www.trimegah.com

Investasi Saham Untuk Biaya Kesehatan Anak

Presenter yang akrab disapa Farhan itu nabung saham secara jangka panjang dimulai pada 1996. Saham pertamanya PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM). Belakangan semakin terasa ternyata sangat bermanfaat untuk biaya kesehatan anak.



Memahami Risiko

Batas Minimal Saham Beredar dan Saham Gorengan

9-Feb-2017 10:53:21 WIB | Online | Share
Batas Minimal Saham Beredar dan Saham Gorengan

investasiku.co.id - Regulator pasar modal tegas mengatur jumlah saham minimal beredar di publik (free float). Payung hukumnya terutama Peraturan Bursa Efek Indonesia (BEI) nomor IA tentang Pencatatan Saham dan Efek Bersifat Ekuitas Selain Saham yang Diterbitkan Oleh Perusahaan Tercatat.

Dalam aturan tersebut, free float setiap emiten alias perusahaan yang listing di bursa harus minimal 7,5 persen (dari total saham disetor dan dicatatkan) dan minimal 50 juta saham serta dimiliki minimal 300 pihak di luar dari pihak pengendali dan pemilik perusahaan.

Semestinya, per Januari 2016, semua emiten sudah memenuhi aturan itu. Namun sampai 6 Februari 2017 BEI mencatat masih ada 9 perusahaan yang belum melaksanakannya.

Lima dari sembilan saham emiten yang belum memenuhi ketentuan batas minimum kepemilikan saham oleh publik itu bahkan disuspensi (dihentikan aktivitas perdagangannya) oleh bursa. Sedangkan empat lainnya tidak dikenakan sanksi tersebut karena sudah menyatakan komitmen segera memenuhi aturan free float paling lambat Juni 2017.

Sudah jauh berkurang sebenarnya jika dibandingkan ketika kali pertama BEI melakukan penyisiran pada 2014. Ketika itu, diketahui 60 emiten sahamnya tidak dimiliki oleh publik dalam jumlah minimum seperti diatur tersebut.

Sebenarnya, untuk apa sih jumlah saham minimal beredar di publik itu diatur? Pada intinya, sebenarnya ada dua. Untuk kepentingan investor dalam rangka penyebaran kepemilikan lebih banyak dan agar lebih aktif ditransaksikan secara wajar.

Dalam konteks demi penyebaran kepemilikan dan membuka kesempatan lebih luas kepada publik untuk memiliki sebuah saham emiten, hal itu sebenarnya sudah jelas.

Sudah otomatis lah bahwa jika saham beredar semakin banyak maka kesempatan bagi publik untuk memiliki semakin terbuka.

Nah! Lalu, apa kaitannya dengan aktivitas transaksi saham dan dalam rangka pembentukan harga yang wajar? Ada kaitannya dengan yang dimaksud “saham gorengan” atak kegiatan “menggoreng saham”? jawabannya, ada!

Jika saham suatu emiten hanya dimiliki oleh segelintir orang, potensi untuk “kongkalikong” antar pemilik saham yang jumlahnya sedikit itu sangat terbuka.

Mereka bisa bersepakat untuk membentuk harga saham suatu emiten melalui mekanisme perdagangan di pasar reguler. Misalnya, menggoreng dalam rangka menaikkan harga saham baik dalam rangka terdapat informasi tertentu maupun tanpa ada informasi apapun.

Biasanya sih tidak ada informasi apa-apa. Kalau pun ada, sifatnya rumor dan bisa jadi rumor itu juga mereka sendiri yang membuatnya.

Tujuannya, menarik minat investor lain di luar dari para pihak yang bersepakat itu. Ketika semakin banyak permintaan saham dimaksud dan pada harga yang sesuai dengan keinginan para pihak yang bersepakat, mereka akan kompak menjual. Cuan! Untung lah mereka. Rugi lah para pembeli itu.

Maka di peraturan BEI tentang free float itu, batasan minimum yaitu 7,5 persen minimal saham beredar dan 50 juta dan 300 pihak di luar dari pengendali merupakan satu kesatuan. Ketiganya harus terpenuhi.

Dengan begitu, sulit untuk para tukang goreng saham membuat pengaruh. Kalau pun nekad, silakan saja hubungi ratusan orang itu lalu buat kesepakatan. Rasanya sih sangat sulit ya.

Other Articles


Copyright @ 2016 Investasiku.co.id, All Rights Reserved