www.trimegah.com

Investasi Saham Untuk Biaya Kesehatan Anak

Presenter yang akrab disapa Farhan itu nabung saham secara jangka panjang dimulai pada 1996. Saham pertamanya PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM). Belakangan semakin terasa ternyata sangat bermanfaat untuk biaya kesehatan anak.



Mengenal Produk Investasi

Begini Perjalanan Pasar Saham pada Semester I 2017

30-Jun-2017 08:26:35 WIB | Online | Share
Begini Perjalanan Pasar Saham pada Semester I 2017

Investasiku.co.id – Mulai pekan depan (03/07) aktivitas di pasar modal aktif lagi pasca libur lebih dari sepekan dalam rangka Lebaran. Rehat jelang hari raya Idul Fitri kemarin juga sekaligus menutup perjalanan pasar saham pada semester I 2017.

Sebelum memasuki semester II, yuk kita review lagi secara umum seperti apa pergerakan pasar saham, terutama di Indonesia, sepanjang separo pertama pada tahun Ayam Api menurut kalender Tionghoa ini.

Indeks harga saham gabungan (IHSG) yang merupakan indeks utama pasar saham Indonesia ditutup naik 11,156 poin (0,192 persen) ke level 5.829,708 pada 22 Juni 2017.

Baca : Mengenal Market Cap dan IHSG Sebagai Indikator

Kenaikan pada penutupan pada sehari jelang cuti bersama dalam rangka hari raya Idul Fitri itu mencatatkan rekor tertinggi baru yang pernah dicapai IHSG. Atas kenaikan itu, IHSG secara year to date atau sepanjang semester I sejak memulai perjalanan pada awal Januari 2017 sampai 22 Juni 2017 sudah menguat 10,06 persen.

Boleh disimpulkan bahwa secara rata-rata, return alias imbal hasil investasi di pasar saham selama setengah tahun ini sudah mencapai sebesar 10,06 persen itu. Angka pertumbuhan pasar saham Indonesia relatif positif meskipun beberapa bursa saham lain di dunia mencatatkan pertumbuhan lebih positif.

Kenaikan tertinggi sepanjang periode yang sama itu diraih bursa saham India (17,43 persen) diikuti bursa saham Korea Selatan (16,97 persen), bursa saham Hong Kong (16,70 persen), bursa saham Filipina (14,88 persen), dan bursa saham Singapura (11,62 persen). Selebihnya, meski rata-rata positif, kenaikannya di bawah bursa saham Indonesia.

Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat, sejalan dengan kenaikan IHSG, nilai kapitalisasi pasar saham (market cap) juga menembus rekor tertingginya sepanjang masa setelah berhasil ditutup di posisi Rp 6.373 triliun pada 22 Juni 2017. Market cap sudah menguat 8,46 persen bila dibandingkan dengan posisi kapitalisasi pasar BEI pada akhir 2016 yang saat itu sebesar Rp 5.754 triliun.

“Impian saya yang belum tercapai adalah mempunyai kapitalisasi pasar yang lebih besar dari total aset perbankan. Total aset perbankan itu Rp 6.750 triliun, itu yang pengen kita capai,” ucap Direktur Utama BEI Tito Sulistio, di gedung BEI (21/06).

Saat ini, menurutnya, dengan nilai market cap mendekati Rp 6.500 triliun pada asumsi kurs seperti sekarang maka pasar saham Indonesia ada di posisi kedua terbesar di bawah Singapura di Asean. ”Singapura itu USD 600 miliar. Kenapa? Karena ada 250 perusahaan Tiongkok yang listing di sana. Lokalnya saja sebetulnya nggak besar,” ungkapnya.

Kenapa perusahaan Tiongkok masih enggan mencatatkan sahamnya di Indonesia? Kata Tito, karena ada dua hal. Pertama, Perusahaan yang boleh listing di Indonesia adalah Perseroan Terbatas (PT). Harus berbadan hukum Indonesia.

Harmonisasi peraturan terkait faktor pertama itu sendiri cukup panjang. “Kalau perusahan Indonesia mau ke Singapura bisa, karena ada perbedaan sistem hukum. Mereka ke kita nggak bisa karena sudah disebut yang bisa listing itu PT, perseroan terbatas, di Undang Undang (UU)nya,” terangnya.

Jika kebijakan UU terkait PT itu ingin diganti maka rentetannya panjang. UU pasar modal akan kena, UU Tenaga Kerja juga kena, dan peraturan terkait lainnya. “Kalau orang asing ke Indonesia, kami sudah punya yang namanya IDR (Indonesian Depository Receipt). Bagaimana caranya? Sahamnya itu dimasukkan satu PT di Indonesia kemudian PT Indonesia itu yang listed. Sudah ada, tapi nggak ada yang mau, karena sulit,” tuturnya.

Faktor kedua, market di Indonesia masih relatif kecil. Di Amerika Serikat (AS), misalnya, kata dia, market lebih besar sehingga jadi pilihan perusahaan multinasional. “Jadi kita harus perbesar pasar kita dulu di sini,” tegasnya.

Saham Naik pada Semester Pertama

Sepanjang semester I 2017, data BEI mencatat sebanyak 286 saham berhasil menguat dengan persentase kenaikan antara 1.314,29 persen hingga 0,26 persen. Bayangkan, dalam tempo tidak genap selama 6 bulan ada saham yang mampu menguat sebesar lebih dari 1.300 persen!

Sementara itu, sebanyak 62 saham harganya masih berada di posisi yang sama dengan akhir tahun 2016 alias stagnan. Sebaliknya, tercatat sebanyak 209 saham mengalami koreksi harga dengan rentang antara minus 0,47 persen hingga minus 87,68 persen.

Perhitungan dilakukan BEI itu setelah adanya penyesuaian harga jika perusahaan tercatat melakukan aksi korporasi di BEI sepanjang semester I tahun ini. Misalnya jika ada perusahaan tercatat (emiten) melakukan stock split, reverse stock, atau aksi korporasi lainnya yang bisa memengaruhi harga saham.

Baca Lagi : Nilai Saham kok Bisa Diperkecil dan Diperbesar?

Dengan fakta itu maka mayoritas saham emiten di Indonesia mencatatkan kinerja positif pada separo pertama 2017.

Gairah di pasar saham sedang terlihat meningkat seperti tercermin pada pekan-pekan akhir jelang libur Lebaran. Pada sepanjang pekan kemarin sebelum liburan, misalnya, BEI diramaikan dengan pencatatan perdana saham dari sebanyak 7 emiten baru.

Bahkan juga tercipta rekor karena terdapat 4 saham dicatatkan dan diperdagangkan secara perdana pada hari yang sama yaitu pada Rabu (21/06). Mereka adalah saham PT Hartadinata Abadi Tbk, PT MAP Boga Adiperkasa Tbk, PT Integra Indocabinet Tbk, dan PT Armidian Karyatama Tbk.

Sehari kemudian dua saham emiten baru menyusul yaitu PT Buyung Poetra Sembada Tbk dan PT Marga Abhinaya Abadi Tbk.

Secara total sepanjang setengah tahun ini BEI sudah kedatangan 18 saham emiten baru. Jika dihitung secara total, jumlah saham listing di BEI saat ini sebanyak 553 saham emiten.

Pencatatan Surat Utang

Pada sepanjang semester I 2017, BEI juga mencatat cukup ramainya penerbitan emisi surat utang (obligasi) dan sukuk. Sepanjang pekan akhir pada periode itu saja terdapat penerbitan tiga obligasi korporasi sehingga secara total sebanyak 325 emisi tercatat (outstanding) di BEI.

Dari seluruhnya, nilai nominal outstanding obligasi korporasi tercatat sebesar Rp 336,25 triliun dan USD67,5 juta yang diterbitkan oleh 108 emiten. Surat Berharga Negara (SBN) tercatat di BEI berjumlah 95 seri dengan nilai nominal Rp1.943,03 triliun dan USD 200 juta serta 8 emisi Efek Beragun Aset senilai Rp3,55 triliun.

Simak juga : Sentimen untuk Investasi Semakin Kondusif

Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Samsul Hidayat, mengatakan sentiment investasi pada semester II semestinya lebih positif. Sebab kenaikan IHSG dan gairah pasar yang terjadi sejauh ini tidak terlepas dari fundamental emiten yang terus membaik.

“Fundamental emiten positif tidak terlepas dari ekonomi dalam negeri yang juga positif,” terangnya. Samsul melihat tidak ada hal negatif dari fundamental ekonomi Indonesia saat ini. Rating sudah membaik dan yang terbaru, Fitch Ratings juga berpotensi menaikkan peringkat kredit Indonesia. “Momentum itu yang dimanfaatkan investor,” tuturnya.

Other Articles


Copyright @ 2016 Investasiku.co.id, All Rights Reserved