www.trimegah.com

Investasi Saham Untuk Biaya Kesehatan Anak

Presenter yang akrab disapa Farhan itu nabung saham secara jangka panjang dimulai pada 1996. Saham pertamanya PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM). Belakangan semakin terasa ternyata sangat bermanfaat untuk biaya kesehatan anak.



Merencanakan Masa Depan

Baru Kerja tapi Kepikiran Beli Rumah? Ayo Investasi

12-Aug-2017 23:16:41 WIB | Online | Share
Baru Kerja tapi Kepikiran Beli Rumah? Ayo Investasi

“Baru dapet gaji pertama nih. Enaknya sebagian gaji disisihkan buat rencana beli rumah atau investasi aja ya?”

Ini sih problematik klasik mereka yang baru kerja. Tapi tetap bersyukur dong. Minimal sudah berpikir bijak. Bepikir jauh ke depan dan sudah punya rencana finansial yang tepat, yakni beli rumah atau tanamkan uang di instrumen investasi terlebih dahulu.

Jarang-jarang lho yang sudah punya tujuan pasti. Maklum, sisihkan duit untuk masa depan dengan menekan gaya hidup konsumtif memang berat. Karena itu sama saja artinya memaksa diri untuk hidup irit kalau nggak mau disebut serba pelit!


Sebenarnya beli rumah pun bagian dari rencana investasi. Hanya, tahu sendiri harga rumah berapa. Paling banter adalah mencicil lewat kredit bank. Itu pun mesti siapkan dana untuk uang muka (Down Payment/DP)nya.

Lebih bijak bila memilih rumah sebagai tujuan utama finansial dengan memanfaatkan instrumen investasi sebagai strateginya. Sebagai contoh adalah mengejar rumah impian seharga Rp 300 juta. Nah, biar bisa kredit maka siapkan dulu dana Rp 90 juta untuk uang muka.

Sekarang fokus pada uang mukanya. Kalau menabung selama lima tahun maka duit yang wajib disisihkan tiap bulan adalah Rp 1,5 juta. Buat yang fresh graduate dan baru kerja, duit itu gede banget kan.

Nah di sinilah perlunya berkenalan dengan investasi. Di luar sana banyak pilihan investasi yang bisa disesuaikan dengan tujuan finansial. Katakanlah tujuannya adalah menggenapkan uang muka rumah sebesar Rp 90 juta selama lima tahun.

Sebenarnya menabung pun bisa untuk sekadar mengumpulkan uang agar cukup sebagai DP rumah. Tapi, ingat, harga rumah terus naik. Jangan-jangan ketika terkumpul uang sebesar Rp 90 juta untuk DP itu, harga rumahnya sudah jauh lebih mahal. Nah! Tetap nggak cukup kan?

Ok, paling tepat, kita pilih investasi. Konkretnya memilih instrumen reksa dana. Produk investasi ini memang paling tepat untuk memulai investasi di reksa dana. Silakan saja dipilih entah itu jenis reksa dana pasar uang, reksa dana pendapatan tetap, reksa dana campuran, atau reksa dana saham.

Asumsi kan saja return dari investasi itu 10 persen per tahun. Walaupun tidak pasti, tapi rata-rata bisa sebesar itu secara jangka panjang. Tahun 2016 gambarannya seperti ini.

Dengan asumsi return alias keuntungan rata-rata sebesar 10 persen per tahun maka uang yang mesti disisihkan jatuh di angka Rp 1,1 juta per bulan.


Jadi, berinvestasi di reksa dana membuat beban untuk menyisihkan dana tiap bulan menjadi lebih kecil ketimbang menabung biasa. Bila menabung biasa butuh Rp 1,5 juta, tapi berinvestasi hanya Rp 1,1 juta. Lebih hemat Rp 400 ribu bisa dipakai untuk kebutuhan lain.

Kalau pun mampu menyisihkan sampai Rp 1,5 juta per bulan, sisa Rp 400 ribu itu bisa ditanamkan lagi di instrumen investasi. Di produk yang sama atau produk lainnya. Bisa saling menunjang dan melengkapi.

Sehingga, target untuk mendapatkan uang muka Rp 90 juta itu sebenarnya nggak perlu waktu lima tahun, tapi bisa dipersingkat lagi.

Mengenai pilihan spesifik produk reksa dana apa yang sesuai, silakan konsultasi dengan penasihat keuangan atau agen pemasaran produk reksa dana. Yang pasti, berlaku prinsip high risk high return.

Baca Juga : Reksa Dana Saham Juara Semester Pertama 2017

Instrument investasi saham adalah yang paling berisiko meskipun keuntungan ditawarkan paling tinggi. Kalau mau sedikit aman bisa pilih reksa dana pendapatan tetap yang berbasis produk surat utang. Hanya saja keuntungannya tidak setinggi saham.

Pahami Reksa Dana Lagi di Sini

Jadi sudah kebayang kan kalau sebenarnya saat baru dapat kerja itu jangan terlalu galau mikir enaknya duit buat beli rumah atau investasi. Lebih enak kalau menggabungkan keduanya.

Menjadikan memiliki rumah idaman sebagai tujuan. Sedangkan berinvestasi sebagai jalan untuk mencapai tujuan itu.

Seperti ajaran bijaknya Warren Buffet, berinvestasi justru tidak harus menunggu kaya raya. Harus dimulai sedini mungkin agar bisa kaya raya di kemudian hari.

Other Articles


Copyright @ 2016 Investasiku.co.id, All Rights Reserved