www.trimegah.com

Investasi Saham Untuk Biaya Kesehatan Anak

Presenter yang akrab disapa Farhan itu nabung saham secara jangka panjang dimulai pada 1996. Saham pertamanya PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM). Belakangan semakin terasa ternyata sangat bermanfaat untuk biaya kesehatan anak.



Mengenal Produk Investasi

Dengan Cara Ini Surat Utang Bisa Berubah Jadi Saham

30-May-2017 19:24:38 WIB | Online | Share
Dengan Cara Ini Surat Utang Bisa Berubah Jadi Saham

Investasiku.co.id – Baru-baru ini ramai diberitakan tentang Obligasi Wajib Konversi (OWK) dari PT Bumi Resources Tbk (BUMI). Menjadi ramai karena terjadi perubahan harga dibandingkan pengumuman awal. Ada baiknya kita pahami lagi tentang istilah apa saja yang bisa mengubah surat utang menjadi saham.

Dalam kasus BUMI, terjadi perubahan harga pelaksaaan OWK menjadi Rp 1 per unit dari sebelumnya Rp 926,16 per unit. Perseroan memutuskan melakukan aksi korporasi itu sebagai bagian dari upaya restrukturisasi utang perusahaan.

Sekretaris Perusahaan dan Direktur BUMI Dileep Srivastava menjelaskan, perubahan dilakukan setelah melakukan konsultasi dengan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).

Baca : Mengenal SRO di Pasar Modal

”Kami berkonsultasi dengan KSEI terkait obligasi wajib konversi, dan memutuskan untuk menurunkan denominasi dari Rp926,16 per unit menjadi Rp1 per unit demi memermudah penerbitan tanpa warkat (scriptless),” kata dia seperti dikutip CNN Indonesia, Rabu (24/05).

Baca Juga : Banyak Saham Terlantar Sejak Sistem Konvensional Ditinggalkan

Meski denominasi berubah, manajemen menegaskan nilai nominal OWK dan jumlah saham dari konversi tidak diubah. Untuk menyesuaikan itu, jumlah unit OWK yang diterbitkan ditambah menjadi 8,45 triliun dari sebelumnya sebanyak 9,13 miliar.

”Jumlah saham dari konversi OWK akan mengacu pada harga konversi yang berlaku pada saat konversi,” dia menjelaskan.

Penghitungan konversi pemilik saham berubah dari sebelumnya 100 saham untuk 15 OWK, menjadi 100 saham untuk 23.089 unit dengan harga Rp 1 per OWK.

Selain OWK, restrukturisasi akan dilakukan dengan penerbitan saham baru melalui hak memesan efek terlebih dulu (HMETD) alias rights issue. Jumlah saham yang diterbitkan untuk kebutuhan restrukturisasi utang mencapai 28,75 miliar saham.

Maka total saham setelah penerbitan tersebut akan menjadi 65,38 miliar. "Sesuai rencana efektif tanggal 26 Juni, kami optimistis akan mendapatkan efektif dari OJK. Perusahaan dan institusi bantu kami mendapatkan itu dari OJK,” dia yakin.

Pada contoh kasus BUMI, jika dicermati, ada dua cara yang ditempuh dalam rangka restrukturisasi utangnya itu. Pertama penerbitan saham baru alias rights issue dan kedua OWK.

Bukan kah semestinya cukup dengan rights issue saja? Kenapa harus ada OWK? Nah untuk itu kita perlu mengetahui definisi dan fungsinya.

Dari berbagai literasi, obligasi konversi atau biasa dikenal dengan nama convertible bond, adalah suatu jenis obligasi yang dapat dikonversikan menjadi saham dari perusahaan penerbit obligasi dan biasanya pada rasio pertukaran yang sudah ditentukan terlebih dahulu pada penerbitan obligasi tersebut.

Ini merupakan sekuriti (pendanaan) hibrida yaitu suatu sekuriti yang terdiri dari dua unsur yaitu utang dan ekuitas. Walaupun demikian biasanya obligasi konversi ini memiliki tingkat suku bunga kupon yang rendah dimana pemegang obligasi dianggap telah menerima kompensasi berupa suatu kesempatan untuk menukarkan atau mengonversikan obligasinya dengan saham biasa dengan harga yang lebih rendah dari harga saham tersebut di pasaran.

Bagi penerbit atau dalam contoh kasus ini yaitu BUMI, menerbitkan obligasi konversi memberikan beberapa keuntungan. Terutama, pembayaran bunga yang lebih rendah kepada investor.

Tapi juga bukan berarti tanpa risiko. Penerbit obligasi konversi berpotensi mengalami dilusi alias pengurangan kepemilikan saham pada saat konversi terealisasi. Sebab jumlah pemegang sahamnya akan menjadi lebih banyak.

Simak Juga: Pahami Efek Dilusi Right Issue

Walaupun, dalam kasus BUMI ini belum tentu dilusi terjadi. Sebab pada saat yang sama perseroan juga menerbitkan saham baru (rights issue) untuk publik.

Aksi korporasi OWK yang dipilih BUMI dalam istilah global disebut:

Mandatory Convertibles

Artinya, obligasi wajib konversi. Biasanya adalah obligasi jangka pendek dan memiliki imbal hasil tinggi yang wajib dikonversikan menjadi saham biasa berdasarkan harga pasaran yang berlaku pada saat konversi

Aksi korporasi yang terdengar hampir sejenis tapi sebenarnya memiliki perbedaan cukup signifikan dari ragam obligasi konversi antara lain:

Exchangeable Convertibles

Dalam Bahasa Indonesia disebut dengan obligasi tukar. Yaitu suatu obligasi dimana saham yang menjadi aset dasar obligasi tersebut adalah merupakan saham dari perusahaan yang berbeda dari perusahaan penerbit obligasi.

Contingent Convertibles (Co-Co)

Obligasi konversi bersyarat atau Contingent Convertibles (co-co) merupakan obligasi konversi dengan persyaratan bahwa investor hanya diperkenankan untuk melakukan konversi obligasinya menjadi saham perusahaan apabila harga saham yang berlaku di pasar modal mencapai persentase tertentu di atas harga konversi.

Contoh: Sebuah obligasi konversi bersyarat dengan nilai saham perusahaan yang menjadi aset dasarnya senilai Rp 1.000 pada saat penerbitan obligasi. premi konversi 30 persen, dan syarat pemicu konversi 120 persen.

Maka obligasi tersebut dapat dikonversikan ke saham dengan nilai konversi per sahamnya adalah Rp 1.300 hanya apabila harga saham di pasaran berada di atas harga Rp 1.560 (120 persen dari 1.300) dalam suatu masa yang ditentukan yang biasanya dalam masa 20 hari sebelum akhir kuartal.

Fitur konversi bersyarat atau co-co ini sering digunakan oleh penerbit obligasi sebab saham yang menjadi aset acuan atau aset dasar obligasi tidak perlu dimasukkan menjadi perhitungan dilusi Rasio laba terhadap saham beredar (earning per share/EPS) selama saham tersebut diperdagangkan di bawah harga konversi bersyarat.

Sebaliknya pada obligasi konversi tanpa syarat mengakibatkan terjadinya dilusi saham beredar yang dengan demikian mengurangi rasio laba terhadap saham beredar. Akibat dari dilusi saham beredar itu dihitung dengan menggunakan metode "as-if-converted", yang menggunakan nilai EPS konservatif.

Perubahan yang terjadi pada Prinsip akuntansi umum atau Generally Accepted Accounting telah menghilangkan perlakuan khusus pada obligasi konversi bersyarat ini sehingga jenis obligasi ini tidak populer lagi di kalangan penerbit obligasi.

Convertible Preferred Stock

Yaitu obligasi konversi saham preferen. Serupa obligasi biasa namun memiliki peringkat senioritas lebih rendah dalam struktur permodalan.

Foto: cnptraining.com

Other Articles


Copyright @ 2016 Investasiku.co.id, All Rights Reserved