www.trimegah.com

Investasi Saham Untuk Biaya Kesehatan Anak

Presenter yang akrab disapa Farhan itu nabung saham secara jangka panjang dimulai pada 1996. Saham pertamanya PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM). Belakangan semakin terasa ternyata sangat bermanfaat untuk biaya kesehatan anak.



Memahami Risiko

Harga Komoditas Ini Biasanya Malah Naik Saat Terjadi Ketegangan Politik

25-Apr-2017 11:21:28 WIB | Online | Share
Harga Komoditas Ini Biasanya Malah Naik Saat Terjadi Ketegangan Politik

Investasiku.co.id – Tetap ada yang diuntungkan bahkan dalam situasi sulit sekali pun. Dalam berinvestasi, penting mengamati segala situasi dan imbasnya terhadap berbagai jenis produk investasi agar bisa segera disikapi.

Baru-baru ini, ramai berita tentang ketegangan di beberapa negara. Amerika Serikat (AS) dikabarkan lancarkan serangan udara ke Suriah. Lalu ada ketegangan di semenanjung Korea antara Korea Utara dengan Korea Selatan yang diikuti kesiapan negara besar seperti AS, Rusia, dan China, untuk ikut terlibat.

Dari pos ekonomi, berita yang muncul kemudian adalah tentang kenaikan harga komoditi emas dan termasuk kenaikan harga minyak dunia.

Dampaknya juga sampai Indonesia. Pada 17 April 2017, misalnya, PT Aneka Tambang Tbk (kode saham: ANTM) mengumumkan harga emas batangan atau Logam Mulia (LM)-nya naik Rp 2.000. Harga buyback (pembelian kembali)nya juga naik.

Harga emas batangan pecahan 1 gram di Butik Pulogadung, Jakarta, misalnya hari itu naik ke posisi Rp 600.000/gram dibandingkan posisi perdagangan pekan sebelumnya Rp 598.000 per gram.

Harga pembelian kembali oleh perusahaan yang biasa disingkat Antam juga naik Rp 3.000 menjadi Rp 543.000 per gram dibandingkan posisi pekan sebelumnya Rp 540.000 per gram.

Analis bank Intesa Sanpaolo SpA di Milan, Daniela Corsini, mengatakan harga emas berpeluang mencapai level USD 1.350 per troy ounce seiring dengan meningkatnya inflasi serta memanasnya ketegangan geopolitik di Rusia, Suriah, dan Korea Utara.

Menurut Corsini yang disebut-sebut analis harga emas terbaik itu, grafik harga emas bisa membentuk pola "V" pada tahun 2017 ini. Mengutip data Bloomberg di Bisnis Indonesia, potensi anjloknya harga di pertengahan 2017 terjadi akibat proyeksi bank sentral AS, The Fed, yang kembali menaikkan suku bunga.

Sebagai informasi, The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menuju 0,75 persen sampai 1 persen pada Rabu (15/3/2017). Bank Sentral AS itu rencananya akan mengerek suku bunga sebanyak tiga kali pada 2017.

Corsini menuturkan, emas akan mulai bangkit kembali setelah mengalami periode anjlok. Pada penghujung 2017, harga diprediksi mencapai USD 1.350 per troy ounce.

”Pasar pasti mengalami rasa gugup di tengah ketidakpastian. Dan jika data ekonomi AS tetap kuat, emas akan memainkan perannya sebagai aset lindung nilai inflasi,” ujar Corsini seperti dikutip dari Bloomberg, Rabu (19/4/2017).


Baca Juga : Reksa Dana Pasar Uang Laris Manis Seiring Penguatan Rupiah

Begitu lah, seperti dikatakan Corsini, suku bunga memang menjadi salah satu faktor yang bisa memengaruhi harga emas. Ketika suku bunga naik, harga emas cenderung turun. Begitu juga sebaliknya.

Di Indonesia juga sama. Meskipun faktanya tidak selalu ada dampak otomatis. Tidak selalu setiap perubahan suku bunga memengaruhi harga emas.

Situasi politik global juga berpengaruh terhadap harga LM itu. Ketika terjadi ketidakpastian situasi akibat ada dua atau sejumlah negara bersitegang, pasar saham guncang. Begitu juga pasar uang.

Memilih produk aman, investasi kemudian dialihkan ke emas. Akibatnya, terjadi kenaikan permintaan. Situasi tersebut otomatis membuat harga produk si kuning mengilap itu menjadi naik.

Pola pergerakan harga emas selalu hampir sama dengan harga minyak. Saat terjadi ketegangan di semenanjung Korea itu misalnya, atau ada jalur di Afrika yang sedang menjadi titik ketegangan antar negara-negara berkepentingan, atau saat ada serangan ke negara di Timur Tengah, harga minyak naik.

Ada asumsi bahwa ketidakpastian global, ketegangan di kawasan tertentu, akan menghambat jalur distribusi minyak global. Maka dikhawatirkan berpotensi terjadi kekurangan pasokan.

Di sisi lain juga ada yang beranggapan bahwa pihak tertentu yang sedang bersitegang membutuhkan pasokan minyak lebih banyak. Harga kemudian naik. Atau ternyata di wilayah konflik ada sumur minyak dan termasuk penghasil minyak skala besar sehingga bisa mengganggu angka produksi global, harga juga kemudian naik.

Berbagai situasi seperti itu perlu disikapi lebih cermat. Sebagai investor, ada baiknya membandingkan antara satu informasi dengan informasi dari sumber lainnya. Dikaitkan juga dengan situasi dalam negeri.

Jika memang tidak terdapat potensi dampak langsung, kenaikan harga emas dan minyak, misalnya, bukan berarti harus disikapi dengan langsung membeli komoditi emas.

Sebagai investor di pasar modal kita bisa memanfaatkan momen tersebut dengan membeli saham perusahaan penghasil emas seperti ANTM atau PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA). Begitu juga terhadap saham yang berkaitan dengan komoditi minyak.

Lebih dari itu semua memang penting untuk selalu update informasi. Memerhatikan berbagai perkembangan yang terjadi dan dikaitkan dengan portofolio investasi yang kita miliki.

Foto: pexels

Other Articles


Copyright @ 2016 Investasiku.co.id, All Rights Reserved