp 659,32 triliun pada triwulan pertama tahun ini.

Adapun laba bersih emiten yang sudah melaporkan kinerja di kuartal pertama tahun ini naik 14,7 persen menjadi Rp 79,77 triliun dibandingkan Rp 69,51 triliun pada triwulan pertama tahun lalu.

”Kami mencatat terdapat dua sektor yang mengalami peningkatan kinerja cukup tinggi pada kuartal pertama 2017 yaitu mining (pertambangan) dan agriculture (perkebunan),” kata Samsul.

Laba kumulatif emiten di sektor pertambangan mencapai kenaikan di atas 100 persen. Hal itu disebabkan melesatnya laba beberapa emiten di sektor ini. Contohnya PT Bayan Resources Tbk (BYAN) yang meraih laba sebesar USD 55,97 juta dibandingkan USD 1,3 juta pada periode sama tahun lalu.

Kenaikan kinerja perusahaan pertambangan terutama didorong peningkatan harga batu bara yang mengalami kenaikan mencapai 74 persen pada triwulan pertama tahun ini dibandingkan periode sama 2016.

Baca Juga : Saham Sektor Pertambangan Juara 2016

Di sektor perkebunan, peningkatan laba kumulatif juga terjadi, bahkan dengan kenaikan lebih dari 100 persen. Contoh PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) yang meraih laba bersih Rp 469,7 miliar atau kali 10 lebih tinggi dibandingkan Rp 45 miliar pada triwulan pertama 2016.

Wajar saja, harga minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) juga naik signifikan sekitar 34 persen pada tiga bulan di awal tahun ini dibandingkan periode sama tahun lalu.

”Kinerja emiten bagus. Pada triwulan pertama ini 70 persen laporan keuangan kita emitennya mencatatkan laba. Jadi ini merupakan suatu indikasi baik karena harusnya di semester pertama biasanya merepresntasi semua data keuangan performa emiten (sepanjang) 2017,” ungkap Samsul.

Sedangkan untuk emiten nakal yang masih belum menyampaikan kinerjanya di triwulan pertama tahun ini, kata Samsul, akan terus dilakukan pemantauan. Setelah jatuh sanksi Surat Peringatan Pertama, akan berlanjut ke Surat Peringatan Kedua jika masih belum ada perkembangan pada bulan berikutnya.

Foto: Nightwriterpoet

Other Articles


Copyright @ 2016 Investasiku.co.id, All Rights Reserved