www.trimegah.com

Investasi Saham Untuk Biaya Kesehatan Anak

Presenter yang akrab disapa Farhan itu nabung saham secara jangka panjang dimulai pada 1996. Saham pertamanya PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM). Belakangan semakin terasa ternyata sangat bermanfaat untuk biaya kesehatan anak.



Memahami Risiko

Charles Ponzi dan Skema Menipu Ala Produk Investasi Palsu

30-Apr-2017 17:35:38 WIB | Online | Share
Charles Ponzi dan Skema Menipu Ala Produk Investasi Palsu

Investasiku.co.id – Kerugian akibat praktik investasi palsu alias bodong nilainya sangat tinggi. Minimal Rp 45 triliun. Yuk kenali karakteristik dan modusnya sekaligus pelajari tips agar bisa terhindari dari tawaran menggiurkan para penipu itu.


Dalam grafik karakteristik dan modus investasi palsu seperti dipaparkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), praktik merugikan itu tidak terlepas dari kehadiran Skema Ponzi (Ponzi Scheme).

Yaitu penipuan yang didasarkan pada perekrutan sejumlah investor dimana promotor awal atau biasa disebut orang-orang yang ada di puncak piramida, merekrut investor.

Nantinya investor yang direkrut juga akan membawa banyak investor lain yang mungkin ditujukan untuk menjual produk atau pun tidak dalam rangka menjual produk.

Skemanya digambarkan seperti ini:



Asal Usul Skema Ponzi

Sistem itu kali pertama digunakan memang oleh seseorang bernama Ponzi. Carlo Ponzi lebih lengkapnya.

Dari berbagai literasi, disebut-sebut Ponzi adalah penipu terbesar dalam sejarah Amerika. Dilahirkan dengan nama Carlo Pietro Giovanni Guglielmo Tebaldo Ponzi di Lugo, Italia. Riwayat hidupnya 3 Maret 1882 sampai 18 Januari 1949.

Sistem piramida dimaksud dalam skema tersebut identik dengan nama Ponzi karena dia yang dianggap sejarah sebagai orang yang paling berhasil menggunakannya. Tapi tujuannya untuk menipu. Bukan hanya menipu dalam jumlah yang besar tetapi juga mendapat sorotan luas. Kejadiannya di sekitar tahun 1920.

Memang Ponzi bukan penipu terbesar sepanjang sejarah. Saat itu diahanya berhasil mengumpulkan dana sebesar USD 7 juta atau disetarakan dengan 10 ton emas.

Masih kalah jika dibandingkan dengan kasus Bernie Madoff. Sebab pada 2008, Bernie Madoff terungkap gelapkan dana sebesar USD 50 milyar atau kira-kira setara 1.720 ton emas. Sebesar 172 kali lebih besar dibandingkan Ponzi.

Tapi tetap saja, bicara sistem piramida, Ponzi yang paling identik sekaligus pelopor. Secara pribadi, Ponzi diceritakan sebagai seorang penjudi dan selama dalam pelayaran dari Italia ke AS, uangnya dihabiskan di meja judi.

Baca lagi : Hati Hati Perangkap Imbal Hasil Tinggi Investasi Palsu

Pandangan Ponzi yang berhasil diungkap dan penting untuk kita ketahui dalam rangka investasi secara garis besar seperti ini:

1. Orang tidak berpikir panjang ketika melihat potensi keuntungan yang besar atau ditawari keuntungan yang besar. Lebih-lebih kalau sudah ada contohnya. Bisnis proposal yang ditawarkan harus menarik dan mudah dimengerti, walaupun tidak masuk akal.

2. Sekali namanya dikenal, maka orang dengan sendirinya akan berbondong-bondong datang menyerahkan uangnya. Bahkan calon korbannya akan menanamkan lagi uang demi keuntungan’yang diharapkan kelak diterimanya, sehingga pengumpulan uang semakin pesat.

3. Pada suatu fase, terjadi semacam pola herd mentality. Semacam tren saling mengikuti. Sebuah situasi mentalitas ikut arus kuat. Berharap semakin banyak orang latah.

Dari situ, ada baiknya kita mulai lebih waspada saat mulai berinvestasi. Sampai 2014 saja data tercatat di OJK, kerugian minimal akibat kasus investasi bodong sudah mencapai Rp 45 triliun. Semuanya dana nasabah yang tersangkut di berbagai investasi palsu itu.

Baca Ini : Waspada, Hantu Investasi Bodong Masih Berkeliaran

Tips Hindari Investasi Bodong

1. Sebelum berinvestasi, cari tahu informasi mengenai perusahaan, karyawan, dan produknya
2. Minta salinan tertulis rencana pemasaran dan penjualan dari perusahaan
3. Hindari promotor yang tidak dapat menjelaskan rencana bisnis perusahaan
4. Cari tahu apakah ada permintaan untuk produk sejenis di pasaran
5. Semakin besar keuntungan yang diimingi, semakin besar risiko kerugian yang berpotensi terjadi

Foto : Wikipedia

Other Articles


Copyright @ 2016 Investasiku.co.id, All Rights Reserved