www.trimegah.com

Investasi Saham Untuk Biaya Kesehatan Anak

Presenter yang akrab disapa Farhan itu nabung saham secara jangka panjang dimulai pada 1996. Saham pertamanya PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM). Belakangan semakin terasa ternyata sangat bermanfaat untuk biaya kesehatan anak.



Merencanakan Masa Depan

Ibarat Sedia Payung Sebelum Tua

23-Feb-2017 09:38:37 WIB | Online | Share
Ibarat Sedia Payung Sebelum Tua

investasiku.co.id - Muda hura-hura, tua kaya raya, mati masuk surga. Ungkapan itu sering kita dengar dalam keseharian sebagai gambaran ideal menikmati kehidupan. Mungkin kah kita bisa begitu? Mungkin saja.

Tapi, kita lupakan dulu soal poin pertama yaitu saat usia muda hura-hura. Selain ukuran hura-hura itu relatif, secara umum kesannya juga identik dengan menghamburkan uang. Padahal kunci untuk bisa kaya raya di hari tua adalah disiplin mengelola finansial. Terutama dengan cara investasi.

Ok, sekarang kita fokus pada harapan kaya raya di usia tua sehingga bisa menikmati hidup dengan tenang, ibadah dengan tenang, dan berharap masuk surga.

Kaya raya seperti apa yang kita inginkan di usia tua itu tergantung dari ekspektasi masing-masing. Yang penting, kita sepakati bahwa intinya adalah tidak kesusahan, tidak stress gara-gara uang untuk kebutuhan harian saja mepet, dan bisa tinggal di tempat yang nyaman.

Apakah mungkin hal itu kita raih? Sangat mungkin. Hanya saja, memang, kebanyakan masyarakat di negara berkembang termasuk di Indonesia masih belum banyak yang menyadari untuk segera menyusun rencana dan merealisasikan sejak usia muda.

Ben Bernanke, mantan Chairman bank sentral Amerika Serikat, The US Federal Reserve (The Fed) pada 2008 melakukan observasi. Kebetulan saat itu memang terjadi krisis finansial.

Hasilnya, dia katakan, ”The financial preparedness of our nation’s youth is essential to their well-being and of vital importance to our economic future. In the light of the problems that have arisen in the subprime mortgage market. We are reminded of how critically important it is for individuals to become financially literate at an early age so that they are better prepared to make decisions and navigate and increasingly complex financial marketplace.”

Secara umum, dari statementnya itu dia menegaskan bahwa betapa penting bagi para generasi muda pada sebuah bangsa untuk mulai melek finansial. Sangat penting dampaknya untuk masa depan ekonomi baik secara individu maupun negara.

Sebab di AS, menurut dia, krisis subprime mortgage yang bermula dari sektor properti itu sebagai dampak ketidakpahaman masyarakat. Jika masyarakat lebih melek terhadap sektor keuangan dan melakukan investasi secara tepat, hal seperti itu bisa dihindari.

Ungkapan Bernanke itu juga dikutip Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman D Hadad saat berbicara di depan mahasiswa pada Agustus 20016. Menurutnya, itu semakin menegaskan bahwa menyiapkan para remaja kita untuk memiliki pemahaman keuangan yang memadai adalah vital, tidak hanya bagi diri mereka sendiri dalam mengambil keputusan keuangan tetapi juga bagi stabilitas ekonomi suatu negara.

Setelah melewati Global Financial Crisis tahun 2007-2009, pentingnya literasi keuangan menjadi perhatian di berbagai belahan dunia. Literasi keuangan yang memadai selain dipercaya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat, juga dapat mencegah terjadinya miss seling produk-produk keuangan yang merupakan salah satu penyebab terjadinya global financial crisis pada waktu itu.

Pengetahuan keuangan investor dan customer yang kurang memadai adalah pemicunya. ”Dalam beberapa tahun terakhir ini kita saksikan begitu pesatnya perkembangan produk dan layanan keuangan yang ditawarkan oleh industri jasa keuangan. Produk-produk keuangan yang ditawarkan menjadi semakin kompleks,” kata Muliaman.

Belum lagi dengan semakin pesatnya perkembangan dunia Financial Technology (FinTech) yang menawarkan berbagai layanan dan produk keuangan yang sangat inovatif.

Hasil research dari ADB Institute yang dipublikasikan tahun 2015 dengan judul “Financial Education in Asia: Assessment and Recommendations” membandingkan korelasi antara GDP (Gross Domestic Product) alias Pertumbuhan Domestik Bruto per kapita dengan beberapa indikator financial development di beberapa negara Asia Pasifik.

Riset itu menghasilkan bahwa ada hubungan yang positif antara pendapatan per kapita dengan financial development. Di beberapa negara Asia seperti, Jepang, Korea, Australia dan New Zealand, terlihat bahwa dengan GDP per kapita yang tinggi maka selalu diiringi dengan tingkat financial development yang tinggi juga.

Hasil survei OJK pada 2016 menunjukan indeks literasi keuangan masyarakat indonesia baru sebesar 21,84 persen dan indeks inklusi keuangan sebesar 59,74 persen. Masih relatif rendah.

Sebesar 96,81 persen masyarakat dalam survei tersebut memang mengaku memiliki tujuan keuangan. Tapi mayoritas masih untuk jangka pendek. Sebab sebesar 49,11 persen di antaranya adalah untuk memenuhi kehidupan sehari-hari, diikuti sebesar 17,68 persen untuk bertahan hidup, dan sebesar 8 persen untuk biaya pendidikan anak.

Baca: Investasi Saham ala Farhan Untuk Kesehatan Anak


Nah sudah saatnya jika ingin masa depan lebih cerah, lebih pahami tentang investasi dan segera memulainya. Ada banyak cara dan ada banyak pilihan investasi. Yang penting disiplin dalam menjalankannya.

Tahapannya bisa dimulai dari menghitung dan menentukan usia pensiun, membuat tabungan darurat untuk kebutuhan jangka pendek misalnya per tahun, dan mulai lah punya cita-cita bahagia di usia tua dan bercita-cita sejak dini kelak bisa memberikan warisan.

Maka benar kata pepatah; sedia payung sebelum tua. Ups sebelum hujan! Kira-kira maknanya sama lah.

Other Articles


Copyright @ 2016 Investasiku.co.id, All Rights Reserved