www.trimegah.com

Investasi Saham Untuk Biaya Kesehatan Anak

Presenter yang akrab disapa Farhan itu nabung saham secara jangka panjang dimulai pada 1996. Saham pertamanya PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM). Belakangan semakin terasa ternyata sangat bermanfaat untuk biaya kesehatan anak.



Cerita Investasiku

Brandon Fleisher Jadi Bukti Generasi Milenial Jago Investasi

30-Jun-2017 20:19:10 WIB | Online | Share
Brandon Fleisher Jadi Bukti Generasi Milenial Jago Investasi

Investasiku.co.id – Brandon Fleisher (19 tahun) membuktikan bahwa generasi milenial memiliki kesempatan besar untuk menyiapkan masa depan dengan cara berinvestasi. Sweet seventeen yang dia lewati justru hati pada pasar saham dan passion-nya itu memberikan keuntungan signifikan.

Cerita investasi Fleisher sebenarnya sudah mengemuka sejak pertengahan 2015. Saat itu usianya 17 tahun dan dari investasi saham yang dia jalani sudah mampu membukukan keuntungan kali tiga lebih tinggi dari modalnya.

Kisahnya bisa jadi inspirasi sekaligus penyemangat kaum muda baik itu generasi (gen) Y maupun gen Z bahwa keuntungan berinvestasi milik semua orang. Milik mereka yang mau menyadari dan memelajari pentingnya memersiapkan diri menghadapi masa depan sejak dini.

Baca Lagi : Kalian Para Gen Z Saatnya Atur Uang Demi Masa Depan

Dirangkum dari hasil wawancara CNNMoney dan NextShark, Fleisher yang ketika itu masih SMA mampu mengubah asetnya dari USD 48.000 menjadi USD 147.000 di pasar saham. Bagi orang seusianya, tentu saja itu mengundang decak kagum.

Remaja asal Toronto, Kanada, itu kali pertama diperkenalkan dengan bursa saham saat usia sekitar 13 tahun. Saat itu kebutulan guru matematika menerapkan pola belajar dengan metode permainan. ”Saya diperkenalkan untuk berinvestasi di kelas matematika saya. Seluruh kelas melakukan permainan memilih saham ini. Kami harus memilih satu saham dan kami tidak bisa membeli atau menjualnya lagi,” kisahnya.

Dari satu saham dipilih itu kemudian nantinya dilihat siapa yang kemudian meraih keuntungan paling banyak.

Permainan (belajar) sederhana itu ternyata membekas di benak Fleisher. Sebab setelah itu dia terpacu untuk mulai memelajari semua yang dia bisa tentang industri pasar modal, terutama pasar saham. Dia mengutip sebuah buku dari Peter Lynch yang berjudul "One Up on Wall Street," yang menurutnya merupakan fondasi bagi gaya investasinya.

”Saya akan mengamati laporan perusahaan dan laporan SEC (Security and Exchange Commissions) untuk pada dasarnya mengajari diri sendiri tentang apa yang saya tidak tahu. Saya akan membaca laporan dan melihat 'laba per saham' - sebelum saya tahu artinya, saya akan menghasilkan laba bersih per saham atau EPS (Earning per Share) dari Google dan kembali ke laporan. Begitulah saya akan mengajari diri sendiri apa yang tidak saya ketahui dengan membaca laporan ini,” dia bercerita.

Sebagai cara berlatih, Fleisher melakukan investasi saham virtual dengan uang palsu. Hasilnya ternyata positif. Setelah itu dalam hatinya berharap orangtuanya memberikan uang agar dia bisa benar-benar investasi secara riil di pasar saham.

”Saya mungkin memberi mereka (orangtua) sekitar 20 persen (keuntungan). Ketika salah satu saham saya naik, saya akan mengambil screenshotnya dan mengirimkannya ke ayah saya dan berkata, 'Jika ini benar-benar uang Anda akan habis sebanyak ini! Ayah, Anda harus berinvestasi dengan uang sungguhan karena Anda akan menghasilkan jumlah ini,” pikirnya.

Permintaan dukungan itu kemudian direalisasikan. Setelah banyak meyakinkan, orang tua Fleisher yang mempunyai ibu seorang dokter gigi dan ayahnya yang menjalankan bisnis memo logam, menyerah dan menandatangani sebuah portofolio dengan tabungan sebesar USD 48.000 untuk diinvestasikan. Fleisher berusia 15 tahun saat itu.

Simak Juga : Saatnya Perbanyak Investasi Sebab Situasi Pensiun Sulit Diprediksi

Keuntungan Dimulai

Dalam dua tahun saja, Fleisher mampu melipatgandakan uang dari orangtuanya. Beberapa sahamnya yang paling sukses di antaranya perusahaan produsen otomotif Tesla dan perusahaan pendatang baru Netflix, yang nilainya naik lebih dari kali tiga.

Dia mengaku bahwa orangtuanya bangga padanya. Tapi dia tidak akan memiliki akses uang untuk saat itu karena dia masih di bawah umur.

”Mereka pasti tidak mengharapkan saya melipatgandakan uang dalam tiga tahun. Saya juga tidak. Saya benar-benar mengubah passion hidup saya ke investasi. Dan itu adalah sesuatu yang akan saya lakukan selama sisa hidup saya,” tekadnya.

Cara Fleisher Berinvestasi

Tidak seperti pendekatan konvensional lainnya yang lebih menyarankan generasi muda untuk tanam investasi melalui reksa dana atau Exchange Traded Fund (ETF), Fleisher lebih memilih berinvestasi langsung. Dia pilih saham yang menurutnya perusahaan kecil tapi menguntungkan.

”Saya berinvestasi di saham kecil (small cap) daripada perusahaan besar seperti Apple, Google. Alasan saya melakukan itu adalah karena dengan perusahaan kecil, mereka masih punya banyak waktu untuk tumbuh,” ungkapnya.

Industri, menurutnya, bisa tumbuh dan mereka para perusahaan kecil memiliki ruang untuk tumbuh. ”Anda juga bisa tahu ke mana mereka pergi. Tapi dengan Apple, yakin penjualan iPhone tumbuh 10 persen, namun penjualan iPod turun 2 persen dan penjualan earphone turun 3 persen. Selalu ada sesuatu,” tuturnya.

Fleisher juga memiliki perhitungan sendiri dalam memutuskan jangka waktu berinvestasi pada suatu saham. ”Biasanya saya akan berinvestasi di saham setidaknya antara enam sampai delapan bulan. Jika Anda pernah mengikuti perusahaan kecil untuk waktu yang lama, Anda mulai merasakannya dan mulai melihat ke mana tujuannya; Anda mulai melihat pola, seperti, 'Saat ini turun tapi biasanya saat turun orang membeli lebih banyak lagi.' Jadi saya akan sedikit bermain-main dengan saham saya,” ungkapnya, lantas tertawa.

Dia juga menyadari bahwa di luar sana ada banyak orang gagal dalam berinvestasi saham. Kehilangan banyak uang. Menurut dia, ada banyak alasan kenapa mereka menerima nasib nahas itu dan salah satu alasan terbesar adalah kurang menganalisa kondisi perusahaan yang sahamnya dia pilih untuk berinvestasi.

”Mungkin seorang teman yang akan memberi tahu mereka, 'Oh, Anda harus memeriksa perusahaan ini; Ini akan berlipat ganda nilainya selama tahun depan. Ini sangat bagus.’ Lalu orang yang diberi tahu mungkin hanya mencarinya di Google dan beli saham tanpa melakukan penelitian,” imbuhnya.

Alasan besar lainnya adalah orang akan melakukan penelitian dan menganggapnya sebagai perusahaan yang hebat. Tapi jika harga sahamnya turun 5 persen sampai 6 persen kemudian muncul ucapan “Oh tidak,” dan mereka akan menjual dan kehilangan saham mereka tapi padahal harga sahamnya kemudian naik 50 persen.

”Saya pikir orang harus bertahan kecuali terjadi perubahan drastis. Harga saham akan naik turun. Mereka berfluktuasi. Itu seharusnya tidak membuat Anda keluar dari saham,” sarannya.

Cara Ampuh

Fleisher punya cara ampuh untuk mengetahui kondisi sesungguhnya dari sebuah perusahaan yang sahamnya dia perhatikan. Yaitu dengan cara mewawancarai direksi atau eksekutif di perusahaan tersebut.

Cara itu sangat mungkin dia lakukan. Sebab, sejak awal menekuni pasar saham, Fleisher menjalankan sebuah situs yang disebut The Financial Bulls. Itu adalah situs web dan buletin yang memungkinkan investor berpengalaman mempelajari pasar saham secara gratis.

Dia dinilai mampu membangun begitu banyak pengaruh sehingga CEO perusahaan mapan menerima telepon dari Fleisher.

Baca Lagi : Bijak dan Cerdiknya Warren Buffet ini Perlu Dijadikan Inspirasi

”Jelas saya tidak bisa memanggil CEO Apple tapi dengan perusahaan kecil saya merasa mereka lebih mudah diakses dan jika mereka memberi Anda kesempatan untuk menghubungi mereka maka itu alat yang sangat bagus,” tuturnya.

Meskipun tidak mungkin memaparkan seutuhnya, menurut dia, setidaknya melalui akses itu bisa didapatkan informasi yang belum ada di informasi publik.

”Jika Anda pikir mereka benar-benar baik, Anda bisa memberi mereka semacam wawancara kerja dan bertanya kepada mereka, 'Bisakah Anda membawa perusahaan ke arah yang baru?' - mengujinya dengan cara yang sama. Anda juga bisa mengajukan pertanyaan yang tidak Anda yakini 100 persen,” sarannya.

Sebab penting baginya mengetahui kondisi perusahaan yang sahamnya dibeli sebagai langkah bijak saat mengeluarkan uang dalam berinvestasi.

Foto : Youtube/Repro

Other Articles


Copyright @ 2016 Investasiku.co.id, All Rights Reserved