www.trimegah.com

Investasi Saham Untuk Biaya Kesehatan Anak

Presenter yang akrab disapa Farhan itu nabung saham secara jangka panjang dimulai pada 1996. Saham pertamanya PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM). Belakangan semakin terasa ternyata sangat bermanfaat untuk biaya kesehatan anak.



Mengenal Produk Investasi

Begini Pasar Modal Indonesia Sebelum Seaktif dan Sebesar Sekarang

13-Apr-2017 13:21:52 WIB | Online | Share
Begini Pasar Modal Indonesia Sebelum Seaktif dan Sebesar Sekarang

Investasiku.co.id – Pekan lalu, jumlah perusahaan yang sahamnya tercatat (emiten) di Bursa Efek Indonesia (BEI) bertambah lagi menjadi total sebanyak 541. Sedikit bercerita sejarah, pasar saham Indonesia dimulai dengan hanya 1 emiten pada 1977.

Emiten yang sementara ini berstatus “bungsu” adalah PT Industri dan Perdagangan Bintraco Dharma Tbk dengan kode saham CARS. Perusahaan melakukan penawaran saham perdana ke publik (Initial Public Offering/IPO) dan meraih dana segar Rp 260 miliar kemudian sahamnya resmi tercatat di BEI pada Senin (10 April 2017).

Saham CARS menjadi saham emiten ke 541 yang kini tercatat dan masuk dalam perhitungan Indeks harga saham gabungan (IHSG). Masih ada banyak lagi yang segera menyusul karena BEI menargetkan sebanyak 35 emiten baru bisa melantai di bursa.

Baca : IHSG dan Market Cap Sebagai Indikator di Pasar Saham

Sedikit melihat sejarah, dari data BEI, emiten pertama dan satu-satunya tercatat pada 1977. Yaitu saham PT Semen Cibinong yang kini menjadi PT Holcim Indonesia Tbk dengan kode saham (ticker) SMCB sebagai saham pertama tercatat di Bursa Efek Jakarta (BEJ).

Baca Juga : Mengenal SRO di Pasar Modal

Nilai kapitalisasi pasar saham (market cap) saat itu sebesar Rp 2,73 miliar dan IHSG ada di level 98,000. Lumayan, saham SMCB di tahun pertama rata-rata ditransaksikan sebanyak 149 lembar saham atau senilai Rp 1.546.245 secara rata-rata transaksi harian. Jumlah saham yang dicatatkan sebanyak 260.260 lembar.

Tahun 1978, SMCB masih sendiri. Tapi jumlah saham sudah bertambah menjadi 330.260 lembar sehingga market cap naik menjadi Rp 4,050 miliar. IHSG sendiri levelnya meningkat ke 114,990.

Pertumbuhan pasar modal Indonesia tidak terlepas dari kebijakan pemerintah saat itu. Pada era Orde Baru kebijakan ekonomi tidak lagi melancarkan konfrontasi terhadap modal asing. Pemerintah lebih terbuka terhadap modal luar negeri guna pembangunan eknomi yang berkelanjutan.

Merujuk buku Effectengids yang dikeluarkan Vereneging voor den Effectenhandel seperti dikutip dari Wikipedia, pemerintah mengeluarkan Keputusan Presiden No. 52 Tahun 1976 tentang pendirian Pasar Modal, membentuk Badan Pembina Pasar Modal, serta membentuk Badan Pelaksana Pasar Modal (BAPEPAM).

Kemudian Peraturan Pemerintah No.25 Tahun 1976 tentang penetapan PT Danareksa sebagai BUMN pertama yang melakukan go public dengan penyertaan modal negara Republik Indonesia sebanyak Rp 50 miliar. Yang ketiga adalah memberikan keringan perpajakan kepada perusahaan yang go public dan kepada pembeli saham atau bukti penyertaan modal.

Pemerintah melakukan deregulasi pada periode awal 1987 yang membuat gairah di pasar modal kembali meningkat. Deregulasi itu pada intinya adalah melakukan penyederhanaan dan merangsang minat perusahaan untuk masuk ke bursa serta menyediakan kemudahan – kemudahan bagi investor.

Kebijakan itu dikenal dengan tiga paket yakni Paket Kebijaksanaan Desember 1987, Paket Kebijaksanaan Oktober 1988, dan Paket Kebijaksanaan Desember 1988.

Paket Kebijaksanaan Desember 1987 atau yang lebih dikenal dengan Pakdes 1987 merupakan penyederhanaan persyaratan proses emisi saham dan obligasi, dihapuskannya biaya yang sebelumnya dipungut oleh Bapepam LK (Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan yang kini menjadi Otoritas Jasa Keuangan / OJK), seperti biaya pendaftaran emisi efek.

Kebijakan itu juga menghapus batasan fluktuasi harga saham di bursa efek dan memperkenalkan bursa paralel. Sebagai pilihan bagi emiten yang belum memenuhi syarat untuk memasuki bursa efek.

Kemudian Paket Kebijaksanaan Oktober 1988 atau disingkat Pakto 88 ditujukan pada sektor perbankkan, namun mempunyai dampak terhadap perkembangan pasar modal. Pakto 88 berisikan tentang ketentuan 3 L (Legal, Lending, Limit), dan pengenaan pajak atas bunga deposito. Pengenaan pajak ini berdampak positif terhadap perkembangan pasar modal. Sebab dengan keluarnya kebijaksanaan ini berarti pemerintah memberi perlakuan yang sama antara sektor perbankan dan sektor pasar modal.

Ketiga adalah Paket Kebijaksanaan Desember 1988 atau Pakdes 88 yang pada dasarnya memberikan dorongan yang lebih jauh pada pasar modal dengan membuka peluang bagi swasta untuk menyelenggarakan bursa.Hal ini memudahkan investor yang berada di luar Jakarta.

Di samping ketiga paket kebijakan ini terdapat pula peraturan mengenai dibukanya izin bagi investor asing untuk membeli saham di bursa Indonesia yang dituangkan dalam Keputusan Menteri Keuangan No. 1055/KMK.013/1989. Investor asing diberikan kesempatan untuk memiliki saham sampai batas maksimum 49 persen di pasar perdana maupun 49 persen saham yang tercatat di bursa efek dan bursa paralel.

Setelah itu disusul dengan dikeluarkannya Keputusan Menteri Keuangan No. 1548/KMK.013/1990 yang diubah lagi dengan Keputusan Menteri Keuangan No. 1199/KMK.010/1991. Dalam keputusan ini dijelaskan bahwa tugas Bapepam yang semula juga bertindak sebagai penyelenggara bursa kemudian hanya menjadi badan regulator.

Selain itu pemerintah juga membentuk lembaga baru seperti Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), Kliring dan Penjaminan Efek Indonesia (KPEI), reksadana, serta manajer Investasi.

Dari latar belakang itu tidak heran jika pada 1990, jumlah emiten melesat pesat menjadi 123 perusahaan. Jauh dibandingkan 56 emiten pada 1989. Terlebih lagi jika dibandingkan sebanyak 24 emiten sampai tahun 1988.

Industri pasar modal menyepakati bahwa tahun 1977 merupakan tahun diaktifkannya kembali pasar modal Indonesia. Maka sampai Agustus 2016 lalu usia pasar modal Indonesia memasuki 39 tahun.

Disebut diaktifkan kembali karena latar belakang sejarah yang cukup panjang. Sejak zaman pendudukan Belanda.

Amsterdamse Effectenbueurs mendirikan cabang bursa yang terletak di Batavia (Jakarta) pada tanggal 14 Desember 1912. Pihak penyelenggara adalah Vereniging voor de Effectenhandel dan langsung memulai perdagangan.

Di tingkat Asia, bursa Batavia disebut-sebut merupakan yang keempat tertua terbentuk setelah Bombay (1830), Hong Kong (1847), dan Tokyo (1878). Pada saat awal terdapat 13 anggota bursa (broker) yang aktif yaitu : Fa Dunlop & Kolf, Fa Gijselman & Steup, Fa Monod & Co., Fa Adree Witansi & Co., Fa A.W. Deeleman, Fa H. Jul Joostensz, Fa Jeannette Walen, Fa Wiekert & V.D. Linden, Fa Walbrink & Co, Wieckert & V.D. Linden, Fa Vermeys & Co, Fa Cruyff, dan Fa Gebroeders.

Pada awalnya bursa itu memerjualbelikan saham dan obligasi perusahaan perkebunan Belanda yang beroperasi di Indonesia, obligasi yang diterbitkan pemerintah (provinsi dan kotapraja), sertifikat saham perusahaan-perusahaan Amerika yang diterbitkan oleh kantor administrasi di negeri Belanda serta efek perusahaan Belanda lainnya.

Meskipun pada tahun 1914 bursa di Batavia sempat ditutup karena adanya Perang Dunia I namun dibuka kembali pada tahun 1918. Perkembangan pasar modal di Batavia kian pesat sehingga menarik masyarakat kota lainnya.

Untuk menampung minat tersebut, pada 11 Januari 1925 di kota Surabaya dan 1 Agustus 1925 di Semarang resmi didirikan bursa.

Kini, sejak diaktifkannya kembali, pasar modal Indonesia sudah mengalami banyak perkembangan. Per Februari 2017 tercatat nilai rata-rata transaksi saham secara harian sebesar Rp 7,54 triliun. Bukan bandingan tentu saja jika melihat rata-rata nilai transaksi saham secara harian sebesar Rp 1.562.245 pada 1977.

Sekadar menjadi bukti bahwa pasar modal Indonesia terus tumbuh. Padahal jumlah investornya masih sangat sedikit jika dibandingkan jumlah penduduk negara ini.

Simak saja : Ini Sumbangan Pasar Modal Terhadap Negara dan Masyarakat

Maka itu jadi peluang untuk kita segera memulai investasi. Mumpung masih sedikit, kita bisa jadi bagian dari pertumbuhan pasar modal itu sendiri. Terlebih pasar modal sekarang sudah semakin canggih, mudah, dan nyaman.

Kemajuan teknologi membuat sistem transaksi di pasar saham semakin cepat dan gampang. Ada reksa dana online, sampai platform perdagangan surat utang secara elektronik.

Baca : Awal April Jual Beli Surat Utang Sudah Online

Direktur Utama BEI, Tito Sulistio, berharap nilai market cap bisa mencapai Rp 6.500 triliun pada 2017. Sampai Rabu (12/04) nilai market cap pasar saham Indonesia tercatat sebesar Rp 6.143 triliun. ”Frekuensi transaksi saham (rata-rata harian) kita penginnya di atas 350 ribu per hari untuk target. Jadi likuiditas dan pasarnya besar. Dengan begitu indeks (IHSG)nya bisa naik,” harapnya saat ditemui di gedung BEI (04/04).

Other Articles


Copyright @ 2016 Investasiku.co.id, All Rights Reserved